Sejarah Perdikan SEWULAN Madiun


Sejarah Perdikan Sewulan dan Riwayat Singkat  Kyai Ageng Basyariyyah

( R.Mas Bagus Harun Bangsa Harya )

( Pendiri Perdikan SEWULAN – Dagangan – Madiun )

Di susun oleh : Drs. Muh  Baidowi Sewulan-Dagangan-Madiun- Jawa  Timur -Indonesia

I. MATARAM PADA MASA KI AGENG PEMANAHAN

Mataram  pada awalnya masih termasuk wilayah Pajang, wilayah tersebut merupakan hadiah dari Sultan Hadi Wijaya (1550-1582) kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasa-jasanya terhadap Pajang setelah berhasil menumpas perlawanan  Arya Penangsang Adipati Jipang  (Perang perebutan Mahkota Demak).

Perkembangan Mataram setelah menjadi daerah Perdikan mendapat tanggapan pro dan kontra dari penguasa sekitar seperti Ki Ageng Karang Lo, yang menerima kehadiran Mataram. Tetapi, seperti Ki Ageng Giring (yang keturunannya terkenal dengan Wangsa Kajoran), Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Tembayat, menentang kekuasaan Mataram.

Ki Ageng Pemanahan membangun pusat pemerintahannya di Plered, dan untuk memperkuat pengaruhnya, maka penguasa di sekitarnya ditaklukkan.

Pada tahun 1575 Kyai Ageng Pemanahan wafat dan di gantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar.

         

II.  MATARAM DI BAWAH SUTA WIJAYA

 (1582-1601)

          Pangeran Ngabehi Loring Pasar (Panembahan Senopati Sutawijaya) setelah  diangkat oleh Sultan Pajang sebagai petinggi Mataram, meneruskan pembangunan wilayahnya dalam bidang   politik dan memperkuat kekuasan seperti Ayahandanya. Daerah kekuasaan Mataram pun semakin luas setelah Kedu dan Bagelan (nama daerah) mengakui kekuasaan Mataram, bahkan perlawanan yang dilakukan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring dapat di tundukkan.

Hubungan antara Pajang dan Mataram semakin tidak mesra setelah Sutawijaya selama 3 tahun tidak mau menghadap ke Pajang sehingga Mataram  dianggap membangkang oleh Sultan Pajang, sehingga Pajang pun menyerbu Mataram. Dalam pertempuran tersebut, Pajang tidak dapat menundukkan Mataram, bahkan Mataramlah yang menang. Sultan Hadi Wijaya lolos dan memperdalam imunya di wilayah Bang Wetan (Jawa Timur).

Dengan kemenangan di pihak Mataram, maka pada tahun  1582, Sutawijaya menobatkan dirinya menjadi Raja Mataram dengan sebutan Panembahan Senopati  Ing Ngalaga Abdurrahman Khalifatullah Sayyidin Panetep Gama.

Setelah runtuhnya Pajang, maka Mataram memindah pusat pemerintahannya ke Kota Gede, dan dari sinilah “Ekspansi Militer” dilakukan untuk memperluas daerah kekuasaannya. Hal ini dilakukan karena di daerah pesisir menyatakan merdeka dan bebas dari kekuasaan Mataram.

Pada tahun 1589 Mataram menyerbu Surabaya, namun tidak berhasil menundukkannya, demikian juga dengan Madiun di bawah kekuasaan Adipati Purbaya yang masih Putra Sultan Demak. Karena Adipati Madiun tidak mengakui kekuasaan Mataram yang akhirnya mengadakan persekutuan dengan Adipati Demak dan Adipati Surabaya pada tahun 1590.

Pada awalnya pasukan Mataram dapat dikalahkan, tapi dengan siasat yang di susun oleh Ki Juru Mertani yang jitu, dengan mengirimkan Putri Panembahan Senopati Sutawijaya untuk datang sebagai Duta, yang seakan-akan Mataram mengakui kekuasaan Madiun, bahkan Sang Putri di angkat sebagai istri oleh Adipati Purbaya. Sehingga mengakibatkan lemahnya perhatian terhadap penyerangan ke Mataram. Kelemahan tersebut di manfaatkan oleh Mataram  untuk menyerbu Madiun. Dalam penyerbuan tersebut, Madiun di pertahankan mati-matian oleh para prajurit dan Senopati Madiun yang dipimpin oleh R. Ayu Retno Djumilah dengan bekal pusaka dari Ayahandanya yaitu Kala Gumarang (yang kemudian terkenal dengan sebutan Tundhung Madiun).

Saat R. A. Retno Djumilah berhadapan langsung dengan Panembahan Senopati Sutawijaya, Sutawijaya tak mau melayani tantangan perang tanding dari R. A. Retno Djumilah,malah beliau mengajak menghentikan peperangan, dan dangan kemampuan diplomasi yang dilambari ilmu pengasihan, R.A Retno Djumilah pun akhirnya takluk, di boyong ke Mataram dan dijadikan  permaisuri.

Selama Panembahan Senopati Sutawijaya memerintah Mataram, beliau menghabiskan waktunya untuk mamperluas wilayah dengan mengadakan penaklukan-penaklukan.Pada tahun 1591, Kediri dan Jipang pun dapat ditaklukkannya. Di tahun 1598-1599 Mataram juga mengadakan penyerbuan ke Pasuruan, Tuban Pati, Demak, Kudus dan Jepara.

Akhirnya pada tahun 1601, Panembahan Senopati Sutawijaya wafat dan dimakamkan  di Imogiri .

ІІІ. MATARAM DI BAWAH R. MAS JOLANG

 (1601-1613)

 

          Setelah Panembahan  Senopati  Sutawijaya   wafat, tahta Mataram  pun   di    gantikan    oleh    Raden    Mas    Jolang,   (Panembahan   Krapyak),  dan   Ekspensi   yang   di

lakukan Ayahandanya pun dilanjutkannya. Pada masa Pemerintahan itulah muncul pemberontakan dari kalangan kerabat beliau sendiri, yaitu pemberontakan yang didalangi oleh Pangeran Puger di Demak, dan Pangeran Jagaraga di Ponorogo, namun pemberontakan itu dapat di patahkan. Dan pada tahun 1608-1613, Mataram berusaha menaklukkan wilayah Bang Wetan seperti Surabaya, Pasuruan Lumajang, namun tidak berhasil. Bahkan R. Mas Jolang sendiri terbunuh dan dimakamkan di Pacet, Mojokerto (wilayah Gunung Walirang / Putuk Puyang).

IV.  MATARAM    DI BAWAH    R.   MAS   RANGSANG (1613-1645)

          Raden Mas Rangsang naik tahta tahun 1613 menggantikan Panembahan Krapyak (Senopati Ing Ngalogo Abdurrahman Khalifatulloh Panetep Gama), dengan gelar Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Ekspansi yang dilakukan oleh pendahulunya diteruskan oleh Sultan Agung, dengan daerah sasaran antara lain: Kediri, Malang, Pasuruan, Lumajang dan akhirnya  Surabaya pada tahun 1614. Adipati Pekik pun yang kala itu selaku Adipati Surabaya, tidak tinggal diam, dengan mengerahkan para penguasa pesisir antara lain: Kanjeng Tumenggung Kepulungan dari Pasuruan, Kanjeng Patih Jaya Saputra dari Tuban, Kanjeng Adipati Martanegara dari Sedayu, Adipati Pasagi, Pangeran Pekik Peperangan berlangsung seru, tapi akhirnya Mataram dapat dipukul mundur .

Pada tahun 1615, pasukan Mataram memusatkan pasukan di Wirasaba, setelah Wirasaba dapat ditaklukkan. Dan benteng Mataram dibangun di bekas kerajaan Majapahit, karena daerah ini sangat strategis untuk pusat komando ekspansi Mataram di wilayah timur, dan membuat kedudukan Surabaya semakin terancam, sehingga Pangeran Pekik menjalin persekutuan dengan para Adipati untuk menghadapi gencarnya laju serangan dari Mataram ,  antara lain: Adipati Tuban, Jepara, Pasuruan, Arasbaya, dan Sumenep. Dan pada tahun 1616, pertempuran antara Mataram dengan Surabaya yang dibantu sekutunya meletus di Siwalan, dan kekalahan Surabaya tak dapat terhindari saat Pajang memihak pada Mataram.

Pada tahun 1616-1619 ,Mataram menghancurkan kekuatan sekutu Surabaya, strategi Mataram ialah menghancurkan sekutu dimulai dari; Lasem, Tuban, Pasuruan. daerah-daerah pedalaman Surabaya pun tidak luput dari penyerangan Mataram mulai  tahun 1620 sampai tahun 1625. Perampasan hasil panen di lakukan untuk melumpuhkan Surabaya sebagai gudang perdagangan beras, bahkan sampai Sungai Brantas di bendung dan di alihkan alirannya oleh Mataram untuk melumpuhkan transportasi dan perekonomian Surbaya.

Pertahanan Surabaya yang kokoh pun terkoyak pada bulan Oktober 1625, dengan takluknya Surabaya ini, Pangeran Pekik beserta putranya , Ki Sanjaya dan Adipati Pajang dapat di tawan, pangeran pekik di tawan di kraton dan di kawinkan dengan saudara perempun Sultan Agung, yang bernama Ratu Pandan Sari sedang Ki Sanjaya dihukum mati, dan sementara Surabaya di serahkan kepada Tumenggung Sepanjang .

Setelah takluknya Surabaya pada tahun 1625-1628,  Sultan Agung tidak melakukan ekspansi militer lagi, melainkan  lebih konsentrasi pada pembangunan Mataram mulai bidang partanian, sosial dan ekonomi rakyatnya . Justru kala itu yang dianggap sebagai ancaman bagi Mataram  adalah Belanda yang membangun Pusat pertahanannya di Batavia.

Sultan Agung berkeinginan mengusir Belanda dari bumi nusantara yang berpusat di Batavia setelah Mataram berhasil membangun angkatan perangnya, dan penyerbuan ke Bataviai lancarkan pada tahun 1628 di pimpin oleh Tumenggung Baurekso dan Tumenggung Agul-Agul, di karenakan gugurnya Tumenggung Baurekso, Mataram akhir nya menarik mundur pasukannya.

Angkatan perang Mataram pada bulan Mei – Juni 1629 berangkat menyrbu belandayang di pimpin oleh Kanjeng Adipati Juminah, Kanjeng Adipati Purbaya, dan Kanjeng Adipati Puger dengan mengepung Batavia dari empat penjuru. Benteng Hollandia, bommel, dan Weesp pun diserbu , sayang tidak membuahkan hasil karna kalah persenjataan sehingga pasukan Mataram di tarik mundur. Namun Ekspensi Militer terus di lakukan Sultan Agung dengan tujuan wilayah timur seperti Blambangan di serang yang pada tahun 1639 baru dapat di kuasai, begitu juga Jawa, kecuali Banten dan Batavia ( Betawi ). sedang luar Jawa yang berhasil di kuasai Matarm adalah Palembang, Jambi dan Banjarmasin.

V. MATARAM DI BAWAH PANGERAN / AMANGKURAT I (1645-1675)

          Mataram di bawah Amangkurat I setelah naik tahta tahun 1645 sistem politik pengendalian pemerintahan sangat berbeda jauh berbeda dengan yang di lakukan oleh Sultan Agung, apalagi di Mataram sendiri terjadi pertentangan dari keluarga Raja, Kanjeng Adipati Purbaya yang masih saudara Sultan Agung menentang kebijaksanaan Raja yang di anggap kejam dan mengingkari tujuan luhur Sultan Angung untuk mengusir Belanda dari Ibu Pertiwi, bahkan Amangkurat I menjalin hubungan mesra dengan Belanda, hal ini mengakibatkan ketidak senangan kerabat Istana dan para Ulama’, sehingga pada tahun 1647 melancarkan pemberontakan, lebih dari 600 Ulama’ yang tidak menyetujui kebijaksanaan Sunan di hukum mati

Cucu Pangeran Krapyak (R. Mas Jolang) yang bergelar Panembahan Tepasana dan warga Kajoran melancarkan pemberontakan, begitu juga dari Bang Wetan pada tahun 1674 juga mengadakan pemberontakan dalam menghadapi perlawanan Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda, namun Kertosuro jatuh dan tak dapat di pertahankan karena mandapat serbuan dari Trunajaya, Amangkurat I melarikan diri dan akhirnya meninggal di Tegal Arum.

 

VI. MATARAM DI BAWAH AMANGKURAT II

 (1678-1703)

 

          Dengan bantuan Belanda, Trunajaya yang yang berhasil menduduki  Kertosuro  dapat diusir sehingga   Amangkurat  II

Dapat naik tahta, hal ini mengakibatkan Amangkurat II tergantung pada Belanda / VOC (Vereenigde Oostindnische Compagnie). Sepeninggalan Amangkurat I, di Mataram terjadi perang perebutan Mahkota di antara kerabat istana, Pangeran Puger dan Pangeran Singasari mengangkat diri menjadi Susuhunan yang mengakibatkan banyak  daerah yang melepaskan diri dari kekuasaan  mataram.

Menyadari ancaman terhadap Mataram yang posisinya semakin lemah terutama dari Trunajaya, Amangkurat II mengadakan perjanjian dengan VOC untuk melindungi Mataram, isi perjanjian itu antara lain;

  1. Untuk memerangi musuh-musuh Mataram yang di       lakukan oleh VOC , maka Mataram harus mengganti ongkos biaya perang.
  2. VOC bebas Bea masuk untuk menjual dagangannya.
  3. setiap tahun Mataram harus menyediakan beras 4.000 pikul untuk VOC dengan harga yang berlaku.

Dengan operasi Militer yang di lakukan pasukan Mataram dengan VOC , maka daerah Pati, Semarang dan Kudus dapat di rebut kembali, selanjutnya VOC mengadakan perjanjian kepada Sunan yang isinya ;

  1. Semua pelabuhan dari Kerawang sampi ujung Timur di kuasakan kepada VOC dan berhak mengambil

Hasilnya,

  1. Mataram hanya berkuasa atas daerah tersebut sebagai Gaduhan.
  2. Wilayah barat sampai Sungai Pemanukan meripakan wilayah VOC.
  3. Pesisir Utara (Semarang) di serahkan pada VOC

Trunajaya yang masih menguasai wilayah Timur mengadakan serangan pada Wilayah kekuasaan Mataram seperti Surabaya, Giri Gresik, Sedayu dan Tuban, namun dikarenakan ada perpecahan antara Trunajaya dan Kraeng Galengsong pemimpin Pasukan Makasar di Jawa, maka Surabaya dapat di gempur oleh Mataram. Akhirnya Trunajaya membangun pusat pertahanan di Kediri.

Pusat pertahanan Trunajaya di Kediri diserbu Mataram dengan di pimpin Antonie Hardt dan Tack, penyerbuan di llakukan lewat Madiun dan Ponorogo, Sehingga Trunojoyo memindah basis pertahanan di Gunung Kelud Blitar.

Tepatnya 27 Nopember 1678 Amangkurat II baru menerima Mahkota Mataram setelah di rebut oleh Trunajaya. Sementara Amangkurat II membenahi Kota Raja akibat peperangan, di lingkunganya juga terjadi perpecahan di antara kerabat Keraton , yaitu antara yang Pro Belanda dan yang Anti Belanda, Patih Nerangkusumo merupakan orang yang anti Belanda, Beliau berusaha menyadarkan Sunan terhadap hubungannya dengan Belanda, akhirnya Sunanpun menyadari kekeliruannya sehingga mengakibatkan kerugian pada Mataram .

Untung Suropati mengadakan perlawanan terhadap VOC / Belanda mulai tahun 1685 sampai tahun 1706 yang dengan diam-diam mendapatkan bantuan dari Sunan Amangkurat II sehingga mengakibatkan hubungan antara Mataram dan VOC menjadi tegang.

VII. MATARAM   DIBAWAH SUNAN MAS / ANGKURAT MAS  (1703-1706)

Situasi Mataram semakian tidak menentu dengan Wafatnya Sunan Amangkurat II, yang di gantikan oleh Putranya dengan gelar Amangkurat Mas. Pangeran Puger, adik dari Amangkurat II dengan bantuan belanda di Semarang mengangkat diri sebagai Susuhunan dengan gelar Paku Buwono (6 Juli 1704) dan mengadakan pemberontakan terhadap Amangkurat Mas.

Dan di mataram terjadi lagi perebutan Mahkota. Para Adipati Pesisir yang yang pada awalnya mendukung Pangeran Puger berbalik mendukung Amangkurat Mas, namun dengan gabungan kekuatan antara Pangeran Puger dengan Belanda sehingga para Adipati pesisir dapat di paksa untuk mengakui  Pangeran Puger sebagai Sunan. Sedangkan Amangkurat Mas beserta pengikutnya bertahan di Kertasura, namun pada 11 September 1705 Kertasura dapat di rebut dan di duduki Pangeran Puger.

Amangkurat Mas saat kertasura dapat di rebut kembali oleh Pangeran Puger berhasil meloloskan diri dari Keraton dan bergabung dengan Untung Suropati untuk mengadakan perlawanan terhadap Pangeran Puger dan Belanda. Untung Suropati Wafat pada tahun 1706 saat Bangil jatuh, namun perlawanan tatap diteruskan oleh Amangkurat Mas beserta Putra-Putranya, dengan membangun basis-basis pertahanan di Kediri, Malang dan Pasuruan .

Karena kedudukan semakin terjepit, Amangkurat Mas mau berunding dengan Pangeran puger yang akhirnya beliau diasingkan di Sailan.

VIII. MATARAM    DIBAWAH    PAKU    BUWONO    І

(1704-1727)

setelah Amangkurat Mas dibuang di Sailan maka kedudukan Sunan Paku Buwono (P B) І menjadi aman, namun  menambah pada kerugian Mataram akibat kerjasamanya dengan belanda dalam peperangan perebutan Mahkota Mataram.

VOC kembali membangun bentengnya di lingkungan Kraton dengan alasan untuk melindungi Sunan, apalagi Sunan juga menandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya ;

  1. Prianga, Sumedang, Cirebon dan Pamekasan diserahkan pada VOC.
  2. Wilayah VOC di Semarang di perluas
  3. VOC diberi hak memonopoli perdagangan dan hak istimewa di pelabuhan Mataram
  4. Mataram wajib membayar 800 kayon beras kepada VOC

Dengan adanya perjajian tersebut mengakibatkan rakyat semakin sengsara, dimana hasil panen banyak yang harus diserahkan kepada Sunan demi memenuhi perjajian dengan VOC, hal tersebut berlangsung hingga Wafatnya Sunan P B І tahun 1719.

VIIII.  MATARAM    DIBAWAH    AMANGKURAT    IV

(1719-1727)

 

Amangkurat IV ( Amangkurat Jawa ) naik tahta setelah P B І Wafat, namun banyak yang menentang dari kerabatnya sendiri sehingga perang perebutan mahkota Mataram berkobar lagi, seperti yang di lancarkan oleh Pangeran diponegoro dan Pangeran Dipo Sentono keduanya Putra P B І dari Istri selir. Selain itu Pangeran purbaya, Pangeran Blitar dan Aria Mataram mengadakan pemberontakan dengan menyerbu Kartasura, dalam suatu pertempuran Pangeran Dipa Sentana terbunuh.

Kertasura dapat di duduki Oleh Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar. Namun, walaupun dengan bantuan Belanda, Amangkurat IV masih belum dapat di tangkap, bahkan Amangkurat IV dapat merebut kembali Kertasura, sedangkan pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar meneruskan perlawanannya di Jawa Timur bergabung dengan para Putra Suropati. Perlawanan ini dapat di patahkan tahun 1723 dan Pangeran Diponegoro di tangkap dan di buang ke Tanjung Harapan, sedang Putra Untung Suropati di buang ke Sailan. Dan Amangkurat Wafat pada tahun 1727.

X. MATARAM DIBAWAH PAKU BUWONO II

 ( 1727-1749 )

 

Pada masa P B II memerintah Mataram manggantikan Amangkurat IV, Beliau masih dalam keadaan usia remaja, sehingga roda pemerintahan Mataram seolah-olah diatur oleh Belanda. Dan Sunan tak ubahnya sebagai pelambang saja, apalagi Belanda menekan kepada Sunan untuk menandatangani perjanjian yang isinya sangat merugikan kepada Mataram, antara lain;

  1. Pesisir Utara dan Selatan Pulau Jawa, Madura dan Surabaya  diserahkan kapada Belanda.
  2. Patih dan Adipati yang di angkat Sunan harus mendapatkan persetujuan dari Belanda.
  3. Belanda berhak menarik Bea masuk di setiap pelabuhan.
  4. Belanda akan membangun kembali bentengnya didekat Keraton Untuk mengawasi Sunan  dan biaya di tanggung Sunan
  5. Belanda berhak mencetak Uang.

Dengan perjanjian ini, membuat ketidak senangan dan tidak di senangi para Bangsawan Mataram sehingga menimbulkan pemberontakan, di antaranya yang di lancarkan oleh Pangeran Mangkunegara yang masih saudara Sunan sendiri, namun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan bahkan Pangeran Mangkumegara dapat di tangkap dan diasingkan di Saelan.

Ketika orang-orang Cina mengadakan perlawanan kepada belanda sudah meluas sampai di daerah Mataram, Sunan memenfaatkan pemberontakan tersebut untuk menghilangkan pengaruh Belanda, dan memerangi Belanda secara diam-diam bekerjasama dengan Pemberontak, sehingga pusat-pusat penjagaan Belanda di sebagian Kota seperti Tegal, Jepara, Semarang, Pati dan  Rembang yang diserang  dapat di lumpuhkan oleh pamberontak.

1. PEMBERONTAKAN PACINAN/PEMBERONTAKAN R. MAS GARENDI

Pemberontakan ini dilatar belakangi saat Belanda menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatannya, dan Belanda menggunakan Politik menarik sebanyak mungkin Warga Cina yang ada di berbagai pelabuhan seperti Malaka, Banten, Jambi, dan Palembang di tarik ke Batavia dengan tujuan untuk menghasilkan untung sebesar-besarnya bagi Belanda (VOC), dan ternyata yang datang ke Batavia tidak hanya berasal dari pelabuhan saja, bahkan banyak yang datang langsung dari Negeri Tiongkok / Cina.

Di antara Warga Cina banyak yang sukses di dalam perekonomian terutama di bidang perdagangan, namun juga banyak yang bernasib tidak beruntung, sehingga banyak yang terjun ke dunia kejahatan semisal perdagangan Candu, pelacuran, penyamun dan lain sebagainya, sehingga Batavia menjadi tidak aman, banyak orang Pribumi ataupun orang lain yang merasa tidak senang kepada Warga Cina, maka timbullah rasa perpermusuhan dan sikap Rasialis terhadap Warga Cina.

Melihat kenyataan tersebut, Belanda mengeluarkan perturan bagi Warga Cina, yang isinya di antara lain;

  1. Setiap warga Cina yang sudah tinggal selama 10 – 12 tahun, namun belum memiliki izin tinggal, akan di kembalikan ke Negeri asalnya.
  2. Warga Cina di larang membuka tempat pelacuran, perjudian, dan tempat pemadatan di dalam maupun di luar kota.

Pada tahun 1740 banyak Warga Cina yang melanggar peraturan di atas, sebab itu juga banyak Warga Cina di tangkap dan menimbulkan keresahan bagi Warga Cina yang lain yang menjadi pemicu bentroknya Warga Cina dan Belanda. Akhirnya perlawanan terhadap Belanda semakin meluas sampai keluar dari daerah Batavia. Juga karna dukunganwarga pribumi dan Bangsawan. Pertahanan Belanda di Tangerang di serbu termasuk Benteng Mr De Cornis. Dengan bantuan pasukan yang di datangkan Belanda dari Bugis dan Bali, perlawanan pemberontak terhadap Belanda di Batavia dan sekitarnya dapat di pukul mundur. Namun sangat di sayangkan waktu perlawanan terhadap Belanda, Warga Cina beserta pendukungnya banyak melakukan pembakaran rumah penduduk dan mengadakan penjarahan dari pada perlawanan terhadap Belanda, terutama pasukan yang di pimpin oleh  Sing She, pemberontak mengadakan perlawanan di Bekasi, Pulau Gadung dan Kali Barang. Sedangkan pasukan yang di pimpin oleh Khe Panjang terus bergerak ke timur memasuki Jawa Tengah, kelompok ini semakin besar karna banyak Warga Pribumi dan Warga Cina yang bergabung.

Di sekitar Semarang pasukan Khe Panjang mendapat bantuan dari Mataram, mereka mengadakan persekutuan Anti Belanda. Pasukan Mangkuyodo, Wirasastra dan Mangku Braja di terjunkan, Benteng di Semarang dapat di hancurkan. Dalam keadan terjepit, Kompeni menjalin kerjasama dengan Adipati Cakraningrat untuk menghadapi penyerbuan Warga Cina yang di perkuat oleh Pasukan Mataram. Cakraningrat di beri janji oleh Belanda akan di angkat sebagai panembahan Madura yang terbebas dari pengaruh kekuasaan Mataram.

Dengan adanya bantuan dari pasukan Cakraningrat. Maka secara terang-terangan P B II mengadakan perlawanan terhadap Belanda, benteng Kertasura di di serbu dan di hancurkan. Van Velsen besrta prajuritnya terbunuh, Sunan P B II menyerukan kepada rakyat dan raja-raja bawahannya agar ikut berperang melawan Belanda, perlawanan terhadap Belanda meledak di mana-mana, seperti Rembang, Pati, Demak Jepara, Priangan dan Cirebon bergarak bersama rakyat mengadakan perang Sabil, tak katinggalan rakyat Jawa Timur juga mengadakan penyerangan terhadap pusat pertahanan Belanda di Pasuruan dan Surabaya.

Di Semarang peperangan terjadi dengan hebat, di karnakan  kalah persenjataan dan system adu domba yang di lakukan oleh Belanda menjadi menyebabkan perpecahan dua sekutu antara prajurit Mataram dan warga Cina sehingga dalam peperangan itu belanda berhasil memukul mundur pasukan Mataram, hal ini menyebabkan Sunan menjadi bimbang dan berubah fikiran, setelah mengetahui bahwa dalam suasana perang seperti itulah yang akan di gunakan oleh keluarga istana untuk saling berebut tahta Mataram, yang akhirnya Sunan menghentikan perlawanan terhadap Belanda  dan kembali memihak pada Belanda. Sikap Sunan yang demikian itulah yang mengecewakanpara pemberontak dan kerabat Sunan yang anti Belanda. Yang akhirnya para pemberoatak mengangkat R. Mas Garendi (Sunan Kuning) sebagai Sunan yang mana beliau masih putra Amangkurat Mas.

R. Mas Garendi di Bantu Pangeran Martapura, Adipati Grobokan bersama R. Mas Sa’id mengadakan serangan terhadap Mataram dan Belanda,  tanggal 30 Juli 1742 serangan besar-besaran pun di lancarkan ke Kartasura sebagai pusat pemerintahan  Mataram sehingga Mataram jatuh dan dan Sunan P B II meloloskan diri dan akhirnya Mataram dapat di duduki.


2. SUNAN PAKU BUWONO II DI GERBANG TINATAR (TEGAL SARI PONOROGO)

Setelah Kartosuro jatuh ke tangan R. Mas Grendi, Sunan P B II meloloskan diri ke Timur yang di ikuti oleh beberapa pengikutnya sampai di Gunung Lawu. Si sini Sunan bersemedi untuk bermunajat kepada Allah S.W.T dengan harapan semoga diberi petunjuk tentang “siapakah yang dapat mengembalikan tahta Mataram ketangan Sunan ”,yang saat ini di kuasai oleh R. Mas Garendi.Saat bersemedi Sunan mendapat petunjuk supaya meneruskan perjalanan ke Ponorogo, di sana akan menemukan seseorang yang dapat mengembalikan tahta Mataram kepadanya.

Maka perjalanan dilanjutkan sampai di Ponorogo waktu malam hari dan di teruskan sampai di Gerbang Tinatar Tegal Sari. Di daerah tersebut, Sunan mendengar suara gemuruh seperti Lebah yang keluar dari sarangnya,bergemuruh karna banyaknya lebah,  Sunan bertanya suara apa dan dari mana sumbernya. Patih Pringgoloyo segera mengutus prajurit untuk mencari sisik melik kepada warga daerah tersebut, setelah mendapat keterangan maka di sampaikan kepada sunan bahwa itu suara Kyai Muh Besari dan santrinya Bagus Harun (R. Mas Bagus Harun) yan sedang ber Dzikir dan ber Munajat kepada Allah S.W.T dengan Dzikir HU…..HU…..HU….Allah, akhirnya Sunan tertarik dan ingin Sowan kepada beliau.

Saat Kyai Muh Besari beserta Bagus Harun selesai berDzikir, beliau pergi ke sungai untuk menjala ikan sebagai kesenangannya dan beliau berpesan kepada Bagus Harun agar tetap berada di rumah, sebenarnya Sang Kyai sudah tau kalau pesantrennya akan kedatangan tamu terhormat, dan beliau sengaja mencari ikan untuk menyuguh serta sabagai perwujudan rasa Ta’dzim dan Tawadhu’ beliau kepada tamu terhormat nantinya. Ketika Sunan P B II beserta pengiringnya tiba di kediaman Kyai Muh Besari, beliau di terima oleh Nyai Ageng Muh Besari beserta Bagus Harun, setelah mengetahui kalau yang datang adalah Sunan Mataram, Nyai Ageng mengutus Bagus Harun untuk memberitahukan kepada Kyai Ageng bahwa Sunan Mataram ingin bertemu  Kyai Ageng.

Bagus Harun segera berangkat menemui gurunya di sungai yang sedang menjala ikan untuk mnyampaikan pesan dari Nyai Ageng dan Kyai Ageng setelah membersihkan diri segera menemui Sunan P B II, dan Bagus Harun di Utus (di perintah)   Nyai   Ageng   untuk  memasak  nasi  dan  ikan   hasil   dari Tangkapan Kyai Ageng untuk menjamu Sunan. Seteleh Sunan P B II dapat bertemu langsung dengan Kyai Ageng Muh Besari, beliau langsung menyampaikan maksud kedatangannya serta menjelaskan mengapa Sunan dan para pengiringnya sampai di Ponorogo,

“ Kyai, perlu Kyai ketahui mengapa saya dan Patih Pringgoloyo pada saat ini berada di hadapan Kyai, ini karena di kotaraja Kartosuro sedang terjadi huru-hara yang sedang di lakiukan oleh warga Cina dan kerabat keraton yang tidak setia kepada Mataram dan berhasil menduduki Kartosuro, mereka mengangkat R. Mas Garendi sebagai Sunan sehingga  saya menyingkir dari keraton untuk memohon kepada Kyai Ageng untuk membantu menumpas pemberontakan Pacinan yang di pimpin oleh R. Mas Garendi, serta mengembalikan tahta Mataram kepada saya, dan apabila berhasil, saya (Sunan Paku Buwono II) akan memberi imbalan yang besar  ”

Setelah memahami keadaan ibukota  Mataram yang sudah di duduki oleh pemberontak serta maksud dari permohonan Sunan, maka Kyai Ageng dawuh,

“Kanjeng Sunan, Insya Allah Mataram akan tentram kembali begitupun dengan tahta Mataram juga akan di kembalikan pada Sunan , namun saya mohon jangka waktu 40 hari untuk Munajat dan memohon kepada Allah S.W.T ”.

3. R.  MAS BAGUS HARUN MENDAPAT PERINTAH DARI KYAI AGENG MUH BESARI UNTUK MENGHANTARKAN SUNAN PAKU BUWONO II KE MATARAM

 

          Beberapa saat setelah mengetahui maksud dari kedatangan Sunan, Kyai Ageng Muh Besari memanggil Bagus Harun untuk menghidangkan jamuan makan kepada Sunan beserta pengiringnya, Sunan kaget ketika melihat nasi liwet yang di hidangkan Bagus Harun terlihat kotor, dan di tanyakan kepada Kyai Ageng

siapakah yang menanak nasi ini ?” ,

 dan Kyai pun menjelaskan,

Sunan !!,  yang menanak nasi ini adalah santrinya yang bernama Bagus Harun !!”,

kemudian Bagus Harun ditanya oleh kyai Ageng,

mengapa nasi yang di hidangkan kotor ?” ,   

Bagus Harun pun menjelaskan,

“ nasinya tumpah saat akan di bawa untuk di hidangkan,

Kyai Ageng dan Sunan pun memakluminya dan sunan berkata,

Bagus Harun !, karena nasi yang  engkau hidangkan   tumpah dan nasi ini tidak bersih semua, sehingga ada nasi yang bersih dan ada yang sebagian kotor terkena tanah, maka keturunan mu sifatnya seperti nasi yang kau hidangkan  ini, yaitu ada yang putih bersih (menjadi Ulama’) dan ada yang setengah bersih (kaum Bangsawan / Priyayi dan rakyat biasa)” .

Pada pertemuan tersebut Kyai Ageng berusaha untuk membantu Sunan Mataram sebisa mungkin dalam memadamkan pemberontakan yang di lancarkan R. Mas Garendi, serta mengembalikan tahta di Mataram ke tangan Sunan, dan Kyai Ageng selama 40 hari bermunajat kepada Allah, dan beliau pun mendapatkan petunjuk bahwa yang bisa membantu Sunan adalah santri beliau yang bernama Bagus Harun, lalu Kyai Ageng menugaskan Bagus Harun untuk menghantarkan Sunan P B II kembali ke Mataram serta memadamkan pemberontakan R. Mas  Garendi (pemberontakan Pacinan).

  1. 4.     R. MAS BAGUS HARUN MEMBASMI PEMBERONTAK

 

Setelah mendapat tugas serta restu dari sang Guru (Kyai Ageng Muh Besari), Bagus harun berangkat ke kartosuro bersama Sunan P B II ke Kartosuro .Sesampainya di Kartosuro, Sunan Agung segera menemui para kerabat keraton serta para senopati yang masih setia pada sunan P B II, sebagian di antaranya adala Pangeran   Mangkubumi,

(pendiri Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Hamengku Buwono I). Karena pembawaan sampai-sampai busana yang di pakai Bagus Harun sangat sederhana, apalagi hari-harinya di habiskan dalam pesantren walaupun beliau adalah seorang putra Adipati, penampilannya sangat berbeda jauh dengan para Senopati maupun para prajurit Mataram, hal itu menimbulkan keraguan dan ketidak percayaan para Senopati dan kerabat Mataram akan kemampuan Bagus Harun, apalagi Bagus Harun lah yang mendapat tugas dari Sunan untuk merebut kembali Mataram dari tangan R. Mas Garendi.

Ki sanak, kami belum dapat mempercayai ki sanak, apalagi kami belum mengetahui sampai sejauh mana kemampuan ilmu ki sanak, sebab, R. Mas Garendi  sangat kuat dan para pengikutnya sangat tinggi pula ilmunya, seandainya ki sanak dapat mengimbangi ilmun R. Mas garendi dan para pengikutnya bahkan mampu melampaui mereka atau kami,  baru kami akan percaya pada ki sanak.

        Kata salah seorang Senopati pada Bagus Harun, dan Senopati itu menjajal kemampuan serta olah ilmu kanuragan yang di miliki oleh Bagus Harun. Saat terjadi adu ketangkasan antara Senopati dan Bagus Harun, Senopati tersebut melompati dinding benteng yang tinggi dan Bagus Harun mengimbangi dengan cara menembus benteng tersebut layaknya orang masuk lewat pintu rumah, tanpa menimbulkan kerusakan pada benteng tersebut. Dengan sedikit kemampuan yang di tunjukkan oleh Bagus Harun tersebut, maka para senopati dan kerabat Mataram mempercayai kemampuan Bagus Harun dan berhak untuk mendapatkan tugas dari Sunan. Dan saat itu beliau baru menunjukkan pada para Senopati dan kerabat Mataram sebuah pusaka pemberian Sunan yang bernama keris Tundung Madiun, pusaka Ageman Sunan sebagai tanda bahwa Bagus Harun diangkat Sunan untuk memimpin peperangan untuk menghancurkan kekuatan R. Mas Garendi.

Maka di mulailah pertempuran antara prajurit Mataram yang di pimpin oleh Bagus Harun melawan prajurit R. Mas Garendi. Penyerbuan ke Kartosuro dengan mengerahkan pasukan Mataram yang masih setia kepada Sunan di bawah pimpinan Bagus Harun dengan strategi penyerangan “GARUDA NGLEYANG “ dan “ DIRADA META “,  Tepat pada tanggal 20 Desember 1742. dan Kartosuro akhirnya dapat di rebut kembali oleh pasukan Mataram, banyak pasukan R. Mas Garendi yang menyatakan tunduk dan setia kepada Sunan sedang R. Mas Garendi yang sudah banyak kehilangan pasukan melarikan diri ke Surabaya, Pangeran Martapura, Adipati Grobokan beserta R. Mas Sa”id melarikan diri ke Sukawati, pengejaran terus di lakukan oleh prajurit Mataram sampai ke Surabaya, akhirnya pada tanggal 30 Oktober 1743, R. Mas Garendi dapat ditangkap dan di asingkan di sailan. Sedang kelompok pemberontak dari warga Cina yang di bawah pimpinan Taiwan Sai melarikan diri ke daerah Pasuruan.

R. MAS BAGUS HARUN MENDAPAT ANUGRAH DARI SUNAN P. B. II

Setelah R. Mas Garendi dapat di tangkap dan keraton Kartosuro kembali tenang, Sunan P B II mengadakan paseban agung di istana Mataram dengan mengundang para Senopati dan kerabat istana termasuk Bagus Harun yang telah berjasa mengembalikan tahta Mataram untuk mendapatkan anugerah sesuai dangan jasanya masing-masing, dalam paseban tersebut Sunan bertanya pada Bagus Harun,

“ Siapakah sebenarnya ki sanak, karna setelah saya amati, ki sanak tidak seperti orang biasa” ,

Bagus Harun pun menjelaskan pada Sunan ,

“ hamba sebenarnya putra dari Kanjeng Adipati Dugel Kesambi, (Pangeran Nolo Joyo) yang masih mempunyai garis keturunan dari Panembahan Senopati Sutowijoyo (Raja Mataram I)

Setelah Sunan mengetahui siapa sebenarnya Bagus Harun, maka Sunan Dawuh !,

kalau demikian, engkau masih berdarah Arya, dan masih kerabat dekatku sendiri, maka mulai sekarang engkau adalah Adi Mas Bagus Harun dan aku beri gelar BANGSA ARYA “ .

Dalam pertemuan tersebut, Sunan berkeinginan memberi membalas jasa kepada Bagus Harun untuk di angkat sebagai Adipati Banten, namun Bagus Harun tidak berkenan  menerimanya, karena yang telah di lakukan itu semata-mata untuk berbakti pada sang guru (Kyai Ageng Muh Besari) serta berbakti pada Mataram, karena jiwanya terpanggil untuk ikut menjaga kelangsungan Mataram, apalagi Bagus Harun masih termasuk trah Mataram, kemudian Bagus Harun juga mohon izin pada Sunan agar di perkenankan tinggal di kartosuro beberapa saat untuk berdiam diri (I”tikaf) di dalam masjid keraton untuk maneges dan memohon kepada Allah supaya Mataram di beri keselamatan dan di lindungi selama-lamanya.

  1. 5.                             5. ANUGERAH SONGSONG/PAYUNG DAN LAMPIT DARI SUNAN PAKU BUWONO II

 

Setelah selama 40 hari Bagus Harun berada salam masjid kasunanan untuk bermunajat kepada Allah agar semoga Mataram di beri keselamatan, kesejahtaraan dan ketentaman, beliau mohon izin kepada Sunan untuk kembali ke Ponorogo karena tugasnya di Mataram di rasa sudah selesai. Sunanpun mengizinkan dan memberikan sekedar hadiah yang berupa songsong dan lampit (tanah lungguh yang merdeka / bebas dari pajak) Sebagai penghargaan atas darma baktinya pada Mataram. Dan sesampainya di Gerbang Tinatar Tegal Sari Ponorogo Bagus Harun langsung sowan pada Sang guru (Kyai Ageng Muh Besari) dan menceritakan semua yang di lakukan di Kartosuro mulai dari awal sampai akhir, tidak lupa Bagus Harun juga menghaturkan Songsong dan Lampit hadiah dari Sunan pada Sang guru tetapi Sang guru tidak berkenan menerimanya, dan beliau dawuh pada Bagus Harun

Gus !, yang di beri hadiah dari Sunan itu adalah dirimu  karena pengabdian mu kepada Sunan, bukan aku, untuk itu terimalah dengan ikhlas, siapa tahu kelak di kemudian hari akan berguna dan ada manfaatnya  “.

        Karena Kyai ageng sudah dawuh demikian, Bagus harun tidak dapat berkata apa-apa lagi, di malam harinya Bagus Harun tidak bisa tidur memikirkan semua yang telah di laluinya tadi, dalam batinnya Bagus Harun berkata,

“ saya pergi ke Kartosuro atas perintah Kyai Ageng sehingga kedudukan saya hanya mewakili Kyai Ageng, maka sudah sewajarnya kalau yang mendapat kan anugrah dari Sunan saya haturkan pada Kyai Ageng, tapi  mengapa  Kyai  Ageng  tidak  berkenan  menerima nya ?,

Hal inilah yang menjadi beban fikiran Bagus Harun sehingga bagus Harun bertakad untuk menghadap Sunan di kartosuro untuk mohon penjelasan, kepada siapakah sebenarnya hadiah ini di berikan ?, kepada Kyai Ageng ataukah pada dirinya !.

Keesokan harinya Bagus Harun berangkat ke Katosuro untuk mohon penjelasan pada Sunan, sesampainya di daerah kartosuro ,karena terik matahari dan udara yang panas maka songsong yang di bawa Bagus Harun di pergunakan sebagai payung, ketika sampai di tengah Alun-Alun Bagus Harun oleh prajurit Mataram di kira prajurit Cina yang akan masuk keraton sehingga Bagus Harun di hujani anak panah dari berbagai penjuru, walau tidak satupun anak panah yang mengenainya dan Bagus Harun yang tidak merasa bersalah dan tanpa di Tanya langsung di serang dengan anak panah, maka Bagus Harun melemparkan Bakiyak (terumpah kayu) kearah prajurit Mataram yang mengepungnya, dengan kekuasaan Allah, Bakiyak yang di lemparkan tersebut menyerang para prajurit Mataram dan tidak sedikit dari para prajurit Mataram yang menjadi korban. Sunan paku Buwono II setalah mengetahui ada keributan di Alun-Alun dan menurut laporan  yang Sunan terima, ada pasukan Cina yang mengamuk serta menimbulkan jatuh korban yang tidak sedikit, beliau segera keluar dari keraton serta memasang meriam Kyai Setomo dan Nyai Setomi untuk menanggulangi musuh, tetapi yang tadinya di kira prajurit Cina yang berhasil masuk dalam lingkungan keraton  ternyata adalah Bagus Harun, maka Sunan langsung menyongsong kedatangan  dan merangkulnya sembari berkata,

Adi Mas Haria, ternyata Adi Mas yang datang, aku kira prajurit Cina yang datang mau menyarang ! ”,

selanjutnya Sunan minta penjelasan pada Bagus Harun sebab musabab terjadinya keributan yang terjadi antara para prajurit dan Bagus Harun, dan Bagus Harun pun menjelaskan,

“ saat sesampainya saya tiba di Kartosuro sudah siang hari, karena terik dan udara yang panas, Songsong yang saya bawa saya gunakan untuk melindungi diri dari teriknya matahari, ketika berada di tengah alun-alun saya dihujani anak panah oleh prajurit dan terjadilah keributan tersebut.Sowan saya kepada Sunan ini mau menanyakan tentang songsong dan lampit yang dianugerahkan beberapa waktu lalu, apakah memang dianugerahkan untuk saya atau pada guru saya (Kyai Ageng Muhammad  Besari)” ,

kemudian Sunan pun menjelaskan pada Bagus Harun,  

“ Adi Mas lah yang berhak atas anugerah Songsong dan lampit sebagai hadiah untuk selama-lamanya, juga sebagai wewenang memiliki tanah perdikan yang dapat di wariskan kepada anak cucunya kelak “ ,

dan oleh Sunan, Bagus Harun di perintah untuk membuka tanah perdikan  di sebelah timur Gunung Lawu.

Setelah mendapat penjelasan dari Sunan, Bagus Harun langsung mohon pamit untuk kembali ke Ponorogo. Dan ketika  dalam perjalanan melewati Grojokan Bang Pluwang (Nglengkong Sukorejo Ponorogo), beliau berhenti dan memikirkan songsong dan lampit yang di bawanya, dalam hati Bagus Harun  berkata ,

“ seandainya songsong dan lampit ini terus aku bawa, mungkin  anak cucuku akan mempunyai perasaan sombong dan membanggakan hasil dari perjuangan para leluhurnya pada Negara, maka sebaiknya songsong dan lampit ini aku titipkan di Grojokan ini !,  

dan di Grojokan ini beliau bermunajat pada Allah,

“ semoga anak dan cucuku nanti menjadi orang yang mulia serta berbakti pada Allah, Bangsa dan Negara. dan apabila kelak di kemudian hari ada anak cucuku yang mempunyai satu hajat / tujuan, bermunajat ataupun ber’Uzlah pada Allah di tempat ini, semoga di kabulkan dan mendapatkan Ridho Nya “.

 

7. R. MAS BAGUS HARUN MEMBUKA TANAH PERDIKAN SEWULAN

 

Sepulang Bagus Harun dari Kartosuro beliau langsung kembali ke Tegal Sari untuk memperdalami ajaran-ajaran yang di terima dari Kyai Ageng, dan bukan sekedar ilmu syari`at saja tetapi juga ilmu thoriqoh khususnya thoriqoh Naqsabandiyyah Syathoriyyah A`maliyyah, serta kitab-kitab yang berhubungan dengan dunia tasawuf (rohani) , di antaranya tentang kitab-kitab yang membahas Achadiyah, Rububiyah, Tholchaqiyah, Ulihiyah, Insan Kamil, Bahrullahuut, Bayan Alif, Bayang Ghoib, Risalah Nuraniyah, dan lain sebagainya jiga kitab-kitab yang di ajarkan oleh `Ulama` dan Waliyulloh di tanah Jawa maupun Aceh sehingga beliau dapat di katakan sebagai sosok santri yang mumpuni dalam ilmu agama. Pada suatu hari Bagus Harun ingin mempunyai tanahn pemukian dan pesantren dan pemukiman sendiri seperti Tegal Saritetapi belum mengetahui dimana daerahyang yang akan di babad dan di gunakan untuk penyebaran agama dan tempat untuk anak cucunya, dan Bagus Harunpun menyampaikan maksud hatinya tersebut pada Kyai Ageng, dan Kyai Ageng pun dawuh pada Bagus Harun ;

“Gus, kalau kamu ingin membuka daerah untuk menyiarkan agama rosul sealigus tempat yang bisa kamu wariskan pada anak cucu kamu, maka carilah songsong yang  engkau letakkan di grojokan Bang Pluwang, berjalanlah di hutan untuk mencarinya dan jangan berhenti bila belum ketemu !“.

         Bagus Harun pun diam seribu bahasa, tapi dalam hatinya berkata ;

 bagaimana mungkin mencari songsong di dalam hutan, pada    hal songsong tersebut aku buang didalam Grojokan Bang Pluwang, apa mungkin ketemu !!.

         Tapi karena Kyai Ageng tanggap sasmita teradap apa yang di pikirkan santrinya, Kyai Ageng pun dawuh ;

“Gus !, dirimu tidak perlu  merasa ragu,sebab Alloh itu Maha kuasa, bila engkau ngin memiliki daerah sendiri, cepatlah cari Songsong itu, do’a dan pangestuku menyertaimu  “.

Setelah mendapat periontah dan do’a restu dari Kyai Ageng Muh Besari, Bagus Harun segera mohon diri dan berangkat melaksanaka perintah Sang guru. Selama dalam perjalanan untuk mencari Songsng di hutan Bagus Harun membawa bekal biji nangka dan di sebar selama dalam perjalanannya, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan biulan berganti bulan dalam perjalanan Bagus Harun untuk mencari Songsong tersebut, tapi semua itu di anggap ujian, bahkan dalam pencarian itu Bagus Harun di sertai dengan puasa yang barbuka dan sahur hanya dengan memakan pupus dedaunan dan air tawar, hingga pencarian Songsong sudah memasuki bulan Romadlon, saat itu ketika beliau ber Tafakkur dan Munajat kepada Alloh, beliau mencium bau harum yang di sertai sinar yang terang benderang, setelah diamati yang terlihat adalah sebuah Songsong tegak berdiri yang tinggal rangkanya saja, Songsong tersebut di perhatikan dengan seksama, apakah betul Songsong yang dilihatnya itu adalah Songsongnya yang di taruh di Grojokan Bang Pluwang yang telah  di beri tanda H, dan setelah di amati kembali, ternyata benar bahwa Songsong tersebut adalah miliknya, maka puji Syukur pada Alloh beliau ucapkan atas anugrah yang telah diberikan kepadanya, apalagi saat Bagus Harun menemukan Songsong tersebut bertepatan dengan turunnya Lailatul Qodar, yang merupakan malam yang sangat utama dari seribu bulan (SEWU WULAN).

Songsong yang telah Bagus Harun temukan segera di bawa kehadapan Kyai Ageng Muh Besari sebagai bukti bahwa tugas yang di berikan oleh beliau telah dapat di laksanakan, dan Bagus Harun matur pada Kyai Ageng ;

“Berkat pertolongan Alloh serta do’a restu Romo Kyai, Songso ini dapat hamba temukan di sebuah hutan yang termasuk wilayah Kadipaten Madiun “.

Kyai Ageng pun menjawab .

“Ya !, di sekitar engkau menemukan Songsong itulah tempat untuk kamu menyebarkan agama Islam  dan dirikanlah sebuah Masjid, berilah nama SEWULAN “, sebab saat Songsong itu kamu temukan bertepatan dengan turunnya ” LAILATUL QODAR”.

Dan sebelum R. Mas Bagus Harun membuka daerah yang akan di jadikan pemukiman, terlebih dahulu Bagus Harun pergi ke Mataram untuk sowan pada Sunan Paku Buwono IIuntuk mohon izin dan do’a restu untuk ,membuka daerah yang akan di gunakan untuk menyebarkan agama islam serta untuk keturunannya kelak. Saat itu, Ibu Kota Mataram belum di pindah dari Kartosuro, dan pada tahun 1749 Kartosuro baru di pindah ke Surakarta yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan Kota Solo, di pindahnya pusat pemerintahan dari kartosuro ke Surokarto di karenakan Sunan beranggapan bahwa keraton yang sudah di duduki oleh musuh (akibat perang Pacinan)di bawah kepemimpinan R. Mas Garendi sudah hilang pamor dan kewibawaannya, selain itu keraton juga mengalami kerusakan berat.

Akhirnya permohonan Bagus Harun di setujui oleh Sunan P B II, apalagi sebelumnya Sunan juga sudah memberi keleluasaan dan hadiah pada Bagus Harun untuk membuka tanah perdikan. Adapun luas tanah wilayah Sewulan pada awalnya hamper mencakup seluruh wilayah kawedanan Uteran sekarang ini, di tambah perdikan Tegal Sari, Menang, Pulo Sari, Tawang Sari (Tulungagung), Patihan Rowo (Kertosono).

Dan setelah Bagus Harun membuka daerah yang akan di jadikan sebagai pemukiman di daerah dimana Bagus Harun menemukan Songsong dengan nama Sewulan. Setelah itu, banyak para warga masyarakat yang mohon izin untuk dapat berdiam di daerah itu atau yang di sebut dengan Magersari, mereka di pinjami tanah garapan dan pemukiman oleh Bagus Harun, dan setelah Bagus Harun berkedudukan sebagai kepala perdikan, Bagus Harun / R. Mas Bagus Harun bergelar Kyai Ageng Basyariyah / Kyai Ageng Sewulan . Dan bagi para warga masyarakat yang menggunakan tanah yang di gunakan sebagai garapan atau pun pemukiman setiap tahunnya harus di kembalikan dan oleh Kyai Ageng akan di pinjamkan kembalikan ke warga  pada saat UDAR GELUNG. Dan semakin lama daerah perdikan Sewulan menjadi daerah yang ramai sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang ramai sekaligus para Santri yang cukup banyak seperti Kyai Kasan Besari dari Tegal Sari Ponorogo, dan sebagai penunjang sarana beribadah Kyai Ageng akhirnya membangun sebuah masjid yang lumayan megah pada waktu itu.

Sedang di lingkungan Masjid Agung Sewulan terdiri dari pintu gapuro, halaman Masjid yang di tanami dengan Sawo Kecik, Mahardika, Bunga Tanjung, dan di lengkapi dengan kolam pesucian yang berada tepat di depan serambi Masjid sehinnga para jama’ah dengan Otomatis tidak akan membawa najis dari luar sekaligus sebagai tempat untuk berwudhu. Adapun sebagian makna Filosofis / Kinayah / simbol-simbol tadi adalah sebagai berikut;

1. Pintu Gapuro, yang berasal dari kata Ghofuro diharap orang dalam hidupnya selalu memohon ampun kepada Gusti Alloh yang bersifat Al-Ghofur, Dzat Yang Maha Pengampun.

2. Sawo Kecik, diharap manusia dalam kehidupannya selalu melakukan kebaikan (tansah junjung lelaku ingkang sarwo becik).

3. Mahardikan, dengan harapan  setelah mengerjakan semua yang terpuji maka manusia akan memeroleh kemerdekaan / kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.

4. Bunga Tanjung, adalah sebagai pengingat pada orang tua agar terkadang juga menyanjung pada anak-anak atau seseorang yang di bawah umurnya yang intinya juga menghormati pada yang lebih muda.

5. Kolam pesucian yang mengandung makna setiap manusia yang menginginkan untuk masuk dalam kerajaan Alloh harus dalam keadaan bersih dan suci dari semua kotoran dan najis, sebab Dzat Alloh adalah bersih (Al-Qudus).

6. Serambi Masjid, yang biasa dipergunakan untuk ber Tholabul ‘Ilmi khusus nya ilmu agama, karena seorang hamba yang mengharapkan bisa Wushul ilallooh (sowan lan tumeko marang Gusti  Allah ) maka orang tersebut haruslah menguasai, memahami dan menjalani semua aturan dan syarat untuk menjadi seorang hamba yang siap mengabdi pada Tuannya  (Lungguhe kawulo marang Gusti).

7. Induk Masjid yang terdiri dari 4 pintu dan 5 jendela yang bermakna ;seorang hamba Alloh yang sedang beribadah kepada Alloh sebelumnya harus dapat menguasai, menundukkan dan menjaga semua panca inderanya (lubang 9 / Howo Songo), karena masuknya hawa nafsu itu  melalui panca indera tersebut

8. 4 Tiang penyangga induk Masjid adalah simbol dari 4 Madzhab, supaya orang Islam mengikuti Ulama’ yang menjadi pewaris Nabi khususnya Imam 4 yaitu; Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Chanafi dan Imam Chambali apbila seseorang tidak mampu untuk ber Ijtihad dalam memahami hukum-hukum Islam.

9. Atap Masjid yang bertingkat 3, bermakna setelah seseorang  mengaku Islam maka tidaklah cukup hanya dengan bersyariat saja maka sebaiknya di teruskan dengan 3 tingkat yang selanjutnya, yaitu; Thoriqoh, Ma’rifat dan Chaqiqot yang sudah tidak bisa untuk di pisah-pisah lagi atau harus berjalan bersama-sama (Walloohu A’alam bishshowaab).

Pembangunan Masjid Agung Sewulan di kerjakan langsung oleh beliau Kyai Ageng Basyariyah dan menantu beliau, (R. Mas Muh Santri / Tumenggung Alap-Alap Kuncen, Caruban, Madiun) sebelum membangun Masjid tersebut Kyai Ageng Basyariyah menghendaki posisi bangunan Masjid agak ke selatan dari posisi pengimaman dengan harapan semua anak cucunya kelak menjadi orang ‘Alim dan Sholeh, sedang menantunya (R. Mas Muh Santri) menghendaki letak pengimaman di sebelah utara dengan harapan agar semua anak cucunya kelak menjadi orang yang terhormat atau seorang Umaro’, akhir kesepakatan adalah pengimaman Masjid di letakkan tepat berada di tengah seperti yang ada seperti sekarang ini dengan harapan anak cucunya kelak selain menjadi orang yang terhormat atau seorang priyayi juga menjadi seorang Ulama’.

Bangunan Masjid dengan pondasi dan tembok dari bata merah yang berukuran ± 20 cm X 40 cm yang di pasang dengan adonan tanah liat dan badeg tebu agar bangunan tersebut kuat dan tidak mudah retak. Sedang atap masjid terbuat dari kayu yang di bentuk Sirap, pada tahun 1922 atap masjid yang berupa sirap diganti dengan genting yang terbuat dari tanah liat di karenakan sudah banyak sirap yang lapuk karena di makan usia, tahun 1924 lantai masjid di renofasi dengan tegel, di tahun 1986 genting masjid di ganti lagi dengan genting baru yang lebih berkualitas.

Di saat membina Pondok Pesantren Sewulan yang beliau dirikan, Kyai Ageng Basyariyah sangat mengutamakan Al-Qur’an, Bahasa Arab / Nahwu Shorof, Syari’at, Thoriqoh, Hakikat dan Ma’rifat, semua ilmu yang beliau punyai beliau ajarkan pada semua Santri beliau menurut tingkatan masing-masing, baik itu kitab-kitab yang membahas soal Achadiyah, Rububiyah, Thlchaqiyah, Uluhiyah, ‘Alamul Arwach, ‘Alamul Ajsam, Insanul Kamil, Bachrullahuut, Bayan Alif, Bayan Ghoib, Risalah Nuroniyyah, Chaqiqotul Basmalah dsb, sehingga pesantren yang beliau bina lebih terkenal dengan sebutan Pesantren Alchikam / pesantren tasawuf .

Adapun rincian  Imam Rowatib Masjid Al-Basyariyyah mulai tahun 1743 sampai sekarang adalah

  1.     Kyai Ageng Basyariyah (Kyai Ageng Sewulan I)
  2.     Kyai Ageng Maklum Ulama(Kyai Ageng Sewulan II)
  3.     Kyai Ageng Mustaram I (Kyai Ageng Sewulan III)
  4.     Kyai Muh Abror
  5.     Kyai ‘Abdul Karim I
  6.     Kyai Muh Na’im Sudomo
  7.     Kyai ‘Abdul Malik (1942-1948)
  8.     Kyai Muh Qomaruddin (1948-1994)
  9.     Kyai’Abdul Karim II (1994-2002)
  10. Kyai Ma’sum Chasbulloh (2002- sampai sekarang).

Sedang untuk urutan keturunan yang pernah menyandang gelar Kanjeng Kyai Ageng Sewulan yang pernah memerintah perdikan Sewulan Dagangan Madiun adalah

  1. R. Mas Bagus Harun (Kyai Ageng Sewulan I)
  2. R. Mas Maklum Ulama (Kyai Ageng Sewulan II)
  3. R. Mas Mustaram I (Kyai Ageng Sewulan III)
  4. R. Mas Mustaram II (Kyai Ageng Sewulan IV)
  5. R. Mas Rawan  (Kyai Ageng Sewulan V)
  6. R. Mas Wiryo Ulomo (Kyai Ageng Sewulan VI)
  7. R. Mas Ichwan ‘Ali (Kyai Ageng Sewulan VII)

Dan setelah Yogyakarta berdiri, (pada tahun 1755) perdikan Sewulan membawahi: Perdikan Tawangsari Tulungagung, Perdikan Uteran Madiun, Perdikan Banjarsari Madiun dan Perdikan Patihan Rowo Kertosono Nganjuk sehingga Kyai Ageng Sewulan berkedudukan sebagai Wedana Bupati yang bertanggung jawab langsung kepada Sultan atas kelancaran pemerintahan pada semua wilayah di bawahnya

 

8. MASA MUDA R. MAS BAGUS HARUN

 

Kyai Ageng Prongkot sebagai penguasa di daerah Ponorogo waktu itu  dengan gelar Pangeran Nolojoyo atau Dugel Kesambi yang juga masih punya jalur keturunan  Mataram. Beliau mempunyai 9 putra yaitu :

  1. R. Mas Bagus Harun
  2. Ny. Mas Rr Mardliyah
  3. R. Mas Dzul Qohar
  4. R. Mas Anom Murjaya
  5. Ny. Mas Rr Shibah
  6. Ny. Mas Rr Jatmika
  7. R. Mas Marta Jaya
  8. Ny. Mas Rr Ronggo
  9. Ny. Mas Rr Kuru

Walaupun beliau adalah seorang putra pembesar daerah ponorogo, namun beliau tidak dididik dengan aturan atau tatacara kebangsawanan tapi beliau di didik ala pesantren, ini di karenakan Kyai Ageng Nala Jaya berharap agar putra-putrinya kelak dapat meneruskan perjuangan penyiaran agama islam. Untuk itulah R. Mas Bagus Harun di pondokkan di pesantren Gerbang Tinatar Tegal Sari Ponorogo sekaligus nyuwita pada Kyai Ageng Muh Besari.

Sewaktu R. Mas Bagus Harun nyuwita, beliau sangat taat (sam’an watho’atan) kepada Kyainya sehingga menyebabkan hubungan beliau dan Sang Kyai sangat dekat sekali, bahkan di waktu Sang Kyai berkenan untuk dahar atau membersihkan diri maka beliaulah yang yang di percaya untuk menyiapkan dan menunggu hingga selesai, dan hampir semua ilmu yang dimiliki Kyai Ageng Muh Besari telah di ajar kan pada beliau, dan beliaulah yang kelak akan menjadi Mursyid akbar Thoriqoh Naqsyabandiyah, Thoriqoh Syathoriyah dan  Thoriqoh A’maliyah sebagai generasi penerus Kyai Ageng Muh Besari. dan Selama nyantri di Tegal Sari, beliau sering melakukan perjalanan spiritual/ber ’uzlah ditempat pertapaan/petilasan para Auliya’ seperti Gunung Tidar Magelang, Pantai Cilacap, Nusa Kambangan, Gunung Lawu, Gunung Wilis, pantai Puger dan sebagainya

9. JANGKA UNTUK KETURUNAN KYAI AGENG NALAJAYA

 

Pendisil-pendisil

Pendita leng-ulengan

Gedebuk jaran tibo lurung

Lengkong sekati lengkong

Anakmu di gondola uwong

Kari ndomblong

Sak solahe sak salahe

Nalajaya kembang buntute

Katek loro ngombe

Wanine cedak omahe

Dong dong dong brus

Sopo keli kempas kempis

 

10. PANGERAN MANGKU BUMI (Sultan Yogyakarta I 1755-1792) DAN R. MAS SA’ID                               (Adipati Mangku Negara I)

Setelah tertumpasnya pemberontakan R. Mas Garendi /Sunan Kuning/Sunan Amangkurat (pemberontakan pacinan 1742)    , keadaan Mataram kembali tentram, tetapi di pihak lain pengaruh kompeni belanda di Mataram juga semakin kuat, setelah di tanda tanganinya perjanjian antara Sunan P B II dan Belanda yang isinya sangat merugikan dan semakin mempersempit wilayah kekuasaan mataram dan banyak kerabat keraton yang semakin tidak senang pada Sunan. selain itu, sisa-sisa pengikut R. Mas Garendi yang belum tertangkap juga masih ada seperti pangeran Martapura (Adipati Grobokan) dan Pangeran Surya Kusuma (R Mas Sa’id) yang juga merupakan salah satu dari putra Pangeran Mangku Negara yang mengadakan perlawanan pada Mataram dengan alasan tidak senang pada Sunan karna tidak punya pendirian yang tetap, selain itu ayahandanya juga di tuduh oleh Sunan  P B II telah serong dengan dengan salah satu selir Sunan, sehingga menyebabkan P Mangku Negara mengadakan perlawanan  pada Sunan walaupun akhirnya dapat di kalahkan dan di buang di Sailan

Pengikut R. Mas Sa’id terus mengadakan perlawanan dengan memusatkan perlawanan di Sukowati hingga pada tahun 1745 perlawanan R. Mas Sa’id masih terus berlangsung sehingga Sunan P B II mengadakan sayembara yang isinya yaitu; barang siapa yang bisa menundukkan perlawanan R. Mas Sa’id, akan diberi hadiah tanah Sukowati, Ternyata P. Mangku Bumi yang menyanggupi untuk mengembalikan  ketentraman Mataram dari perlawanan R. Mas Sa’id, Maka terjadilah pertempuran antara pengikut P. Mangku Bumi dan pengikut R. Mas Sa’id di Sukowati, sebenarnya R. Mas Sa’id adalah menantunya sendiri dan Sukowati akhirnya dapat di rebut dan di amankan walaupun R. Mas Sa’id dan P. Martapura belum  dapat di tangkap. Tapi setelah Sukowati dapat di rebut dan di amankan oleh P. Mangku bumi, ternyata  Sunan belum bisa menepati janjinya karena masih di pengaruhi oleh Patih Pringgalaya serta Belanda, menurut mereka P. Mangku Bumi belumlah berhasil memenangkan sayembara ini karena R. Mas Garendi dan para pengikutnya masih saja mengadakan perlawanan dari luar Sukowati. Atas saran serta masukan-masukan dari Patih Pringgoloyo dan para pendukungnya, akhirnya Sunan mencabut penganugerahan Sukowati kepada P. Mangku Bumi, akibatnya P. Mangku Bumi sangat kecewa, Dan kekecewaan itu bukan di karenakan tidak jadi menerima  anugerah tanah Sukowati, tapi di karenakan tidak tetapnya pendirian Sunan yang seharusnya memberi contoh dalam menepati janji sesuai dengan kedudukan yang dimilikinya, yaitu SABDA PANDITA RATU TAN KENO ORA WOLA-WALI. namun demikian, P. Mangku Bumi masih dapat bersabar diri.

ketika Gubernur Jenderal Belanda Van Inholf berkunjung ke Surakarta (tahun 1746) maka oleh Sunan di adakan paseban agung yang juga di hadiri oleh para bangsawan Mataram, saat itu Van Inholv juga mendukung untuk tidak menganugerahkan Sukowati kepada P. Mangku Bumi ….

( bersambung…/ dalam proses pemindahan/penulisan ulang dari buku ke blog, gak bisa di copy-paste, karena filenya hilang)

 dan mohon jangan di copy-paste dulu, karena belum di edit dan diteliti ulang..

 

Iklan
Dipublikasi di Utama | 5 Komentar

Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullohi wa barokaatuh..


Selamat datang di Padepokan Kraton Sewu. Blog ini merupakan Forum Silaturrahim seluruh Bani Kyai Ageng Basyariyah ( R.M. Bagus Harun ) Sewulan – Madiun. Padepokan Maya ini diharap menjadi tempat berteduh, sharing, komunikasi dan musyawarah tentang hal-hal yang semoga bermanfaat bagi diri, keluarga, bangsa, negara dan agama.

Dipublikasi di Utama | 3 Komentar