Beberapa versi Hikayat tentang Kidang Telangkas/ Jaka Tarub/ Ki Ageng Tarub


Versi I

Dalam kisah tentang raja-raja Mataram Yogyakarta  disebutkan bahwa salah satu nenek-moyang mereka ada yang dari golongan bidadari. Alkisah..Jaka Tarub adalah pemuda sederhana yang patuh terhadap ibu angkatnya dan mempunyai obsesi mempunyai istri seorang bidadari yang cantik dan berjiwa suci agar dia dapat mempunyai anak keturunan yang mulia. Pada suatu hari, dia pergi ke puncak gunung yang dianggap keramat oleh penduduk desa setempat. Ternyata di puncak gunung tersebut ada sebuah telaga kecil yang indah. Ketika dia mendekat ternyata ada tujuh bidadari sedang mandi bersenda-gurau di telaga tersebut. Jaka Tarub mendekat ke arah tumpukan pakaian bidadari dan mengambil salah satu selendang dari para bidadari tersebut. Selesai mandi ketujuh bidadari berpakaian mengambil selendang dan terbang, hanya salah seorang tetap tinggal karena kehilangan selendang dan tidak bisa terbang dengan bidadari lainnya.

Jaka Tarub datang dan menyarankan agar lebih baik tinggal di rumahnya, daripada berjalan kaki pergi sendirian yang berbahaya. Bidadari tersebut menurut, bahkan akhirnya bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan tersebut bersedia menjadi isteri Jaka Tarub. Mereka dikaruniai putri cantik  bernama Retno Nawangsih. Konon sebagai seorang istri Dewi Nawangwulan cukup memasak dengan sebutir beras yang menghasilkan nasi sebakul. Dewi Nawangwulan berpesan agar tidak ada seorang pun yang membuka tutup penanak nasi tersebut. Pada suatu hari, Jaka Tarub melanggar pesannya dan membuka tutup penanak nasi. Akibatnya sejak saat itu, Dewi Nawangwulan menanak nasi seperti biasa. Pada suatu hari karena persediaan lumbung beras semakin sedikit, maka Dewi Nawangwulan menemukan selendang bidadarinya disembunyikan di bawah lumbung tersebut. Akhirnya Dewi Nawangwulan mengetahui kalau suaminya yang sengaja mengambil selendang bidadari agar dia tak bisa terbang. Akhirnya Dewi Nawangwulan pergi ke langit dan tak ada kabar beritanya lagi.

Hubungan jiwa dengan bidadari meningkatkan spiritualitas Jaka Tarub. Jaka Tarub menjadi seorang yang bijak dan berpengaruh di desanya, bahkan bersahabat dengan Prabu Brawijaya dari Majapahit. Ki Ageng Tarub juga memahami tentang seluk-beluk perawatan “keris”, dan pada suatu hari sang prabu mengutus Ki Buyut Mahasar dan putra angkatnya bernama Bondan Kejawan untuk belajar tentang “keris” pada Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub mengetahui bahwa Bondan Kejawan sebenarnya adalah salah satu putra kandung dari Sang Prabu Brawijaya yang sengaja dijadikan anak angkat Ki Buyut Mahasar demi tujuan tertentu. Kini sang pangeran diminta belajar dari dirinya dan hidup di desa. Ki Ageng Tarub memahami, putrinya adalah sebuah wadah yang suci, sedangkan Raden Bondan Kejawan mempunyai darah penguasa Nusantara. Kombinasi keduanya akan menurunkan putra-putri yang perkasa. Ketika Retno Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan. Setelah Ki Ageng Tarub meninggal dunia, maka Raden Bondan Kejawan menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Retno Nawangsih melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa disebut  Ki Getas Pandawa. Ki Getas Pandawa kemudian mempunyai putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2011/07/22/renungan-bhagavatam-raja-pururawa-kehendak-kuat-dalam-menggapai-tujuan/

Versi II

Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat dari Jawa Tengah yang mengisahkan tentang kehidupan Ki Jaka Tarub yang setelah tua bergelar Ki Ageng Tarub, tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Kesultanan Mataram, dari pihak putrinya, yaitu yang bernama Retno Nawangsih.

Alur cerita

Suatu hari Jaka Tarub berangkat berburu di kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi.

Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Ketika 7 bidadari selesai mandi, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang.

Jaka Tarub muncul datang menolong. Bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumahnya. Keduanya akhirnya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Dewi Nawangsih.

Selama hidup berumah tangga, Nawangwulan selalu memakai kesaktiannya. Sebutir beras bisa dimasaknya menjadi sebakul nasi. Suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan Nawangwulan supaya tidak membuka tutup penanak nasi. Akibatnya kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.

Maka, persediaan beras menjadi cepat habis. Ketika beras tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendang pusakanya tersembunyi di dalam lumbung. Nawangwulan pun marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut.

Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya demi bayi Nawangsih ia rela turun ke bumi untuk menyusui saja.

Pernikahan Nawangsih

Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.

Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.

Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.

Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Referensi

  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jaka_Tarub

 Versi III

Pada kepercayaan lokal tradisional yang belum dipengaruhi oleh agama-agama pendatang, manusia adalah keturunan Dewa-Dewi. Dewa-Dewi dalam konteks ini adalah pancaran dari atribut-atribut Ilahi. Baru kemudian dewa-dewa tersebut diberi nama sesuai dengan mitologi para dewa. Oleh karena manusia adalah keturunan dewa, maka di dalam diri manusia ada energi dewa. Sejauh mana energi tersebut bisa dipancarkan, tergantung orang yang bersangkutan. Berkaitan dengan kepercayaan itu, setiap tokoh-tokoh terkenal seperti misalnya kepala suku, penguasa-penguasa setempat dan raja-raja, membuat cerita yang intinya mengisahkan bahwa dirinya adalah keturunan Dewa. Misalnya; Airlangga adalah keturunan Dewa Wisnu, Ken Arok adalah keturunan Dewa Brahma, Kertanegara adalah keturunan Dewa Siwa dan Budha, dan sebagainya.

Di dalam cerita tutur dan sebagian juga dituliskan di Babad Tanah Jawi. Upacara Midodareni bermula dari cerita Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah seorang keturunan Raja Barwijaya dari Majapahit yang hidup di desa Tarub. Ia diasuh oleh Ki Ageng Tarub dan Nyi Ageng Tarub. Pada suatu hari Ki Ageng Tarub berpesan agar Jaka Tarub tidak bermain di sendang larangan, tanpa penjelasan mengapa tidak boleh pergi ke sendang larangan. Dengan larangan tersebut, Jaka Tarub justru menjadi semakin ingin tahu, ada apa di sendang larangan tersebut.

Pada sore hari yang cerah, dengan sembunyi-sembunyi, Jaka Tarub pergi ke sendang larangan. Sesampainya di sendang, matanya terbelalak penuh ketakjuban. Ada tujuh gadis yang luar biasa cantiknya sedang mandi di telaga. Badannya yang tanpa busanya sungguh amat sempurna. Siapakah gerangan ke tujuh gadis tersebut? Tentunya mereka bukan gadis sembarangan. Jaka Tarub sangat terpana dengan pemandangan tersebut, namun ia takut kalau kehadirannya diketahui oleh mereka. Oleh karenannya ia tidak berani keluar dari persembunyiannya. Dari balik persembunyiannya, Jaka Tarub melihat pakaian para gadis yang bertumpuk di atas batu. Maka timbulah niat nakalnya untuk mengambil pakaian tersebut. Dengan sangat hati-hati, Jaka Tarub mengambil pakaian yang bertumpuk tak beraturan itu dengan ‘tulup’nya. Setelah mendapatkan satu pakaian, Jaka Tarub segera meninggalkan Sendang larangan dengan langkah yang berusaha tidak menimbulkan suara.

Sesampainya di rumah, hari telah senja, Jaka Tarub cepat-cepat menyembunyikan pakaian yang dicurinya dari sendang larangan di tempat yang aman. Walaupun tidak ada orang yang tahu, dengan apa yang dilakukannya, termasuk Ki Ageng Tarub, Jaka Tarub tidak tenang hatinya. Pikirannya selalu terganggu oleh bayangan tujuh gadis yang mandi di Sendang larangan. Mumpung hari telah menjadi semakin gelap, Jaka Tarub ingin kembali lagi ke sendang larangan. Setelah mendekati sendang larangan, Jaka Tarub mulai memperlambat langkahnya. Tiba-tiba telinganya mendengar orang menangis. Jaka Tarub berhenti untuk memastikan pendengarannya. Benar suara tangis seorang wanita dari arah sendang larangan. Jaka Tarub yang memang pemberani, mendekati arah suara orang yang menangis. Dalam remang cahaya bulan paro tanggal, mata Jaka Tarub yang tajam seperti elang dapat melihat bahwa orang yang menangis tersebut adalah salah satu dari gadis yang mandi sore tadi di sendang larangan. Dengan desiran hati yang tak terkira, Jaka Tarub menyapa dengan lembut Gadis yang menangis terisak-isak, dengan menutupi bagian tubuhnya yang terlarang. Gadis tersebut terkejut tak terkira, mendapat sapaan Jaka Tarub. Ia memberikan isyarat agar Jaka Tarub tidak mendekat. Sebagai jejaka keturunan raja besar, Jaka Tarub cepat tanggap terhadap apa yang harus diperbuat. Kain selimut yang dibawa dilemparkan kepada Gadis sempurna itu. Dengan cekatan kain tersebut ditangkap dan kemudian dengan cepat dipakai untuk kembenan. Sambil mengucapkan terimakasih, tanpa ditanya gadis tersebut mengaku bernama Nawangwulan. Ia adalah salah satu dari tujuh bidadari yang bercengkerama di sendang ini. Sebelum senja tiba mereka harus segera bergegas kembali ke kahyangan. Namun malang bagi Nawangwulan, karena pakaiannya hilang, ia terpaksa ditinggal oleh keenam Bidadari yang lain kembali ke kahyangan. Karena tanpa Pakaian Bidadari, Nawangwulan tdak bisa terbang kembali ke kahyangan.

Tidak terlintas di benak Jaka Tarub, bahwa perbuatannya yang sekedar iseng tersebut mendatangkan malapetaka terhadap salah satu bidadari kahyangan yang bernama Nawangwulan. Namun jika mengembalikan pakaian itu, sama halnya dengan mengaku sebagai pencuri. Jaka Tarub tidak mau dianggap sebagai pencuri, ia ingin tampil dihadapan Nawangwulan sebagai penolong. Maka kemudian ia menawarkan Nawangwulan untuk singgah di rumahnya. Dan Jaka Tarub berjanji akan mencarikan pakaian Nawangwulan sampai ketemu. Tidak ada pilihan bagai Nawangwulan, selain mengiyakan apa yang ditawarkan Jaka Tarub.

Kabar mengenai keberadaan seorang Bidadari di rumah Ki Ageng Tarub cepat tersebar. Para penduduk Desa Tarub pada berdatangan untuk menyaksikan kecantikan dari seorang Bidadari. Nawangwulan sungguh terhibur dengan keramahan seluruh warga Desa Tarub. Di Kahyangan para Dewa-Dewi, Nawangwulan tidak pernah mendapat perlakuan semulia ini.

Sumber : http://www.tembi.org/primbon/20100128.htm

 Versi IV

Siapa sebenarnya Syekh Maulana Maghribi itu? Berdasarkan salah satu cerita atau babad sejarah Kerajaan Demak, Syekh Maulana Maghribi adalah seorang pemeluk agama Islam dari Jazirah Arab. Beliau adalah penyebar agama Islam yang memiliki ilmu sangat tinggi. Sebelum sampai di Demak, beliau terlebih dahulu mengunjungi tanah Pasai (Sumatera). Sebuah riwayat juga mengatakan bahwa Maulana Maghribi masih keturunan Nabi Muhammad SAW dan masuk golongan waliullah di tanah Jawa. Syekh Maulana Maghribi mendarat di Jawa bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Demak. Beliau datang dengan tujuan untuk mengIslamkan orang Jawa. Runtuhnya Kerajaan Majapahit (tonggak terakhir kerajaan Hindu di Jawa) diganti dengan berdirinya Kerajaan Demak yang didukung oleh para wali (orang takwa). Sesudah pelaksanaan pemerintahan di Demak berjalan baik dan rakyat mulai tenteram, para wali membagi tugas dan wilayah penyebaran agama Islam. Tugas pertama Syekh Maulana Magribi di daerah Blambangan, Jawa Timur. Beberapa saat setelah menetap di sana, Syekh Maulana Maghribi menikah dengan putri Adipati Blambangan. Namun pernikahan baru berjalan beberapa bulan, beliau diusir oleh Adipati Blambangan karena terbukanya kedok bahwa Syekh Maulana ingin menyiarkan agama Islam. Setelah meninggalkan Blambangan, Syekh Maulana Maghribi kemudian menuju Tuban.

Di Kota tersebut, Syekh Maulana Maghribi ke tempat sahabatnya yang sama-sama dari Pasai, satu saudara dengan Sunan Bejagung dan Syekh Siti Jenar. Dari kota Tuban, Syekh Maulana Maghribi kemudian melanjutkan pengembaraan syiar agamanya ke Mancingan. Ketika menyebarkan Islam di Mancingan, Syekh Maulana sebenarnya sudah memiliki putra lelaki bernama Jaka Tarub (atau Kidang Telangkas) dari istri bernama Rasa Wulan, adik dari Sunan Kalijaga (R Sahid). Tatkala ditinggal pergi ayahnya, Jaka Tarub masih bayi. Saat meninggalkan Blambangan, sesungguhnya istri Syekh Maulana Maghribi juga tengah mengandung seorang putra yang kemudian bernama Jaka Samudra. Belakangan hari Jaka Samudra juga menjadi waliullah di Giri, yang bergelar Prabu Satmata atau Sunan Giri. Sebelum Syekh Maulana Magribi sampai Mancingan, di sana sudah menetap seorang pendeta Budha yang pandai bernama Kyai Selaening. Kediaman pendeta tersebut di sebelah timur Parangwedang. Tempat pemujaan pendeta dan para muridnya di candi yang berdiri di atas Gunung Sentana. Mula-mula Syekh Maulana menyamar sebagai murid Kyai Selaening. Dalam kehidupan keseharian, Syekh Maulana kadang-kadang memperlihatkan kelebihannya pada masyarakat setempat. Lama kelamaan Kyai Selaening mendengar kelebihan yang dimiliki Syekh Maulana Maghribi. Akhirnya Kiai Selaening memanggil Syekh Maulana Maghribi dan ditanya siapa sebenarnya dirinya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Syekh Maulana Maghribi untuk menyampaikan kepada Kyai Selaening tentang ilmu agama yang sebenarnya. Kedua orang tersebut kemudian saling berdebat ilmu. Akan tetapi karena Kyai Selaening tidak mampu menandingi ilmu Syekh Maulana, sejak saat itu Kiai Selaening ganti berguru kepada Syekh Maulana. Kiai Selaening kemudian masuk agama Islam. Pada waktu itu, di padepokan Kyai Selaening sudah ada dua orang putra pelarian dari Kerajaan Majapait yang berlindung di sana yaitu Raden Dhandhun dan Raden Dhandher. Keduanya anak dari Prabu Brawijaya V dari Majapait. Karena Kyai Selaening masuk Islam, dua putra Raja Majapait itu juga kemudian menjadi Islam. Kedua orang itu kemudian berganti nama menjadi Syekh Bela-Belu dan Kyai Gagang (Dami) Aking. Meski berhasil mengislamkan Kiai Saleaning dan para muridnya, Syekh Maulana tidak segera meninggal Mancingan. Di sana beliau tinggal selama beberapa tahun, membangun padepokan dan mengajarkan agama Islam kepada warga desa. Beliau tinggal di padepokan di atas Gunung Sentono dekat candi. Candi tersebut sedikit demi sedikit dikurangi fungsinya sebagai tempat pemujaan. Hingga meninggal, Kyai Selaening masih menetap di padepokan sebelah timur Parangwedang. Sebelumnya beliau berpesan kepada anak cucunya agar kuburannya jangan diistimekan. Baru tahun 1950-an makam Kiai Selaening dipugar oleh kerabat dari Daengan . Kemudian pada tahun 1961 diperbaiki hingga lebih baik lagi oleh salah seorang pengusaha dari kota. Sesudah dianggap cukup menyampaikan syiar di sana, Syekh Maulana meninggalkan Mancingan kemudian berpesan agar padepokannya dihidup-hidupkan seperti halnya ketika orang-orang itu menjaga candi. Di padepokan tersebut kemudian orang-orang membuat makam bernisan. Siapa yang ingin meminta berkah Syekh Maulana cukup meminta di depan nisan tersebut, seolah berhadapan langsung dengan beliau. Sesudah dari Mancingan, Syekh Maulana Maghribi atau Syekh Maulana Malik Ibrahim melanjutkan syiar agama Islam ke wilayah Jawa Timur. Setelah meninggal jenazahnya dimakamkan di makam Gapura, wilayah Gresik. Silsilah Syekh Maulana Maghribi menurunkan raja-raja Mataram: — Syekh Jumadil Qubro (Persia Tanah Arab) — Ny Tabirah — Syekh Maulana Maghribi + Dewi Rasa Wulan, putri Raden Temenggung Wilatikta Bupati Tuban (diperistri Syekh Maulana) —Jaka Tarub (memperistri Dewi Nawangwulan) — Nawangsih (memperistri Raden Bondhan Kejawan) — Kiai Ageng Getas Pendhawa — Kiai Ageng Sela — Kiai Ageng Anis/Henis — Kiai Ageng Pemanahan (Kiai Ageng Mataram) — Kanjeng Panembahan Senapati — Kanjeng Susuhunan Seda Krapyak-Kanjeng Sultan Agung Anyakrakusuma-Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat (Seda Tegalarum)-Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I-Kanjeng Susuhunan Mangkurat Jawi-raja-raja Keraton Surakarta, Yogyakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran. Kendati makam Syekh Maulana di Gunung Sentana bukan tempat jenazah yang sebenarnya, tetapi setiap ada rombongan peziarah Wali Sanga selalu memerlukan ziarah di makam Syekh Maulana Parangtritis. Seperti halnya makam leluhur keraton lainnya, setiap bulan Sya’ban, makam Syekh Maulana Maghribi juga menerima uang dan perlengkapan pemberian dari Keraton Yogyakarta. Setiap tanggal 25 Sya’ban di makam ini diadakan upacra sadranan. ***Sumber : http://id.rodovid.org/wk/Orang:354655

Versi V

Air terjun Sekar Langit merupakan tetesan mata air yang berasal dari puncak Gunung Telomoyo, gunung yang membatasi antara Salatiga dan Magelang di Jawa Tengah. Dalam bahasa Jawa, Sekar berarti bunga, dan Langit berarti langit, maka jika diterjemahkan berarti bunga yang turun dari langit. Air terjun setinggi sekitar 30 meter ini aliran air nantinya akan menuju barat ke aliran Sungai Elo dan nantinya bermuara di laut selatan Jawa.

Wilayah dimana air terjun ini berada masuk ke dalam wilayah Telogorejo, Magelang, Jawa Tengah. Warga sangat menghormati air terjun yang satu ini lantaran sebuah runtutan kisah dongeng klasik dibalik pesona Sekar Langit. Disebut-sebut, Sekar Langit ini merupakan air terjun yang ada dalam legenda Joko Tarub, seorang pria iseng yang mencuri selendang bidadari yang sedang mandi di sebuah air terjun.

“Dari para orang tua dan sesepuh desa dahulu memang menceritakan seperti itu, bahwa air terjun Sekar Langit ini adalah air terjun yang ada dalam cerita legenda Joko Tarub, yaitu tempat dimana Joko Tarub mengintip bidadari yang mandi di air terjun,” terang Subandi (65), sesepuh kampung Telogorejo.

Dalam legenda rakyat ini menceritakan, Joko Tarub merupakan seorang anak Bupati Tuban, Jawa Timur yang sejak kecil hidup dan tinggal di Desa Tarub, salah satu desa yang kini berada di wilayah Salatiga.

(Pendapat / Analisis dari salah satu admin blog Padepokan Kraton Sewu : ” Di versi V ini dikatakan bahwa Jaka Tarub adalah putra Bupati Tuban. Padahal menurut cerita versi sebelumnya tadi ( cerita versi IV ), bahwa Jaka Tarub adalah putra dari Syech Maulana Maghribi . Sang Syech menikah dengan Dewi Roso Wulan, putri dari  Bupati Tuban Wilwatikta. Jadi bisa  jadi, bahwa waktu itu, tak lama setelah “menikah”, Syech Maulana Maghribi pun kembali berkelana berdakwah, sehingga sang bayi ( Kidang Telangkas yang kemudian kelak bernama Jaka Tarub) selain diasuh istri beliau (Dewi Roso Wulan),  juga oleh  mertua beliau  ( Sang Bupati) . Sehingga sangat mungkin jika beredar anggapan, bahwa Jaka Tarub adalah putra Sang Bupati Tuban , karena setahu masyarakat,  Dewi Roso Wulan masih perawan ( Dan waktu itu memang menjadi perawan kembali).

Nama “Kidang Telangakas” adalah nama kecil Jaka Tarub. Nama ini berasal dari kejadian sebelumnya, yaitu bertapanya Dewi Rasa Wulan dengan tapa    “ngidang” dekat  telaga dalam hutan .Ia tidak menyadari bahwa di atas pepohonan tak jauh dari tempat ia bertapa, ada seorang Syech ( yang tak lain adalah Syech Maulana Maghribi) yang sedang tapa “ ngalong”. Bayang2 atau pantulan  kedua manusia suci tadi bersatu dalam telaga. Terjadilah sebuah pernikahan ruhani yang mungkin tak bisa dinalar oleh akal atau syareat lahir.Yang jelas sang Dewi akhirnya hamil, dan tak lama kemudian melahirkan. Singkat cerita, Sang Dewi menerima dengan lapang dada atas kejadian ini karena merupakan takdir atau garis hidup yang memang harus  ia jalani, namun ia mengajukan permohonan pada Syech, agar dirinya minta “perawan” kembali. Sang Syech yang memang dianugerahi macam2 karomah pun, segera mohon pada Tuhan agar hamba-Nya yang bernama Dewi Roso Wulan ini , perawan kembali. Dan akhirnya keajaiban terjadi, Dewi Roso Wulan pun kembali  jadi wanita perawan  [ mengingatkan kita pada keperawanan Siti Maryam as walau ia melahirkan Nabi Isa as]. Adapun mengenai nama “Jaka Tarub”, karena memang ia oleh keluarga Bupati Tuban akhirnya dititipkan untuk diasuh oleh sesepuh suatu daerah bernama Tarub. Sesepuh itu berjuluk Ki Ageng Tarub. Beliau beserta istrnya, Nyai Ageng Tarub , kebetulan tidak mempunyai putra atau penerus keturunan. Oleh karena itulah mereka berdua sangat berbahagia menerima kehadiran seorang bayi tampan, apalagi dari keluarga Bupati Tuban. Akan tetapi tak lama kemudian, Kiai Ageng wafat,  jadilah Nyai Ageng seorang janda. Ia mengasuh si Kedang Telangkas hingga tumbuh jadi seorang Jejaka( Joko). Masyarakat sering memanggilnya dengan sebutan “Joko Tarub”, artinya seorang anak jejaka asuhan Nyai Ageng Tarub.Nah, semua itu bisa saja terjadi. Namun karena tanpa dasar yang kuat, maka pendapat ini  silahkan dikategorikan bersifat “ konon ”.Mengenai kebenaran cerita yang sesungguhnya bagaimana, ya WALLOHU A’LAM. Nah mari kita lanjutkan membaca cerita versi ke V di atas ” :

 

Joko Tarub adalah seorang pemuda desa yang memiliki kegemaran berburu burung. Suatu pagi, seperti biasanya Joko Tarub melaksanakan rutinitasnya berburu burung. Selama seharian keluar masuk hutan namun burung buruan tak didapatkannya, hingga tibalah Joko Tarub di suatu belantara lebat di kaki Gunung Telomoyo.

Di hutan ini, bukannya suara kicauan burung yang didengarnya, namun sayup-sayup dari kejauhan Joko Tarub muda malah mendengar suara canda tawa para gadis disela-sela suara gemercik air terjun.

Terbawa rasa penasaran, ditelusurilah arah suara itu berasal. Bukan kepalang terkejutnya Joko Tarub akan apa yang ditemuinya dari sumber suara itu, dilihatnya sekelompok gadis cantik sedang asik mandi tanpa mengenakan busana sehelaipun.

Dari balik bebatuan, pemuda ini mengintip pemandangan yang seumur hidup belum pernah disaksikannya tersebut, hingga kemudian munculah niat nakal Joko Tarub untuk mengambil salah satu dari beberapa pakaian berikut selendang yang tergeletak di bebatuan tak jauh dari tempatnya mengintip.

Matahari perlahan terbenam, pertanda senja mulai tiba. Para gadis-gadis cantik yang sedang bugil ini mulai menyudahi mandinya untuk segera bergegas menuju ke bebatuan tempat dimana pakaiannya diletakkan. Satu persatu, gadis-gadis ini mulai mengenakan pakaiannya masing-masing.

Setelah semua pakaian para gadis dikenakan, kain selendang pun diikatkan di pinggulnya. Satu persatu, gadis-gadis misterius ini mulai terbang dan melesat menuju langit. Diketahui, ternyata selendang yang dikenakan di pinggul para gadis tersebut adalah sebagai pengganti sayap yang dipergunakan untuk terbang menembus awan.

Baru disadari oleh Joko Tarub, bahwa ternyata gadis cantik yang semenjak tadi diintipnya itu adalah sekelompok bidadari dari kayangan yang sedang turun ke bumi untuk mandi di air terjun yang kini disebut air terjun Sekar Langit ini.

Tak sia-sia Joko Tarub mencuri pakaian dan selendang dari salah satu bidadari jelita tersebut. Ini artinya, Joko Tarub akan berhasil memiliki satu diantara para makhluk cantik penghuni khayangan ini, karena pastilah akan ada salah satu bidadari yang tidak bisa pulang kembali ke khayangan.

Benar, semua bidadari telah terbang kembali ke khayangan, tinggal satu bidadari saja yang masih tertinggal di air terjun belantara ini, lantaran pakaian dan selendangnya telah dicuri oleh Joko Tarub tadi. Bidadari malang ini bernama Nawang Wulan.

Bak seorang dewa penolong, tiba-tiba Joko Tarub muncul dari balik bebatuan untuk menemani kegelisahan Nawang Wulan. Ditengah kebingungannya, akhirnya Nawang Wulan menerima ajakan Joko Tarub untuk diajak pulang ke rumah Joko Tarub.

Sesampainya di rumah, Joko Tarub bergegas lari ke lumbung padi yang terletak di belakang rumahnya. Segera Joko Tarub menyembunyikan pakaian serta selendang milik Nawang Wulan yang dicurinya tadi.

Setelah cukup lama dua sejoli ini hidup tanpa ikatan dalam satu rumah, akhirnya Joko Tarub pun menikahi Nawang Wulan. Dari pernikahan antara manusia dengan bidadari ini akhirnya terlahir seorang bayi perempuan bernama Nawangsih.

Sebagai makhluk khayangan, ternyata Nawang Wulan memiliki kesaktian, yaitu mampu merubah setangkai padi menjadi nasi sebakul. Jadi, untuk mencukupi kebutuhan makan nasi sekeluarga, Nawang Wulan hanya cukup membutuhkan setangkai padi saja yang dimasukan ke dalam sebuah bakul yang ditutup untuk nantinya akan menjadi nasi sebakul.

Namun pada suatu hari kesaktian Nawang Wulan ini akhirnya hilang. Pagi itu, Nawang Wulan akan berangkat ke sungai untuk mencuci pakaian. Sebelum berangkat, wanita cantik ini berpesan kepada Joko Tarub suaminya untuk sementara mengasuh Nawangsih di rumah dan jangan sekali-kali membuka bakul nasi sebelum dirinya pulang.

Hari mulai siang, Nawang Wulan tak kunjung pulang, sedangkan Nawangsih menangis terus-menerus. Joko Tarub pun kebingungan, dirinya lantas membuka bakul hendak mengambil nasi untuk menyuapi Nawang Wulan. Bukannya nasi yang didapat, namun Joko Tarub hanya menemukan setangkai padi dalam bakul nasi tersebut.

Sampainya di rumah, Nawang Wulan melihat bakul nasi telah terbuka. Kecewanya Nawan Wulan kepada Joko Tarub yang tidak mengindahkan larangannya. Ini artinya kesaktian yang dimiliki Nawang Wulan akan hilang.

Setelah kejadian itu, hampir setiap hari Nawang Wulan harus mengambil beras di lumbung belakang rumah untuk ditanaknya menjadi nasi. Sehingga untuk membuat nasi, dirinya harus menanak nasi sendiri, tanpa bisa menggunakan kesaktiannya.

Lama kelamaan padi di lumbung pun kian menyusut. Pada suatu hari di sela-sela tumpukan padi bagian paling bawah, Nawang Wulan menemukan sebuah bungkusan kain berisi pakaian dan kain selendang miliknya yang ketika dahulu hilang saat mandi di air terjun bersama teman-taman bidadari.

Baru disadari Nawang Wulan ternyata selama ini dirinya telah dibohongi oleh suaminya, sesungguhnya pakaian dan selendangnya tidaklah hilang, melainkan dicuri dan disembunyikan oleh Joko Tarub hingga membuat dirinya tidak bisa pulang ke khayangan.

Dikenakanlah kembali pakaian bidadari berikut selendang miliknya, segera berubahlah Nawang Wulan ke wujud aslinya, yaitu bidadari. Dalam kemarahannya, Nawang Wulan menemui Joko Tarub dan bersumpah untuk meninggalkan bumi dan akan tinggal kembali ke khayangan serta untuk selamanya tidak akan menemui Joko Tarub.

Nawang Wulan juga meminta Joko Tarub untuk dibuatkan sebuah dangau, yaitu gubuk bambu kecil yang tertutup rapat. Jika Nawangsih menangis, maka Joko tarub harus meletakkan anak mereka ini di dangau. Jika suara tangis itu sampai ke khayangan, maka Nawang Wulan akan turun ke bumi untuk menyusui dan menidurkan Nawangsih.

Sepeninggal Nawang Wulan, tinggalah Joko Tarub seorang diri yang merawat Nawangsih. Setiap kali putrinya ini menangis, tak lupa Joko Tarub selalu ingat pesan istrinya untuk meletakkan putrinya di dangau.

Joko Tarub hanya bisa meratapi serta mendengarkan suara merdu Nawang Wulan yang sedang menyusui dan menyanyikan lagu tidur untuk Nawangsih dari balik bilik bambu tersebut, tanpa bisa memandang wajah cantik istrinya sedikitpun.

Seiring berjalannya waktu, umur Nawangsih telah beranjak besar dan tidak menyusui lagi. Ini berarti, Nawang Wulan tidak akan turun ke bumi lagi untuk menyusui dan menidurkan putrinya di dangau. Berarti pula, untuk selamanya Joko Tarub tidak bisa mendengar lagi suara merdu Nawang Wulan istrinya.

Membuat Cantik Dan Awet Muda

Kini air terjun yang ada dalam legenda Joko Tarub ini yaitu air terjun Sekar Langit masih sering dikunjungi orang, baik yang ingin sekedar berwisata menikmati indahnya pesona air terjunnya ataupun pun bagi mereka yang ingin mendapat khasiat air dari air terjun ini.

Subandi mengatakan, air dari Sekar Langit banyak dimanfatkan orang karena pancaran khasiatnya. “Mereka percaya bahwa air dari air terjun Sekar Langit memiliki khasiat, baik untuk penyembuhan penyakit atau untuk hal yang lainnya,” kata ayah tiga orang anak ini.

Air terjun Sekar Langit ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, dari penyakit yang ringan seperti gatal-gatal sampai kepada penyakit kronis yang dari kaca mata medis sudah tidak dapat disembuhkan lagi.

“Banyak yang jauh-jauh datang ke sini hanya untuk meminum air dari air terjun Sekar Langit ini. Bahkan, ada pula yang membawa pulang airnya dengan menggunakan botol. Air dari Sekar Langit ini bisa diminum secara langsung, karena berasal dari sumber mata air gunung sehingga terjamin masih alami.”

Dikatakan oleh kakek empat orang cucu ini, tuah keberhasilan Joko Tarub dalam hal menggaet gadis cantik pun juga masih sering terjadi di tempat ini. Artinya, antara pria dan perempaun yang bertemu di tempat ini diyakini suatu saat akan menjadi berjodoh dan menjadi pasangan hidupnya.

“Biasanya, kejadian ini dialami oleh pria dan perempuan sesama pengunjung di air terjun Sekar Langit ini yang sebelumnya sama sekali tidak saling kenal. Tanpa disadari, suatu saat nanti keduanya akan bertemu lagi dan menjadi pasangannya. Hal ini sudah banyak yang membuktikan kebenarannya.”

Bagi yang sulit jodoh terutama kaum pria, juga sering menjadikan tempat ini sebagai tempat ritual untuk mendapatkan pasangan. Dalam melakukan ritual, biasanya batu tempat Joko Tarub mengintip bidadari-bidadari yang sedang mandi di Sekar Langit adalah tempat paling makbul untuk dilakukannya ritual.

Di batu dengan diameter sekitar 5 meter yang terletak di sebelah selatan air terjun, para pengalab berkah pencarian jodoh ini sering melakukan meditasi dengan cara melakukan pembakaran dupa atau kemenyan sambil menghadap ke arah timur laut, yaitu menghadap ke arah air terjun berada.

“Kalau yang memohon seperti itu, biasanya dilakukan pada malam hari, yaitu pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon. Sering sekali pada malam-malam itu saya lihat beberapa pria yang memasuki areal sekitar air terjun Sekar Langit,” katanya.

Masih tentang khasiat dari air terjun Sekar Langit, diyakini air terjun Sekar langit juga berkhasiat untuk menambah aura kecantikan seorang perempuan. Konon dari aura gaib yang terpancar dari air terjun yang satu ini dapat membuat para perempuan akan bertampah cantik bak bidadari.

Dengan mandi atau cukup sekedar membasuh muka saja dengan menggunakan air dari air terjun Sekar Langit, mampu membuat kulit wajah menjadi cerah bersinar serta memperlambat proses penuaan alias awet muda.

Selain itu, ada pula anggapan lain tentang erotisme khasiat dari air terjun Sekar Langit ini, yaitu air dari tempat ini dipercaya mampu dimanfaatkan untuk menambah padat, berisi serat kencangnya payudara perempuan. Caranya yaitu sambil mandi, air terjun yang mengucur ini langsung dikenakan ke bagian utama identitas kewanitaan tersebut.

Dapat dengan cara dikenakan secara langsung, atau boleh juga dikenakan sedikit demi sedikit atau diserempet-serempetkan saja ke buah dada. Yang penting, air dari air terjun Sekar Langit harus mengenai payudara secara langsung sebelum air tersebut jatuh menyentuh bumi.

Nawang Wulan Turun ke Bumi
Warga masyarakat sekitar juga meyakini Nawang Wulan dan teman-teman bidadari dari khayangan masih sering pula turun ke bumi untuk mandi dan bermain-main air serta menikmati segarnya air terjun di Sekar Langit ini.

Kejadian demi kejadian aneh pun acap terjadi di lokasi Langit ini, seolah semakin menguatkan angapan bahwa para makhluk cantik penghuni khayangan memang gemar berada di air terjun Sekar Langit. Misalnya ketika hujan turun, setelah hujan reda sering sekali terlihat warna indah pelangi menghiasi langit sekitar wilayah Telogorejo, wilayah tempat dimana air terjun Sekar Langit berada.

Jika palangi itu diturut ujungnya, maka bias ujung pelangi tersebut akan jatuh berada tepat di air terjun Sekar Langit. Menurut kepercayaan Jawa, pelangi merupakan jalan atau jembatan penghubung antara kahayangan dan bumi yang sering dipergunakan para bidadari yang ingin turun ke bumi.

Selain itu, pada musim kemarau sering terdengar ramai suara perempaun yang berasal dari sekitar letak air terjun Sekar Langit berada. Namun jika didekati asal suara tersebut, maka tidak akan ditemui seorang pun berada di air terjun Sekar Langit ini.

“Saya juga sering menjumpai angsa putih yang berada disekitar air terjun. Tapi jelas, itu bukan angsa sembarangan. Orang Jawa mengatakan, seorang bidadari yang turun ke bumi itu sering menjelma wujudnya menjadi seokor angsa putih jika berada di bumi,” ungkap Subandi. (Ivan Aditya) Sumber : http://krjogja.com/liputan-khusus/mistis/1580/meniru-keberhasilan-joko-tarub-di-air-terjun-sekar-langit.kr

 Versi VI

Indosiar.com – Tergoda ingin punya istri cantik menawan, Jaka tarub nekad mencuri dan menyembunyikan selendang terbang salah satu dari 7 bidadari yang kebetulan ia pergoki lagi bersiram sambil bercanda ria disebuah telaga. Ditinggal pergi oleh saudara-saudaranya yang tak mampu berbuat apa-apa, Nawang Wulan yang selendangnya dicuri akhirnya bersedia diperistri oleh Jaka tarub. Dengan ketentuan Jaka Tarub tidak boleh melanggar pantangan-pantangan tertentu yang disyaratkan oleh Nawang Wulan.

Mulanya Jaka tarub dan Nawang Wulan hidup berbahagia, apalagi setelah mereka dikaruniai seorang putri yang tak kalah cantik dengan ibunya, yang mereka berinama Nawang Asih. Lalu kecurigaan-kecurigaan pun mulai timbul. Baik dari Nawang Asih, terutama dari ayahnya Jaka Tarub, yang tak habis pikir dengan keanehan – keanehan yang sering dilakukan oleh Nawang Wulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka yang diam-diam selalu mempergunakan kemampuan sihirnya sebagai seorang bidadari.

Lalu tanpa sadar Nawang Asih maupun Jaka Tarub yang sempat menuding Nawang Wulan berselingkuh dengan pria lain, akhirnya nekad melanggar pantangan. Dan berakibat selendang yang pernah dicuri oleh Jaka Tarub akhirnya ditemukan oleh sang pemilik, Nawang Wulan. Hal mana mau tak mau memaksa anak beranak itu harus berpisah keadaan tempat mereka hidup jelas berbeda dan tak mungkin menyatu. Jaka Tarub dan Nawang Asih harus melanjutkan kehidupan dibumi, sementara Nawang Wulan kembali ke tengah kehidupan keluarganya di Istana Langit.

Dan derita demi derita pun kemudian datang mendera. Tidak hanya pada diri Jaka tarub dan putrinya Nawang Asih, tetapi juga pada Nawang Wulan di Istana Langit. Puncaknya adalah ketika Istana Langit yang didiami oleh keluarga Nawang Wulan diserbu oleh segerombolan jin jahat pimpinan Bintara yang sudah lama ingin mempersunting tidak hanya Nawang WUlan tetapi juga ke 6 saudaranya yang lain. Keinginan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh ke 7 bidadari maupun orangtua mereka.

Akibatnya fatal ! Pertempuran antara jin pun tak dapat lagi dihindari. Istana Langit berhasil dikuasai oleh Bintara setelah lebih dulu menaklukan Maudara. Raja dari ayah ke 7 bidadari yang kemudian jatuh terhempas ke bumi, persis ke permukaan telaga tempat dimana Jaka tarub tengah meratapi nasib malangnya.

Mantu dan mertua pun saling berbagi cerita. Antara lain, Nawang Wulan dapat turun kembali ke bumi dan hidup sebagai manusia biasa, jika Jaka tarub mampu menebus kesalahannya dulu. Mencuri selendang Nawang Wulan. Yakni, menyelamatkan Nawang Wulan dan ke 6 saudaranya yang lain dari kedzaliman serta angkara murka jin jahat Bintara.

Dan untuk itu Jaka Tarub harus terbang ke Istana Langit. Siap berkorban nyawa demi hasrat yang kuat dan tulus untuk kembali menyatukan keluarganya dalam kehidupan yang tenang dan damai. (And) Sumber : http://www.indosiar.com/sinopsis/jaka-tarub–7-bidadari_63931.html

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Utama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s