Nyai Ageng Basyariyyah


Belum kami ketahui secara pasti tentang asal-usul Nyai Ageng Basyariyah, atau nama asli beliau. Yang jelas makam beliau ada di Pulosari, Krajan,  Kec. Jambon, Kab. Ponorogo, di utara MTsN Pulosari, atau  baratnya  masjid yang nama masjidnya juga  Al-Basyariyah.

Konon,  dulu ada banjir bandhang di daerah ini, yang meyebabkan banyak makam tergerus dan longsor, termasuk makam keluarga Nyai Ageng, dan Masya Alloh, setelah 2 abad lebih dimakamkan, beberapa jenazah ternyata didapati masih utuh.  Akhirnya makam beliau dipindahkan di tempat yang sekarang bisa diziarahi sewaktu-waktu.Tentang kebenaran berita ini, Wallohu a’lam.

Di kanan kiri makam beliau, ada makam salah satu putra beliau : Kyai Wongsoriyah, dan menantu beliau, Nyai Wongsoriyah. Nah, sudahkah anda2 berziarah ke makam beliau???

Dipublikasi di Utama | 1 Komentar

Sislilah Kyai Ageng Basyariyah ( versi 1 )


(Konon menikah dg Dewi Roso Wulan adik Sunan Kalijaga)
][
( menikah dg BIDADARI NAWANGWULAN)
][
DEWI RETNO NAWANGSIH 
( diperistri R. Bondan Kejawan bin Brawijaya V)
][
KI AGENG GETAS PENDOWO ( SYECH ABDULLOH)
][
KI AGENG SELO ( SYECH ABDURRAHMAN)
][
KI AGENG HENIS
][
KI AGENG PEMANAHAN
][
PANEMBAHAN SENOPATI SUTAWIJAYA – RAJA MATARAM  I
][
P. HARIA PRINGGALAYA
( kemungkinan beliau adalah putra sang Panembahan,
  dari permaisuri II yakni : Dewi Retno Djumilah Madiun)
][
P. PADUREKSO ( Adipati Gresik )
][
P. DARPA SENTANA ( Adipati Gresik )
][
P. BAGUS ABDUL IMAN/ABDUL ‘ ALIM  ( Adipati Sumoroto Ponorogo )
][
KIAI AGENG NALAJAYA /   P. DUGEL KESAMBI/ KIAI AGENG PRONGKOT ( Adipati Sumoroto Ponorogo )
][
R.MAS BAGUS HARUN (KYAI AGENG BASYARIYAH) – Sewulan, Madiun 
Dipublikasi di Utama | 1 Komentar

Beberapa versi Hikayat tentang Kidang Telangkas/ Jaka Tarub/ Ki Ageng Tarub


Versi I

Dalam kisah tentang raja-raja Mataram Yogyakarta  disebutkan bahwa salah satu nenek-moyang mereka ada yang dari golongan bidadari. Alkisah..Jaka Tarub adalah pemuda sederhana yang patuh terhadap ibu angkatnya dan mempunyai obsesi mempunyai istri seorang bidadari yang cantik dan berjiwa suci agar dia dapat mempunyai anak keturunan yang mulia. Pada suatu hari, dia pergi ke puncak gunung yang dianggap keramat oleh penduduk desa setempat. Ternyata di puncak gunung tersebut ada sebuah telaga kecil yang indah. Ketika dia mendekat ternyata ada tujuh bidadari sedang mandi bersenda-gurau di telaga tersebut. Jaka Tarub mendekat ke arah tumpukan pakaian bidadari dan mengambil salah satu selendang dari para bidadari tersebut. Selesai mandi ketujuh bidadari berpakaian mengambil selendang dan terbang, hanya salah seorang tetap tinggal karena kehilangan selendang dan tidak bisa terbang dengan bidadari lainnya.

Jaka Tarub datang dan menyarankan agar lebih baik tinggal di rumahnya, daripada berjalan kaki pergi sendirian yang berbahaya. Bidadari tersebut menurut, bahkan akhirnya bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan tersebut bersedia menjadi isteri Jaka Tarub. Mereka dikaruniai putri cantik  bernama Retno Nawangsih. Konon sebagai seorang istri Dewi Nawangwulan cukup memasak dengan sebutir beras yang menghasilkan nasi sebakul. Dewi Nawangwulan berpesan agar tidak ada seorang pun yang membuka tutup penanak nasi tersebut. Pada suatu hari, Jaka Tarub melanggar pesannya dan membuka tutup penanak nasi. Akibatnya sejak saat itu, Dewi Nawangwulan menanak nasi seperti biasa. Pada suatu hari karena persediaan lumbung beras semakin sedikit, maka Dewi Nawangwulan menemukan selendang bidadarinya disembunyikan di bawah lumbung tersebut. Akhirnya Dewi Nawangwulan mengetahui kalau suaminya yang sengaja mengambil selendang bidadari agar dia tak bisa terbang. Akhirnya Dewi Nawangwulan pergi ke langit dan tak ada kabar beritanya lagi.

Hubungan jiwa dengan bidadari meningkatkan spiritualitas Jaka Tarub. Jaka Tarub menjadi seorang yang bijak dan berpengaruh di desanya, bahkan bersahabat dengan Prabu Brawijaya dari Majapahit. Ki Ageng Tarub juga memahami tentang seluk-beluk perawatan “keris”, dan pada suatu hari sang prabu mengutus Ki Buyut Mahasar dan putra angkatnya bernama Bondan Kejawan untuk belajar tentang “keris” pada Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub mengetahui bahwa Bondan Kejawan sebenarnya adalah salah satu putra kandung dari Sang Prabu Brawijaya yang sengaja dijadikan anak angkat Ki Buyut Mahasar demi tujuan tertentu. Kini sang pangeran diminta belajar dari dirinya dan hidup di desa. Ki Ageng Tarub memahami, putrinya adalah sebuah wadah yang suci, sedangkan Raden Bondan Kejawan mempunyai darah penguasa Nusantara. Kombinasi keduanya akan menurunkan putra-putri yang perkasa. Ketika Retno Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan. Setelah Ki Ageng Tarub meninggal dunia, maka Raden Bondan Kejawan menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Retno Nawangsih melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa disebut  Ki Getas Pandawa. Ki Getas Pandawa kemudian mempunyai putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2011/07/22/renungan-bhagavatam-raja-pururawa-kehendak-kuat-dalam-menggapai-tujuan/

Versi II

Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat dari Jawa Tengah yang mengisahkan tentang kehidupan Ki Jaka Tarub yang setelah tua bergelar Ki Ageng Tarub, tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Kesultanan Mataram, dari pihak putrinya, yaitu yang bernama Retno Nawangsih.

Alur cerita

Suatu hari Jaka Tarub berangkat berburu di kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi.

Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Ketika 7 bidadari selesai mandi, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang.

Jaka Tarub muncul datang menolong. Bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumahnya. Keduanya akhirnya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Dewi Nawangsih.

Selama hidup berumah tangga, Nawangwulan selalu memakai kesaktiannya. Sebutir beras bisa dimasaknya menjadi sebakul nasi. Suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan Nawangwulan supaya tidak membuka tutup penanak nasi. Akibatnya kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.

Maka, persediaan beras menjadi cepat habis. Ketika beras tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendang pusakanya tersembunyi di dalam lumbung. Nawangwulan pun marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut.

Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya demi bayi Nawangsih ia rela turun ke bumi untuk menyusui saja.

Pernikahan Nawangsih

Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.

Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.

Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.

Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Referensi

  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jaka_Tarub

 Versi III

Pada kepercayaan lokal tradisional yang belum dipengaruhi oleh agama-agama pendatang, manusia adalah keturunan Dewa-Dewi. Dewa-Dewi dalam konteks ini adalah pancaran dari atribut-atribut Ilahi. Baru kemudian dewa-dewa tersebut diberi nama sesuai dengan mitologi para dewa. Oleh karena manusia adalah keturunan dewa, maka di dalam diri manusia ada energi dewa. Sejauh mana energi tersebut bisa dipancarkan, tergantung orang yang bersangkutan. Berkaitan dengan kepercayaan itu, setiap tokoh-tokoh terkenal seperti misalnya kepala suku, penguasa-penguasa setempat dan raja-raja, membuat cerita yang intinya mengisahkan bahwa dirinya adalah keturunan Dewa. Misalnya; Airlangga adalah keturunan Dewa Wisnu, Ken Arok adalah keturunan Dewa Brahma, Kertanegara adalah keturunan Dewa Siwa dan Budha, dan sebagainya.

Di dalam cerita tutur dan sebagian juga dituliskan di Babad Tanah Jawi. Upacara Midodareni bermula dari cerita Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah seorang keturunan Raja Barwijaya dari Majapahit yang hidup di desa Tarub. Ia diasuh oleh Ki Ageng Tarub dan Nyi Ageng Tarub. Pada suatu hari Ki Ageng Tarub berpesan agar Jaka Tarub tidak bermain di sendang larangan, tanpa penjelasan mengapa tidak boleh pergi ke sendang larangan. Dengan larangan tersebut, Jaka Tarub justru menjadi semakin ingin tahu, ada apa di sendang larangan tersebut.

Pada sore hari yang cerah, dengan sembunyi-sembunyi, Jaka Tarub pergi ke sendang larangan. Sesampainya di sendang, matanya terbelalak penuh ketakjuban. Ada tujuh gadis yang luar biasa cantiknya sedang mandi di telaga. Badannya yang tanpa busanya sungguh amat sempurna. Siapakah gerangan ke tujuh gadis tersebut? Tentunya mereka bukan gadis sembarangan. Jaka Tarub sangat terpana dengan pemandangan tersebut, namun ia takut kalau kehadirannya diketahui oleh mereka. Oleh karenannya ia tidak berani keluar dari persembunyiannya. Dari balik persembunyiannya, Jaka Tarub melihat pakaian para gadis yang bertumpuk di atas batu. Maka timbulah niat nakalnya untuk mengambil pakaian tersebut. Dengan sangat hati-hati, Jaka Tarub mengambil pakaian yang bertumpuk tak beraturan itu dengan ‘tulup’nya. Setelah mendapatkan satu pakaian, Jaka Tarub segera meninggalkan Sendang larangan dengan langkah yang berusaha tidak menimbulkan suara.

Sesampainya di rumah, hari telah senja, Jaka Tarub cepat-cepat menyembunyikan pakaian yang dicurinya dari sendang larangan di tempat yang aman. Walaupun tidak ada orang yang tahu, dengan apa yang dilakukannya, termasuk Ki Ageng Tarub, Jaka Tarub tidak tenang hatinya. Pikirannya selalu terganggu oleh bayangan tujuh gadis yang mandi di Sendang larangan. Mumpung hari telah menjadi semakin gelap, Jaka Tarub ingin kembali lagi ke sendang larangan. Setelah mendekati sendang larangan, Jaka Tarub mulai memperlambat langkahnya. Tiba-tiba telinganya mendengar orang menangis. Jaka Tarub berhenti untuk memastikan pendengarannya. Benar suara tangis seorang wanita dari arah sendang larangan. Jaka Tarub yang memang pemberani, mendekati arah suara orang yang menangis. Dalam remang cahaya bulan paro tanggal, mata Jaka Tarub yang tajam seperti elang dapat melihat bahwa orang yang menangis tersebut adalah salah satu dari gadis yang mandi sore tadi di sendang larangan. Dengan desiran hati yang tak terkira, Jaka Tarub menyapa dengan lembut Gadis yang menangis terisak-isak, dengan menutupi bagian tubuhnya yang terlarang. Gadis tersebut terkejut tak terkira, mendapat sapaan Jaka Tarub. Ia memberikan isyarat agar Jaka Tarub tidak mendekat. Sebagai jejaka keturunan raja besar, Jaka Tarub cepat tanggap terhadap apa yang harus diperbuat. Kain selimut yang dibawa dilemparkan kepada Gadis sempurna itu. Dengan cekatan kain tersebut ditangkap dan kemudian dengan cepat dipakai untuk kembenan. Sambil mengucapkan terimakasih, tanpa ditanya gadis tersebut mengaku bernama Nawangwulan. Ia adalah salah satu dari tujuh bidadari yang bercengkerama di sendang ini. Sebelum senja tiba mereka harus segera bergegas kembali ke kahyangan. Namun malang bagi Nawangwulan, karena pakaiannya hilang, ia terpaksa ditinggal oleh keenam Bidadari yang lain kembali ke kahyangan. Karena tanpa Pakaian Bidadari, Nawangwulan tdak bisa terbang kembali ke kahyangan.

Tidak terlintas di benak Jaka Tarub, bahwa perbuatannya yang sekedar iseng tersebut mendatangkan malapetaka terhadap salah satu bidadari kahyangan yang bernama Nawangwulan. Namun jika mengembalikan pakaian itu, sama halnya dengan mengaku sebagai pencuri. Jaka Tarub tidak mau dianggap sebagai pencuri, ia ingin tampil dihadapan Nawangwulan sebagai penolong. Maka kemudian ia menawarkan Nawangwulan untuk singgah di rumahnya. Dan Jaka Tarub berjanji akan mencarikan pakaian Nawangwulan sampai ketemu. Tidak ada pilihan bagai Nawangwulan, selain mengiyakan apa yang ditawarkan Jaka Tarub.

Kabar mengenai keberadaan seorang Bidadari di rumah Ki Ageng Tarub cepat tersebar. Para penduduk Desa Tarub pada berdatangan untuk menyaksikan kecantikan dari seorang Bidadari. Nawangwulan sungguh terhibur dengan keramahan seluruh warga Desa Tarub. Di Kahyangan para Dewa-Dewi, Nawangwulan tidak pernah mendapat perlakuan semulia ini.

Sumber : http://www.tembi.org/primbon/20100128.htm

 Versi IV

Siapa sebenarnya Syekh Maulana Maghribi itu? Berdasarkan salah satu cerita atau babad sejarah Kerajaan Demak, Syekh Maulana Maghribi adalah seorang pemeluk agama Islam dari Jazirah Arab. Beliau adalah penyebar agama Islam yang memiliki ilmu sangat tinggi. Sebelum sampai di Demak, beliau terlebih dahulu mengunjungi tanah Pasai (Sumatera). Sebuah riwayat juga mengatakan bahwa Maulana Maghribi masih keturunan Nabi Muhammad SAW dan masuk golongan waliullah di tanah Jawa. Syekh Maulana Maghribi mendarat di Jawa bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Demak. Beliau datang dengan tujuan untuk mengIslamkan orang Jawa. Runtuhnya Kerajaan Majapahit (tonggak terakhir kerajaan Hindu di Jawa) diganti dengan berdirinya Kerajaan Demak yang didukung oleh para wali (orang takwa). Sesudah pelaksanaan pemerintahan di Demak berjalan baik dan rakyat mulai tenteram, para wali membagi tugas dan wilayah penyebaran agama Islam. Tugas pertama Syekh Maulana Magribi di daerah Blambangan, Jawa Timur. Beberapa saat setelah menetap di sana, Syekh Maulana Maghribi menikah dengan putri Adipati Blambangan. Namun pernikahan baru berjalan beberapa bulan, beliau diusir oleh Adipati Blambangan karena terbukanya kedok bahwa Syekh Maulana ingin menyiarkan agama Islam. Setelah meninggalkan Blambangan, Syekh Maulana Maghribi kemudian menuju Tuban.

Di Kota tersebut, Syekh Maulana Maghribi ke tempat sahabatnya yang sama-sama dari Pasai, satu saudara dengan Sunan Bejagung dan Syekh Siti Jenar. Dari kota Tuban, Syekh Maulana Maghribi kemudian melanjutkan pengembaraan syiar agamanya ke Mancingan. Ketika menyebarkan Islam di Mancingan, Syekh Maulana sebenarnya sudah memiliki putra lelaki bernama Jaka Tarub (atau Kidang Telangkas) dari istri bernama Rasa Wulan, adik dari Sunan Kalijaga (R Sahid). Tatkala ditinggal pergi ayahnya, Jaka Tarub masih bayi. Saat meninggalkan Blambangan, sesungguhnya istri Syekh Maulana Maghribi juga tengah mengandung seorang putra yang kemudian bernama Jaka Samudra. Belakangan hari Jaka Samudra juga menjadi waliullah di Giri, yang bergelar Prabu Satmata atau Sunan Giri. Sebelum Syekh Maulana Magribi sampai Mancingan, di sana sudah menetap seorang pendeta Budha yang pandai bernama Kyai Selaening. Kediaman pendeta tersebut di sebelah timur Parangwedang. Tempat pemujaan pendeta dan para muridnya di candi yang berdiri di atas Gunung Sentana. Mula-mula Syekh Maulana menyamar sebagai murid Kyai Selaening. Dalam kehidupan keseharian, Syekh Maulana kadang-kadang memperlihatkan kelebihannya pada masyarakat setempat. Lama kelamaan Kyai Selaening mendengar kelebihan yang dimiliki Syekh Maulana Maghribi. Akhirnya Kiai Selaening memanggil Syekh Maulana Maghribi dan ditanya siapa sebenarnya dirinya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Syekh Maulana Maghribi untuk menyampaikan kepada Kyai Selaening tentang ilmu agama yang sebenarnya. Kedua orang tersebut kemudian saling berdebat ilmu. Akan tetapi karena Kyai Selaening tidak mampu menandingi ilmu Syekh Maulana, sejak saat itu Kiai Selaening ganti berguru kepada Syekh Maulana. Kiai Selaening kemudian masuk agama Islam. Pada waktu itu, di padepokan Kyai Selaening sudah ada dua orang putra pelarian dari Kerajaan Majapait yang berlindung di sana yaitu Raden Dhandhun dan Raden Dhandher. Keduanya anak dari Prabu Brawijaya V dari Majapait. Karena Kyai Selaening masuk Islam, dua putra Raja Majapait itu juga kemudian menjadi Islam. Kedua orang itu kemudian berganti nama menjadi Syekh Bela-Belu dan Kyai Gagang (Dami) Aking. Meski berhasil mengislamkan Kiai Saleaning dan para muridnya, Syekh Maulana tidak segera meninggal Mancingan. Di sana beliau tinggal selama beberapa tahun, membangun padepokan dan mengajarkan agama Islam kepada warga desa. Beliau tinggal di padepokan di atas Gunung Sentono dekat candi. Candi tersebut sedikit demi sedikit dikurangi fungsinya sebagai tempat pemujaan. Hingga meninggal, Kyai Selaening masih menetap di padepokan sebelah timur Parangwedang. Sebelumnya beliau berpesan kepada anak cucunya agar kuburannya jangan diistimekan. Baru tahun 1950-an makam Kiai Selaening dipugar oleh kerabat dari Daengan . Kemudian pada tahun 1961 diperbaiki hingga lebih baik lagi oleh salah seorang pengusaha dari kota. Sesudah dianggap cukup menyampaikan syiar di sana, Syekh Maulana meninggalkan Mancingan kemudian berpesan agar padepokannya dihidup-hidupkan seperti halnya ketika orang-orang itu menjaga candi. Di padepokan tersebut kemudian orang-orang membuat makam bernisan. Siapa yang ingin meminta berkah Syekh Maulana cukup meminta di depan nisan tersebut, seolah berhadapan langsung dengan beliau. Sesudah dari Mancingan, Syekh Maulana Maghribi atau Syekh Maulana Malik Ibrahim melanjutkan syiar agama Islam ke wilayah Jawa Timur. Setelah meninggal jenazahnya dimakamkan di makam Gapura, wilayah Gresik. Silsilah Syekh Maulana Maghribi menurunkan raja-raja Mataram: — Syekh Jumadil Qubro (Persia Tanah Arab) — Ny Tabirah — Syekh Maulana Maghribi + Dewi Rasa Wulan, putri Raden Temenggung Wilatikta Bupati Tuban (diperistri Syekh Maulana) —Jaka Tarub (memperistri Dewi Nawangwulan) — Nawangsih (memperistri Raden Bondhan Kejawan) — Kiai Ageng Getas Pendhawa — Kiai Ageng Sela — Kiai Ageng Anis/Henis — Kiai Ageng Pemanahan (Kiai Ageng Mataram) — Kanjeng Panembahan Senapati — Kanjeng Susuhunan Seda Krapyak-Kanjeng Sultan Agung Anyakrakusuma-Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat (Seda Tegalarum)-Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I-Kanjeng Susuhunan Mangkurat Jawi-raja-raja Keraton Surakarta, Yogyakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran. Kendati makam Syekh Maulana di Gunung Sentana bukan tempat jenazah yang sebenarnya, tetapi setiap ada rombongan peziarah Wali Sanga selalu memerlukan ziarah di makam Syekh Maulana Parangtritis. Seperti halnya makam leluhur keraton lainnya, setiap bulan Sya’ban, makam Syekh Maulana Maghribi juga menerima uang dan perlengkapan pemberian dari Keraton Yogyakarta. Setiap tanggal 25 Sya’ban di makam ini diadakan upacra sadranan. ***Sumber : http://id.rodovid.org/wk/Orang:354655

Versi V

Air terjun Sekar Langit merupakan tetesan mata air yang berasal dari puncak Gunung Telomoyo, gunung yang membatasi antara Salatiga dan Magelang di Jawa Tengah. Dalam bahasa Jawa, Sekar berarti bunga, dan Langit berarti langit, maka jika diterjemahkan berarti bunga yang turun dari langit. Air terjun setinggi sekitar 30 meter ini aliran air nantinya akan menuju barat ke aliran Sungai Elo dan nantinya bermuara di laut selatan Jawa.

Wilayah dimana air terjun ini berada masuk ke dalam wilayah Telogorejo, Magelang, Jawa Tengah. Warga sangat menghormati air terjun yang satu ini lantaran sebuah runtutan kisah dongeng klasik dibalik pesona Sekar Langit. Disebut-sebut, Sekar Langit ini merupakan air terjun yang ada dalam legenda Joko Tarub, seorang pria iseng yang mencuri selendang bidadari yang sedang mandi di sebuah air terjun.

“Dari para orang tua dan sesepuh desa dahulu memang menceritakan seperti itu, bahwa air terjun Sekar Langit ini adalah air terjun yang ada dalam cerita legenda Joko Tarub, yaitu tempat dimana Joko Tarub mengintip bidadari yang mandi di air terjun,” terang Subandi (65), sesepuh kampung Telogorejo.

Dalam legenda rakyat ini menceritakan, Joko Tarub merupakan seorang anak Bupati Tuban, Jawa Timur yang sejak kecil hidup dan tinggal di Desa Tarub, salah satu desa yang kini berada di wilayah Salatiga.

(Pendapat / Analisis dari salah satu admin blog Padepokan Kraton Sewu : ” Di versi V ini dikatakan bahwa Jaka Tarub adalah putra Bupati Tuban. Padahal menurut cerita versi sebelumnya tadi ( cerita versi IV ), bahwa Jaka Tarub adalah putra dari Syech Maulana Maghribi . Sang Syech menikah dengan Dewi Roso Wulan, putri dari  Bupati Tuban Wilwatikta. Jadi bisa  jadi, bahwa waktu itu, tak lama setelah “menikah”, Syech Maulana Maghribi pun kembali berkelana berdakwah, sehingga sang bayi ( Kidang Telangkas yang kemudian kelak bernama Jaka Tarub) selain diasuh istri beliau (Dewi Roso Wulan),  juga oleh  mertua beliau  ( Sang Bupati) . Sehingga sangat mungkin jika beredar anggapan, bahwa Jaka Tarub adalah putra Sang Bupati Tuban , karena setahu masyarakat,  Dewi Roso Wulan masih perawan ( Dan waktu itu memang menjadi perawan kembali).

Nama “Kidang Telangakas” adalah nama kecil Jaka Tarub. Nama ini berasal dari kejadian sebelumnya, yaitu bertapanya Dewi Rasa Wulan dengan tapa    “ngidang” dekat  telaga dalam hutan .Ia tidak menyadari bahwa di atas pepohonan tak jauh dari tempat ia bertapa, ada seorang Syech ( yang tak lain adalah Syech Maulana Maghribi) yang sedang tapa “ ngalong”. Bayang2 atau pantulan  kedua manusia suci tadi bersatu dalam telaga. Terjadilah sebuah pernikahan ruhani yang mungkin tak bisa dinalar oleh akal atau syareat lahir.Yang jelas sang Dewi akhirnya hamil, dan tak lama kemudian melahirkan. Singkat cerita, Sang Dewi menerima dengan lapang dada atas kejadian ini karena merupakan takdir atau garis hidup yang memang harus  ia jalani, namun ia mengajukan permohonan pada Syech, agar dirinya minta “perawan” kembali. Sang Syech yang memang dianugerahi macam2 karomah pun, segera mohon pada Tuhan agar hamba-Nya yang bernama Dewi Roso Wulan ini , perawan kembali. Dan akhirnya keajaiban terjadi, Dewi Roso Wulan pun kembali  jadi wanita perawan  [ mengingatkan kita pada keperawanan Siti Maryam as walau ia melahirkan Nabi Isa as]. Adapun mengenai nama “Jaka Tarub”, karena memang ia oleh keluarga Bupati Tuban akhirnya dititipkan untuk diasuh oleh sesepuh suatu daerah bernama Tarub. Sesepuh itu berjuluk Ki Ageng Tarub. Beliau beserta istrnya, Nyai Ageng Tarub , kebetulan tidak mempunyai putra atau penerus keturunan. Oleh karena itulah mereka berdua sangat berbahagia menerima kehadiran seorang bayi tampan, apalagi dari keluarga Bupati Tuban. Akan tetapi tak lama kemudian, Kiai Ageng wafat,  jadilah Nyai Ageng seorang janda. Ia mengasuh si Kedang Telangkas hingga tumbuh jadi seorang Jejaka( Joko). Masyarakat sering memanggilnya dengan sebutan “Joko Tarub”, artinya seorang anak jejaka asuhan Nyai Ageng Tarub.Nah, semua itu bisa saja terjadi. Namun karena tanpa dasar yang kuat, maka pendapat ini  silahkan dikategorikan bersifat “ konon ”.Mengenai kebenaran cerita yang sesungguhnya bagaimana, ya WALLOHU A’LAM. Nah mari kita lanjutkan membaca cerita versi ke V di atas ” :

 

Joko Tarub adalah seorang pemuda desa yang memiliki kegemaran berburu burung. Suatu pagi, seperti biasanya Joko Tarub melaksanakan rutinitasnya berburu burung. Selama seharian keluar masuk hutan namun burung buruan tak didapatkannya, hingga tibalah Joko Tarub di suatu belantara lebat di kaki Gunung Telomoyo.

Di hutan ini, bukannya suara kicauan burung yang didengarnya, namun sayup-sayup dari kejauhan Joko Tarub muda malah mendengar suara canda tawa para gadis disela-sela suara gemercik air terjun.

Terbawa rasa penasaran, ditelusurilah arah suara itu berasal. Bukan kepalang terkejutnya Joko Tarub akan apa yang ditemuinya dari sumber suara itu, dilihatnya sekelompok gadis cantik sedang asik mandi tanpa mengenakan busana sehelaipun.

Dari balik bebatuan, pemuda ini mengintip pemandangan yang seumur hidup belum pernah disaksikannya tersebut, hingga kemudian munculah niat nakal Joko Tarub untuk mengambil salah satu dari beberapa pakaian berikut selendang yang tergeletak di bebatuan tak jauh dari tempatnya mengintip.

Matahari perlahan terbenam, pertanda senja mulai tiba. Para gadis-gadis cantik yang sedang bugil ini mulai menyudahi mandinya untuk segera bergegas menuju ke bebatuan tempat dimana pakaiannya diletakkan. Satu persatu, gadis-gadis ini mulai mengenakan pakaiannya masing-masing.

Setelah semua pakaian para gadis dikenakan, kain selendang pun diikatkan di pinggulnya. Satu persatu, gadis-gadis misterius ini mulai terbang dan melesat menuju langit. Diketahui, ternyata selendang yang dikenakan di pinggul para gadis tersebut adalah sebagai pengganti sayap yang dipergunakan untuk terbang menembus awan.

Baru disadari oleh Joko Tarub, bahwa ternyata gadis cantik yang semenjak tadi diintipnya itu adalah sekelompok bidadari dari kayangan yang sedang turun ke bumi untuk mandi di air terjun yang kini disebut air terjun Sekar Langit ini.

Tak sia-sia Joko Tarub mencuri pakaian dan selendang dari salah satu bidadari jelita tersebut. Ini artinya, Joko Tarub akan berhasil memiliki satu diantara para makhluk cantik penghuni khayangan ini, karena pastilah akan ada salah satu bidadari yang tidak bisa pulang kembali ke khayangan.

Benar, semua bidadari telah terbang kembali ke khayangan, tinggal satu bidadari saja yang masih tertinggal di air terjun belantara ini, lantaran pakaian dan selendangnya telah dicuri oleh Joko Tarub tadi. Bidadari malang ini bernama Nawang Wulan.

Bak seorang dewa penolong, tiba-tiba Joko Tarub muncul dari balik bebatuan untuk menemani kegelisahan Nawang Wulan. Ditengah kebingungannya, akhirnya Nawang Wulan menerima ajakan Joko Tarub untuk diajak pulang ke rumah Joko Tarub.

Sesampainya di rumah, Joko Tarub bergegas lari ke lumbung padi yang terletak di belakang rumahnya. Segera Joko Tarub menyembunyikan pakaian serta selendang milik Nawang Wulan yang dicurinya tadi.

Setelah cukup lama dua sejoli ini hidup tanpa ikatan dalam satu rumah, akhirnya Joko Tarub pun menikahi Nawang Wulan. Dari pernikahan antara manusia dengan bidadari ini akhirnya terlahir seorang bayi perempuan bernama Nawangsih.

Sebagai makhluk khayangan, ternyata Nawang Wulan memiliki kesaktian, yaitu mampu merubah setangkai padi menjadi nasi sebakul. Jadi, untuk mencukupi kebutuhan makan nasi sekeluarga, Nawang Wulan hanya cukup membutuhkan setangkai padi saja yang dimasukan ke dalam sebuah bakul yang ditutup untuk nantinya akan menjadi nasi sebakul.

Namun pada suatu hari kesaktian Nawang Wulan ini akhirnya hilang. Pagi itu, Nawang Wulan akan berangkat ke sungai untuk mencuci pakaian. Sebelum berangkat, wanita cantik ini berpesan kepada Joko Tarub suaminya untuk sementara mengasuh Nawangsih di rumah dan jangan sekali-kali membuka bakul nasi sebelum dirinya pulang.

Hari mulai siang, Nawang Wulan tak kunjung pulang, sedangkan Nawangsih menangis terus-menerus. Joko Tarub pun kebingungan, dirinya lantas membuka bakul hendak mengambil nasi untuk menyuapi Nawang Wulan. Bukannya nasi yang didapat, namun Joko Tarub hanya menemukan setangkai padi dalam bakul nasi tersebut.

Sampainya di rumah, Nawang Wulan melihat bakul nasi telah terbuka. Kecewanya Nawan Wulan kepada Joko Tarub yang tidak mengindahkan larangannya. Ini artinya kesaktian yang dimiliki Nawang Wulan akan hilang.

Setelah kejadian itu, hampir setiap hari Nawang Wulan harus mengambil beras di lumbung belakang rumah untuk ditanaknya menjadi nasi. Sehingga untuk membuat nasi, dirinya harus menanak nasi sendiri, tanpa bisa menggunakan kesaktiannya.

Lama kelamaan padi di lumbung pun kian menyusut. Pada suatu hari di sela-sela tumpukan padi bagian paling bawah, Nawang Wulan menemukan sebuah bungkusan kain berisi pakaian dan kain selendang miliknya yang ketika dahulu hilang saat mandi di air terjun bersama teman-taman bidadari.

Baru disadari Nawang Wulan ternyata selama ini dirinya telah dibohongi oleh suaminya, sesungguhnya pakaian dan selendangnya tidaklah hilang, melainkan dicuri dan disembunyikan oleh Joko Tarub hingga membuat dirinya tidak bisa pulang ke khayangan.

Dikenakanlah kembali pakaian bidadari berikut selendang miliknya, segera berubahlah Nawang Wulan ke wujud aslinya, yaitu bidadari. Dalam kemarahannya, Nawang Wulan menemui Joko Tarub dan bersumpah untuk meninggalkan bumi dan akan tinggal kembali ke khayangan serta untuk selamanya tidak akan menemui Joko Tarub.

Nawang Wulan juga meminta Joko Tarub untuk dibuatkan sebuah dangau, yaitu gubuk bambu kecil yang tertutup rapat. Jika Nawangsih menangis, maka Joko tarub harus meletakkan anak mereka ini di dangau. Jika suara tangis itu sampai ke khayangan, maka Nawang Wulan akan turun ke bumi untuk menyusui dan menidurkan Nawangsih.

Sepeninggal Nawang Wulan, tinggalah Joko Tarub seorang diri yang merawat Nawangsih. Setiap kali putrinya ini menangis, tak lupa Joko Tarub selalu ingat pesan istrinya untuk meletakkan putrinya di dangau.

Joko Tarub hanya bisa meratapi serta mendengarkan suara merdu Nawang Wulan yang sedang menyusui dan menyanyikan lagu tidur untuk Nawangsih dari balik bilik bambu tersebut, tanpa bisa memandang wajah cantik istrinya sedikitpun.

Seiring berjalannya waktu, umur Nawangsih telah beranjak besar dan tidak menyusui lagi. Ini berarti, Nawang Wulan tidak akan turun ke bumi lagi untuk menyusui dan menidurkan putrinya di dangau. Berarti pula, untuk selamanya Joko Tarub tidak bisa mendengar lagi suara merdu Nawang Wulan istrinya.

Membuat Cantik Dan Awet Muda

Kini air terjun yang ada dalam legenda Joko Tarub ini yaitu air terjun Sekar Langit masih sering dikunjungi orang, baik yang ingin sekedar berwisata menikmati indahnya pesona air terjunnya ataupun pun bagi mereka yang ingin mendapat khasiat air dari air terjun ini.

Subandi mengatakan, air dari Sekar Langit banyak dimanfatkan orang karena pancaran khasiatnya. “Mereka percaya bahwa air dari air terjun Sekar Langit memiliki khasiat, baik untuk penyembuhan penyakit atau untuk hal yang lainnya,” kata ayah tiga orang anak ini.

Air terjun Sekar Langit ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, dari penyakit yang ringan seperti gatal-gatal sampai kepada penyakit kronis yang dari kaca mata medis sudah tidak dapat disembuhkan lagi.

“Banyak yang jauh-jauh datang ke sini hanya untuk meminum air dari air terjun Sekar Langit ini. Bahkan, ada pula yang membawa pulang airnya dengan menggunakan botol. Air dari Sekar Langit ini bisa diminum secara langsung, karena berasal dari sumber mata air gunung sehingga terjamin masih alami.”

Dikatakan oleh kakek empat orang cucu ini, tuah keberhasilan Joko Tarub dalam hal menggaet gadis cantik pun juga masih sering terjadi di tempat ini. Artinya, antara pria dan perempaun yang bertemu di tempat ini diyakini suatu saat akan menjadi berjodoh dan menjadi pasangan hidupnya.

“Biasanya, kejadian ini dialami oleh pria dan perempuan sesama pengunjung di air terjun Sekar Langit ini yang sebelumnya sama sekali tidak saling kenal. Tanpa disadari, suatu saat nanti keduanya akan bertemu lagi dan menjadi pasangannya. Hal ini sudah banyak yang membuktikan kebenarannya.”

Bagi yang sulit jodoh terutama kaum pria, juga sering menjadikan tempat ini sebagai tempat ritual untuk mendapatkan pasangan. Dalam melakukan ritual, biasanya batu tempat Joko Tarub mengintip bidadari-bidadari yang sedang mandi di Sekar Langit adalah tempat paling makbul untuk dilakukannya ritual.

Di batu dengan diameter sekitar 5 meter yang terletak di sebelah selatan air terjun, para pengalab berkah pencarian jodoh ini sering melakukan meditasi dengan cara melakukan pembakaran dupa atau kemenyan sambil menghadap ke arah timur laut, yaitu menghadap ke arah air terjun berada.

“Kalau yang memohon seperti itu, biasanya dilakukan pada malam hari, yaitu pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon. Sering sekali pada malam-malam itu saya lihat beberapa pria yang memasuki areal sekitar air terjun Sekar Langit,” katanya.

Masih tentang khasiat dari air terjun Sekar Langit, diyakini air terjun Sekar langit juga berkhasiat untuk menambah aura kecantikan seorang perempuan. Konon dari aura gaib yang terpancar dari air terjun yang satu ini dapat membuat para perempuan akan bertampah cantik bak bidadari.

Dengan mandi atau cukup sekedar membasuh muka saja dengan menggunakan air dari air terjun Sekar Langit, mampu membuat kulit wajah menjadi cerah bersinar serta memperlambat proses penuaan alias awet muda.

Selain itu, ada pula anggapan lain tentang erotisme khasiat dari air terjun Sekar Langit ini, yaitu air dari tempat ini dipercaya mampu dimanfaatkan untuk menambah padat, berisi serat kencangnya payudara perempuan. Caranya yaitu sambil mandi, air terjun yang mengucur ini langsung dikenakan ke bagian utama identitas kewanitaan tersebut.

Dapat dengan cara dikenakan secara langsung, atau boleh juga dikenakan sedikit demi sedikit atau diserempet-serempetkan saja ke buah dada. Yang penting, air dari air terjun Sekar Langit harus mengenai payudara secara langsung sebelum air tersebut jatuh menyentuh bumi.

Nawang Wulan Turun ke Bumi
Warga masyarakat sekitar juga meyakini Nawang Wulan dan teman-teman bidadari dari khayangan masih sering pula turun ke bumi untuk mandi dan bermain-main air serta menikmati segarnya air terjun di Sekar Langit ini.

Kejadian demi kejadian aneh pun acap terjadi di lokasi Langit ini, seolah semakin menguatkan angapan bahwa para makhluk cantik penghuni khayangan memang gemar berada di air terjun Sekar Langit. Misalnya ketika hujan turun, setelah hujan reda sering sekali terlihat warna indah pelangi menghiasi langit sekitar wilayah Telogorejo, wilayah tempat dimana air terjun Sekar Langit berada.

Jika palangi itu diturut ujungnya, maka bias ujung pelangi tersebut akan jatuh berada tepat di air terjun Sekar Langit. Menurut kepercayaan Jawa, pelangi merupakan jalan atau jembatan penghubung antara kahayangan dan bumi yang sering dipergunakan para bidadari yang ingin turun ke bumi.

Selain itu, pada musim kemarau sering terdengar ramai suara perempaun yang berasal dari sekitar letak air terjun Sekar Langit berada. Namun jika didekati asal suara tersebut, maka tidak akan ditemui seorang pun berada di air terjun Sekar Langit ini.

“Saya juga sering menjumpai angsa putih yang berada disekitar air terjun. Tapi jelas, itu bukan angsa sembarangan. Orang Jawa mengatakan, seorang bidadari yang turun ke bumi itu sering menjelma wujudnya menjadi seokor angsa putih jika berada di bumi,” ungkap Subandi. (Ivan Aditya) Sumber : http://krjogja.com/liputan-khusus/mistis/1580/meniru-keberhasilan-joko-tarub-di-air-terjun-sekar-langit.kr

 Versi VI

Indosiar.com – Tergoda ingin punya istri cantik menawan, Jaka tarub nekad mencuri dan menyembunyikan selendang terbang salah satu dari 7 bidadari yang kebetulan ia pergoki lagi bersiram sambil bercanda ria disebuah telaga. Ditinggal pergi oleh saudara-saudaranya yang tak mampu berbuat apa-apa, Nawang Wulan yang selendangnya dicuri akhirnya bersedia diperistri oleh Jaka tarub. Dengan ketentuan Jaka Tarub tidak boleh melanggar pantangan-pantangan tertentu yang disyaratkan oleh Nawang Wulan.

Mulanya Jaka tarub dan Nawang Wulan hidup berbahagia, apalagi setelah mereka dikaruniai seorang putri yang tak kalah cantik dengan ibunya, yang mereka berinama Nawang Asih. Lalu kecurigaan-kecurigaan pun mulai timbul. Baik dari Nawang Asih, terutama dari ayahnya Jaka Tarub, yang tak habis pikir dengan keanehan – keanehan yang sering dilakukan oleh Nawang Wulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka yang diam-diam selalu mempergunakan kemampuan sihirnya sebagai seorang bidadari.

Lalu tanpa sadar Nawang Asih maupun Jaka Tarub yang sempat menuding Nawang Wulan berselingkuh dengan pria lain, akhirnya nekad melanggar pantangan. Dan berakibat selendang yang pernah dicuri oleh Jaka Tarub akhirnya ditemukan oleh sang pemilik, Nawang Wulan. Hal mana mau tak mau memaksa anak beranak itu harus berpisah keadaan tempat mereka hidup jelas berbeda dan tak mungkin menyatu. Jaka Tarub dan Nawang Asih harus melanjutkan kehidupan dibumi, sementara Nawang Wulan kembali ke tengah kehidupan keluarganya di Istana Langit.

Dan derita demi derita pun kemudian datang mendera. Tidak hanya pada diri Jaka tarub dan putrinya Nawang Asih, tetapi juga pada Nawang Wulan di Istana Langit. Puncaknya adalah ketika Istana Langit yang didiami oleh keluarga Nawang Wulan diserbu oleh segerombolan jin jahat pimpinan Bintara yang sudah lama ingin mempersunting tidak hanya Nawang WUlan tetapi juga ke 6 saudaranya yang lain. Keinginan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh ke 7 bidadari maupun orangtua mereka.

Akibatnya fatal ! Pertempuran antara jin pun tak dapat lagi dihindari. Istana Langit berhasil dikuasai oleh Bintara setelah lebih dulu menaklukan Maudara. Raja dari ayah ke 7 bidadari yang kemudian jatuh terhempas ke bumi, persis ke permukaan telaga tempat dimana Jaka tarub tengah meratapi nasib malangnya.

Mantu dan mertua pun saling berbagi cerita. Antara lain, Nawang Wulan dapat turun kembali ke bumi dan hidup sebagai manusia biasa, jika Jaka tarub mampu menebus kesalahannya dulu. Mencuri selendang Nawang Wulan. Yakni, menyelamatkan Nawang Wulan dan ke 6 saudaranya yang lain dari kedzaliman serta angkara murka jin jahat Bintara.

Dan untuk itu Jaka Tarub harus terbang ke Istana Langit. Siap berkorban nyawa demi hasrat yang kuat dan tulus untuk kembali menyatukan keluarganya dalam kehidupan yang tenang dan damai. (And) Sumber : http://www.indosiar.com/sinopsis/jaka-tarub–7-bidadari_63931.html

Dipublikasi di Utama | Meninggalkan komentar

Silsilah Linier Dzurriyat


  • Nyai Santri ( istri Kyai Santri Tumenggung Alap-alap Caruban)
  • Nyai Abu Mansur / Nyai Lidah Hitam, Tawangsari-Tulungagung
  • Nyai Machalli, Uteran-Madiun
  • Nyai Tafsiruddin Onggodiwiryo, P. Singonegaran I,Kediri
  • Kyai Wongsoriyyah, Pulosari- Ponorogo
  • Kyai Muhammad Ngali,  Patih Pengulu – Patihan Rowo-Kertosono
  • Kyai Muhammad Rifangi, Patih Pengulu- Japanan-Mojoagung
  • Kyai Muhammad Shoriyah, Selosari-Prambon-Madiun
  • Nyai Hasyim Umar Shodiq, Kanten – Babadan-Ponorogo
Untuk selanjutnya, kesembilan putra-putri Kyai Ageng Basyariyyah tersebut di atas, dalam pembahasan silsilah di sini, kami sebut dengan keturunan pertama ( 1 ) .Silsilah di bawahnya nanti, kami istilahkan dengan jalur linier. Bukan berarti  kita menafikan ( tdk menganggap)  keberadaan  nenek, kakek,  suami, istri, saudara, putra-putri kita yang lain. Silsilah seperti ini hanya sebagai penisbatan sedulur2 ke Sewulan, juga agar terlihat ringkas dan bagi anda yang berkenan mengirimkan data silsilah, bisa dengan cepat dikirim  . Karena tema atau pembahasan utama dalam Silsilah ini adalah   Raden Mas Bagus Harun /Kyai Ageng Basyariyah, bukan Kyai Ageng-Kyai Ageng yang lain dulu, meskipun ada hubungan dengan keluarga anda. Selain itu agar silsilah tidak menjadi melebar ke samping yang menyebabkan lamanya proses pendataan. Karena setiap diri kita, pada umumnya, tentu punya Ortu =2, Embah= 4, Embah Buyut= 8, Canggah=16, Wareng = 32, Udheg-udheg = 64, Gantung Siwur=128, Gropak Sinthe= 356, Gedebok Bosok= 712, Galih Asem=1424, dst. Dapat dipastikan kita akan mengalami kesulitan. Jadi intinya,sementara ini, kita di sini hanya membahas khusus Bani Ky Ageng Basyariyah dulu.
Namun, walaupun demikian, kami tetap akan menerima data apapun berupa babat, foto, hikayat, sejarah, wejangan, wasiat atau apapun yang masih ada kaitannya dengan para  leluhur yang nama-namanya ada pada  form data personal pribadi yang anda kirim nanti, atau leluhur yang namanya tidak tertulis pada form, namun masih  ada hubungannya dengan anda, untuk selanjutnya data tersebut Insya Allah akan kami proses, kami upload dalam postingan lain ( bukan postingan ini), namun akan kami tautkan/ kami link-kan ke nama2 leluhur anda yang tertulis dalam formulir. Semoga hal ini bisa menambah semangat kita semua untuk beramal dan beribadah.
Data dikirim via email ke : padepokankraton1000@gmail.com
atau facebook   (suka/like dulu ) klik :  Padepokan Kraton sewu
Postingan tentang Silsilah ini bukan untuk niat membanggakan leluhur. Sama sekali bukan. Tujuannya antara lain agar kita tergugah untuk mendoakan para leluhur, sebagaimana para leluhur tentunya dulu  juga mendoakan keturunannya agar menjadi keturunan yang sholeh. Jadi agar doa kedua belah pihak  (doa dari pihak  leluhur dan doa dari pihak keturunannya)   bisa bertemu, yang semoga bisa jadi sebab ijabahnya doa masing2 pihak. Juga ketika kita misalnya (sekali lagi, misalnya) tiba2 merasa kehidupan ini begitu  “gelap” , maka agar  segera instrospeksi, kontemplasi, dan berangkat menuju kehidupan “terang” sebagaimana  dicontohkan oleh para leluhur kita yang sholeh-sholeh.
Jadi, sekali lagi, bukan untuk membanggakan nasab, Karena itu sangat berbahaya. Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad  telah dhawuh , yang terjemahannya kurang lebih demikian :
Memuji dan menyanjung diri sendiri, membanggakan leluhur yang termasuk ahli agama dan orang-orang utama dan juga menyombongkan nasab, semua itu perbuatan tercela dan sangat buruk sekali. Banyak sekali  keturunan orang-orang mulia yang tidak punya bashiroh dan tidak tahu hakikat agama, mendapat cobaan seperti ini. Barang siapa yang membanggakan nasab dan leluhurnya, seraya memandang rendah kepada orang lain, maka dia akan kehilangan berkahnya para leluhur”  ( Is’adur Rafiq, hal 85 ; Juz II)
Silahkan bagi yang menghendaki untuk men-download form data personal pribadi di sini.
Dan setelah terisi, mohon segera dikirim ke alamat email : padepokankraton1000@gmail.com
( Sebetulnya, khusus postingan ini, diprioritaskan bagi anda yang telah  mempunyai akun fb/blog/tweeter, karena nama anda ( yang paling bawah, akan di-link-kan/ditautkan ke akun fb/tweeter/ blog anda)
jadi sedulur2 akan mudah menemukan dan berkenalan dengan anda,sedulurnya juga..OK???
 Monggo nyusul kirim nggiih, kirim data panjenengan, kita bersatu-padu  pererat silaturrahim, pererat persatuan, membangun peradaban.
Berikut ini data sementara yang telah masuk pada kami :
 (khusus di postingan ini, angka/nomor : menunjukkan  turun ke …  dari KYAI AGENG BASYARIYAH, dan mohon maaf, jika   nama2 yang anda kirim,ada gelar akademik dan H/ Hj -nya, maka  akan ditiadakan, demi alasan tertentu)
______________________________________________
1.Kyai Muhammad Shoriyah
2.Kyai Muhammad Syihab
3.Kyai  Abdul Lathif
4.Kyai Azhar
5.K. Muh Ambar
___________________________
4. Nyai Ilyas
5. Nyai Nafikah ( Nyai Hasyim Asy’ari )
6. Kyai Abd Wachid
_______________________
4. Nyai Ilyas
5. Nyai Nafikah ( Nyai Hasyim Asy’ari )
6. Kyai Abdul Karim
7. Gus Cecep (                                            )
_________________________
1.Nyai Machalli
2.Kyai Santri bin Kyai Machalli
3.K.Hasan
4.K. Ali
5.K. Hasan Muntari
6.K. Hasan Marwi
7.K. Musta’in
8. Sahuri, Lengkong- Ponorogo
9.Ali Syahid ( 085259897040 )
_________________________
4.Nyai M Abror / Nyai  Siti Markinah
5.Nyai Siti Rodliyah/ Nyai Abd.Karim
6.Kyai Abdul Malik
7. Nyai  Sofiyah/ Nyai Qomaruddin

8. Muh Baidowi

atau :
4.Nyai M Abror / Nyai  Siti Markinah
5.Nyai Siti Rodliyah/ Nyai Abd.Karim
6.Nyai  Siti Marwiyah / Nyai Muh Naim Sudomo
7. Kyai Qomaruddin
8. Muh Baidowi (082141867645)
__________________________
4. Nyai Ilyas
5. Nyi Nafisah / Nyai Moh Syafi’i
6. Ny Djumilah / Ny Imam Fadhil
7. K.Zaini Sumarto
______________________
2.Kyai Kasan Besari Sewulan
3.Kyai Ngali Muhammad
4.Kyai Kasan Monadi
5.Nyai Saning Wulan
6.Kyai Surip
7.Ny. Siti/ Nyai Sumilan; Tempursari Madiun
_________________________
4.Nyai M Abror / Nyai  Siti Markinah
5.Nyai Siti Rodliyah/ Nyai Abd.Karim
6.Kyai Abdul Malik
7.Nyai Jufri / Nyai Siti Fauziyah
8.Khozin Sholeh- Prambon Nganjuk
9.Khoirul Anwar (085888327282 )
___________________________
4. Nyai Ilyas
5. Nyi Nafisah / Nyai Moh Syafi’i
6. Ny Djumilah / Ny Imam Fadhil
7. Ny  Khoiriyyah/ Ny Imam Mukti Marsidu
8. Ismail Hasan
9. L. Riansyah (081334006860)
________________________________
4.Nyai M Abror / Nyai  Siti Markinah
5.Nyai Siti Rodliyah/ Nyai Abd.Karim
6.Nyai  Siti Marwiyah / Nyai Muh Naim Sudomo
7.Nyai Umi Rofi’ah Magetan
8.Maksum Magetan
_________________________
2.Kyai Kasan Besari
3.Nyai Ngali Muhamad
4.Kyai Kosomonadi ( mungkin yg dimaksud adalah : Ky Kasan Monadi )
5.Sumo Tenojo ( Mbah Sumo Atjeng)
6. Ny Soeminten
7.Slamet Purnomo
__________________
4. Nyai Ilyas
5. Nyi Nafisah / Nyai Moh Syafi’i
6. Ny Djumilah / Ny Imam Fadhil
7. Ny  Khoiriyyah/ Ny Imam Mukti
8. Ismail Hasan
9. Mohda Alfian (085822138740)
____________________________
1. Nyai Santri
2. Kyai Maklum Buntoro/Kyai Maklum Ulomo
3. Kyai Mustaram
4. Nyai M Abror / Nyai  Siti Markinah
5. Nyai Siti Rodliyah/ Nyai Abd.Karim
6. Nyai Abdulloh / Nyai Ashfiyatun
7. Nyai Mahfudziyah / Nyai Ali Imron
8. Kyai Zainuddin
9. Ny  Siti Mufidah/ Ny Ach.Faqih Syarbini
10. Moh.Ali Imron        ( 081332900048 )
_______________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Nur Aisyah/Ny. Dayat
10. Ny. Kurnia Hidayati/Ny. Anwaril Huda
11. Rajamilan Rabar Rahman Dani
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Nur Aisyah/Ny. Dayat
10. Ny. Kurnia Hidayati/Ny. Anwaril Hudaa
11. Reyyolfuad Rebathur Rahiim Dani
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Nur Aisyah/Ny. Dayat
10. Ny. Kurnia Hidayati/Ny. Anwaril Huda
11. Sydneylmalik Sayukti Shohhan Dani
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Siti Aminah/Ny. Sahlan
10. M. Sholeh
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Siti Aminah/Ny. Sahlan
10. Rosyidatul Afifah
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Siti Aminah/Ny. Sahlan
10.Umar Sidiq
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Siti Aminah/Ny. Sahlan
10. Nailul Khoiroti
________________
1. Nyai Santri
2. Kyai Maklum Buntoro/Kyai Maklum Ulomo
3. Kyai Mustaram
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Siti Kalimah/Ny. Yantowi
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Muhyidin
10. Naily Azkaddiyar
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Muhyidin
10. Fatimah Dewi Astuti
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Muhyidin
10. Ahmad Muzakky
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Muhyidin
10. Umi Syarifah
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Muhyidin
10.Sofiatul Munawaroh
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Muhyidin
10. Yazid
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Muhyidin
10. Maslikah
________________
1. Nyai Santri
2. Kyai Maklum Buntoro/Kyai Maklum Ulomo
3. Kyai Mustaram
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Imam Fadhlal
10. Hilda Halida
________________
1. Nyai Santri
2. Kyai Maklum Buntoro/Kyai Maklum Ulomo
3. Kyai Mustaram
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Imam Fadhlal
10. Zayin Ahadia
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Bari Nahrowi
10. Bryan Maghfuron
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Bari Nahrowi
10. Bryan Muttaqin
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Bari Nahrowi
10. Muhammad Arifin
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Bari Nahrowi
10. Muhammad Hanif
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Siti Khomsul Arifah/Ny. Ilyas
________________
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Aminuddin
________________
1. Nyai Santri
2. Kyai Maklum Buntoro/Kyai Maklum Ulomo
3. Kyai Mustaram
4. Nyai M. Abror /Nyai. Siti Markinah
5. Nyai Abdul Karim/ Nyai Siti Rodliyah
6. Nyai Muh. Naim Sudomo / Nyai Siti Marwiyah
7. Nyai Umar/ Nyai Umi Rofi’ah/ Nglakar- Magetan
8. Ny. Ny. Moh. Kirom / Halimatus Sa’diyah
9. Ny. Umi Rohmah/Ny. M. Munir
___________________________
4. Nyai Ilyas
5. Nyai Fadhilah/ Nyai Imam Ngulomo
6. Nyai Khayatun/ Nyai Oemar–>Nyai Imam S
7. Nyai Wuryan
8. Maksum
9. Umi Rohmatin / Nyai Sutrisno Ali Syamsuddin
10. Aly Mudhofir
Dipublikasi di Utama | Meninggalkan komentar

Sejarah Perdikan SEWULAN Madiun


Sejarah Perdikan Sewulan dan Riwayat Singkat  Kyai Ageng Basyariyyah

( R.Mas Bagus Harun Bangsa Harya )

( Pendiri Perdikan SEWULAN – Dagangan – Madiun )

Di susun oleh : Drs. Muh  Baidowi Sewulan-Dagangan-Madiun- Jawa  Timur -Indonesia

I. MATARAM PADA MASA KI AGENG PEMANAHAN

Mataram  pada awalnya masih termasuk wilayah Pajang, wilayah tersebut merupakan hadiah dari Sultan Hadi Wijaya (1550-1582) kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasa-jasanya terhadap Pajang setelah berhasil menumpas perlawanan  Arya Penangsang Adipati Jipang  (Perang perebutan Mahkota Demak).

Perkembangan Mataram setelah menjadi daerah Perdikan mendapat tanggapan pro dan kontra dari penguasa sekitar seperti Ki Ageng Karang Lo, yang menerima kehadiran Mataram. Tetapi, seperti Ki Ageng Giring (yang keturunannya terkenal dengan Wangsa Kajoran), Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Tembayat, menentang kekuasaan Mataram.

Ki Ageng Pemanahan membangun pusat pemerintahannya di Plered, dan untuk memperkuat pengaruhnya, maka penguasa di sekitarnya ditaklukkan.

Pada tahun 1575 Kyai Ageng Pemanahan wafat dan di gantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar.

         

II.  MATARAM DI BAWAH SUTA WIJAYA

 (1582-1601)

          Pangeran Ngabehi Loring Pasar (Panembahan Senopati Sutawijaya) setelah  diangkat oleh Sultan Pajang sebagai petinggi Mataram, meneruskan pembangunan wilayahnya dalam bidang   politik dan memperkuat kekuasan seperti Ayahandanya. Daerah kekuasaan Mataram pun semakin luas setelah Kedu dan Bagelan (nama daerah) mengakui kekuasaan Mataram, bahkan perlawanan yang dilakukan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring dapat di tundukkan.

Hubungan antara Pajang dan Mataram semakin tidak mesra setelah Sutawijaya selama 3 tahun tidak mau menghadap ke Pajang sehingga Mataram  dianggap membangkang oleh Sultan Pajang, sehingga Pajang pun menyerbu Mataram. Dalam pertempuran tersebut, Pajang tidak dapat menundukkan Mataram, bahkan Mataramlah yang menang. Sultan Hadi Wijaya lolos dan memperdalam imunya di wilayah Bang Wetan (Jawa Timur).

Dengan kemenangan di pihak Mataram, maka pada tahun  1582, Sutawijaya menobatkan dirinya menjadi Raja Mataram dengan sebutan Panembahan Senopati  Ing Ngalaga Abdurrahman Khalifatullah Sayyidin Panetep Gama.

Setelah runtuhnya Pajang, maka Mataram memindah pusat pemerintahannya ke Kota Gede, dan dari sinilah “Ekspansi Militer” dilakukan untuk memperluas daerah kekuasaannya. Hal ini dilakukan karena di daerah pesisir menyatakan merdeka dan bebas dari kekuasaan Mataram.

Pada tahun 1589 Mataram menyerbu Surabaya, namun tidak berhasil menundukkannya, demikian juga dengan Madiun di bawah kekuasaan Adipati Purbaya yang masih Putra Sultan Demak. Karena Adipati Madiun tidak mengakui kekuasaan Mataram yang akhirnya mengadakan persekutuan dengan Adipati Demak dan Adipati Surabaya pada tahun 1590.

Pada awalnya pasukan Mataram dapat dikalahkan, tapi dengan siasat yang di susun oleh Ki Juru Mertani yang jitu, dengan mengirimkan Putri Panembahan Senopati Sutawijaya untuk datang sebagai Duta, yang seakan-akan Mataram mengakui kekuasaan Madiun, bahkan Sang Putri di angkat sebagai istri oleh Adipati Purbaya. Sehingga mengakibatkan lemahnya perhatian terhadap penyerangan ke Mataram. Kelemahan tersebut di manfaatkan oleh Mataram  untuk menyerbu Madiun. Dalam penyerbuan tersebut, Madiun di pertahankan mati-matian oleh para prajurit dan Senopati Madiun yang dipimpin oleh R. Ayu Retno Djumilah dengan bekal pusaka dari Ayahandanya yaitu Kala Gumarang (yang kemudian terkenal dengan sebutan Tundhung Madiun).

Saat R. A. Retno Djumilah berhadapan langsung dengan Panembahan Senopati Sutawijaya, Sutawijaya tak mau melayani tantangan perang tanding dari R. A. Retno Djumilah,malah beliau mengajak menghentikan peperangan, dan dangan kemampuan diplomasi yang dilambari ilmu pengasihan, R.A Retno Djumilah pun akhirnya takluk, di boyong ke Mataram dan dijadikan  permaisuri.

Selama Panembahan Senopati Sutawijaya memerintah Mataram, beliau menghabiskan waktunya untuk mamperluas wilayah dengan mengadakan penaklukan-penaklukan.Pada tahun 1591, Kediri dan Jipang pun dapat ditaklukkannya. Di tahun 1598-1599 Mataram juga mengadakan penyerbuan ke Pasuruan, Tuban Pati, Demak, Kudus dan Jepara.

Akhirnya pada tahun 1601, Panembahan Senopati Sutawijaya wafat dan dimakamkan  di Imogiri .

ІІІ. MATARAM DI BAWAH R. MAS JOLANG

 (1601-1613)

 

          Setelah Panembahan  Senopati  Sutawijaya   wafat, tahta Mataram  pun   di    gantikan    oleh    Raden    Mas    Jolang,   (Panembahan   Krapyak),  dan   Ekspensi   yang   di

lakukan Ayahandanya pun dilanjutkannya. Pada masa Pemerintahan itulah muncul pemberontakan dari kalangan kerabat beliau sendiri, yaitu pemberontakan yang didalangi oleh Pangeran Puger di Demak, dan Pangeran Jagaraga di Ponorogo, namun pemberontakan itu dapat di patahkan. Dan pada tahun 1608-1613, Mataram berusaha menaklukkan wilayah Bang Wetan seperti Surabaya, Pasuruan Lumajang, namun tidak berhasil. Bahkan R. Mas Jolang sendiri terbunuh dan dimakamkan di Pacet, Mojokerto (wilayah Gunung Walirang / Putuk Puyang).

IV.  MATARAM    DI BAWAH    R.   MAS   RANGSANG (1613-1645)

          Raden Mas Rangsang naik tahta tahun 1613 menggantikan Panembahan Krapyak (Senopati Ing Ngalogo Abdurrahman Khalifatulloh Panetep Gama), dengan gelar Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Ekspansi yang dilakukan oleh pendahulunya diteruskan oleh Sultan Agung, dengan daerah sasaran antara lain: Kediri, Malang, Pasuruan, Lumajang dan akhirnya  Surabaya pada tahun 1614. Adipati Pekik pun yang kala itu selaku Adipati Surabaya, tidak tinggal diam, dengan mengerahkan para penguasa pesisir antara lain: Kanjeng Tumenggung Kepulungan dari Pasuruan, Kanjeng Patih Jaya Saputra dari Tuban, Kanjeng Adipati Martanegara dari Sedayu, Adipati Pasagi, Pangeran Pekik Peperangan berlangsung seru, tapi akhirnya Mataram dapat dipukul mundur .

Pada tahun 1615, pasukan Mataram memusatkan pasukan di Wirasaba, setelah Wirasaba dapat ditaklukkan. Dan benteng Mataram dibangun di bekas kerajaan Majapahit, karena daerah ini sangat strategis untuk pusat komando ekspansi Mataram di wilayah timur, dan membuat kedudukan Surabaya semakin terancam, sehingga Pangeran Pekik menjalin persekutuan dengan para Adipati untuk menghadapi gencarnya laju serangan dari Mataram ,  antara lain: Adipati Tuban, Jepara, Pasuruan, Arasbaya, dan Sumenep. Dan pada tahun 1616, pertempuran antara Mataram dengan Surabaya yang dibantu sekutunya meletus di Siwalan, dan kekalahan Surabaya tak dapat terhindari saat Pajang memihak pada Mataram.

Pada tahun 1616-1619 ,Mataram menghancurkan kekuatan sekutu Surabaya, strategi Mataram ialah menghancurkan sekutu dimulai dari; Lasem, Tuban, Pasuruan. daerah-daerah pedalaman Surabaya pun tidak luput dari penyerangan Mataram mulai  tahun 1620 sampai tahun 1625. Perampasan hasil panen di lakukan untuk melumpuhkan Surabaya sebagai gudang perdagangan beras, bahkan sampai Sungai Brantas di bendung dan di alihkan alirannya oleh Mataram untuk melumpuhkan transportasi dan perekonomian Surbaya.

Pertahanan Surabaya yang kokoh pun terkoyak pada bulan Oktober 1625, dengan takluknya Surabaya ini, Pangeran Pekik beserta putranya , Ki Sanjaya dan Adipati Pajang dapat di tawan, pangeran pekik di tawan di kraton dan di kawinkan dengan saudara perempun Sultan Agung, yang bernama Ratu Pandan Sari sedang Ki Sanjaya dihukum mati, dan sementara Surabaya di serahkan kepada Tumenggung Sepanjang .

Setelah takluknya Surabaya pada tahun 1625-1628,  Sultan Agung tidak melakukan ekspansi militer lagi, melainkan  lebih konsentrasi pada pembangunan Mataram mulai bidang partanian, sosial dan ekonomi rakyatnya . Justru kala itu yang dianggap sebagai ancaman bagi Mataram  adalah Belanda yang membangun Pusat pertahanannya di Batavia.

Sultan Agung berkeinginan mengusir Belanda dari bumi nusantara yang berpusat di Batavia setelah Mataram berhasil membangun angkatan perangnya, dan penyerbuan ke Bataviai lancarkan pada tahun 1628 di pimpin oleh Tumenggung Baurekso dan Tumenggung Agul-Agul, di karenakan gugurnya Tumenggung Baurekso, Mataram akhir nya menarik mundur pasukannya.

Angkatan perang Mataram pada bulan Mei – Juni 1629 berangkat menyrbu belandayang di pimpin oleh Kanjeng Adipati Juminah, Kanjeng Adipati Purbaya, dan Kanjeng Adipati Puger dengan mengepung Batavia dari empat penjuru. Benteng Hollandia, bommel, dan Weesp pun diserbu , sayang tidak membuahkan hasil karna kalah persenjataan sehingga pasukan Mataram di tarik mundur. Namun Ekspensi Militer terus di lakukan Sultan Agung dengan tujuan wilayah timur seperti Blambangan di serang yang pada tahun 1639 baru dapat di kuasai, begitu juga Jawa, kecuali Banten dan Batavia ( Betawi ). sedang luar Jawa yang berhasil di kuasai Matarm adalah Palembang, Jambi dan Banjarmasin.

V. MATARAM DI BAWAH PANGERAN / AMANGKURAT I (1645-1675)

          Mataram di bawah Amangkurat I setelah naik tahta tahun 1645 sistem politik pengendalian pemerintahan sangat berbeda jauh berbeda dengan yang di lakukan oleh Sultan Agung, apalagi di Mataram sendiri terjadi pertentangan dari keluarga Raja, Kanjeng Adipati Purbaya yang masih saudara Sultan Agung menentang kebijaksanaan Raja yang di anggap kejam dan mengingkari tujuan luhur Sultan Angung untuk mengusir Belanda dari Ibu Pertiwi, bahkan Amangkurat I menjalin hubungan mesra dengan Belanda, hal ini mengakibatkan ketidak senangan kerabat Istana dan para Ulama’, sehingga pada tahun 1647 melancarkan pemberontakan, lebih dari 600 Ulama’ yang tidak menyetujui kebijaksanaan Sunan di hukum mati

Cucu Pangeran Krapyak (R. Mas Jolang) yang bergelar Panembahan Tepasana dan warga Kajoran melancarkan pemberontakan, begitu juga dari Bang Wetan pada tahun 1674 juga mengadakan pemberontakan dalam menghadapi perlawanan Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda, namun Kertosuro jatuh dan tak dapat di pertahankan karena mandapat serbuan dari Trunajaya, Amangkurat I melarikan diri dan akhirnya meninggal di Tegal Arum.

 

VI. MATARAM DI BAWAH AMANGKURAT II

 (1678-1703)

 

          Dengan bantuan Belanda, Trunajaya yang yang berhasil menduduki  Kertosuro  dapat diusir sehingga   Amangkurat  II

Dapat naik tahta, hal ini mengakibatkan Amangkurat II tergantung pada Belanda / VOC (Vereenigde Oostindnische Compagnie). Sepeninggalan Amangkurat I, di Mataram terjadi perang perebutan Mahkota di antara kerabat istana, Pangeran Puger dan Pangeran Singasari mengangkat diri menjadi Susuhunan yang mengakibatkan banyak  daerah yang melepaskan diri dari kekuasaan  mataram.

Menyadari ancaman terhadap Mataram yang posisinya semakin lemah terutama dari Trunajaya, Amangkurat II mengadakan perjanjian dengan VOC untuk melindungi Mataram, isi perjanjian itu antara lain;

  1. Untuk memerangi musuh-musuh Mataram yang di       lakukan oleh VOC , maka Mataram harus mengganti ongkos biaya perang.
  2. VOC bebas Bea masuk untuk menjual dagangannya.
  3. setiap tahun Mataram harus menyediakan beras 4.000 pikul untuk VOC dengan harga yang berlaku.

Dengan operasi Militer yang di lakukan pasukan Mataram dengan VOC , maka daerah Pati, Semarang dan Kudus dapat di rebut kembali, selanjutnya VOC mengadakan perjanjian kepada Sunan yang isinya ;

  1. Semua pelabuhan dari Kerawang sampi ujung Timur di kuasakan kepada VOC dan berhak mengambil

Hasilnya,

  1. Mataram hanya berkuasa atas daerah tersebut sebagai Gaduhan.
  2. Wilayah barat sampai Sungai Pemanukan meripakan wilayah VOC.
  3. Pesisir Utara (Semarang) di serahkan pada VOC

Trunajaya yang masih menguasai wilayah Timur mengadakan serangan pada Wilayah kekuasaan Mataram seperti Surabaya, Giri Gresik, Sedayu dan Tuban, namun dikarenakan ada perpecahan antara Trunajaya dan Kraeng Galengsong pemimpin Pasukan Makasar di Jawa, maka Surabaya dapat di gempur oleh Mataram. Akhirnya Trunajaya membangun pusat pertahanan di Kediri.

Pusat pertahanan Trunajaya di Kediri diserbu Mataram dengan di pimpin Antonie Hardt dan Tack, penyerbuan di llakukan lewat Madiun dan Ponorogo, Sehingga Trunojoyo memindah basis pertahanan di Gunung Kelud Blitar.

Tepatnya 27 Nopember 1678 Amangkurat II baru menerima Mahkota Mataram setelah di rebut oleh Trunajaya. Sementara Amangkurat II membenahi Kota Raja akibat peperangan, di lingkunganya juga terjadi perpecahan di antara kerabat Keraton , yaitu antara yang Pro Belanda dan yang Anti Belanda, Patih Nerangkusumo merupakan orang yang anti Belanda, Beliau berusaha menyadarkan Sunan terhadap hubungannya dengan Belanda, akhirnya Sunanpun menyadari kekeliruannya sehingga mengakibatkan kerugian pada Mataram .

Untung Suropati mengadakan perlawanan terhadap VOC / Belanda mulai tahun 1685 sampai tahun 1706 yang dengan diam-diam mendapatkan bantuan dari Sunan Amangkurat II sehingga mengakibatkan hubungan antara Mataram dan VOC menjadi tegang.

VII. MATARAM   DIBAWAH SUNAN MAS / ANGKURAT MAS  (1703-1706)

Situasi Mataram semakian tidak menentu dengan Wafatnya Sunan Amangkurat II, yang di gantikan oleh Putranya dengan gelar Amangkurat Mas. Pangeran Puger, adik dari Amangkurat II dengan bantuan belanda di Semarang mengangkat diri sebagai Susuhunan dengan gelar Paku Buwono (6 Juli 1704) dan mengadakan pemberontakan terhadap Amangkurat Mas.

Dan di mataram terjadi lagi perebutan Mahkota. Para Adipati Pesisir yang yang pada awalnya mendukung Pangeran Puger berbalik mendukung Amangkurat Mas, namun dengan gabungan kekuatan antara Pangeran Puger dengan Belanda sehingga para Adipati pesisir dapat di paksa untuk mengakui  Pangeran Puger sebagai Sunan. Sedangkan Amangkurat Mas beserta pengikutnya bertahan di Kertasura, namun pada 11 September 1705 Kertasura dapat di rebut dan di duduki Pangeran Puger.

Amangkurat Mas saat kertasura dapat di rebut kembali oleh Pangeran Puger berhasil meloloskan diri dari Keraton dan bergabung dengan Untung Suropati untuk mengadakan perlawanan terhadap Pangeran Puger dan Belanda. Untung Suropati Wafat pada tahun 1706 saat Bangil jatuh, namun perlawanan tatap diteruskan oleh Amangkurat Mas beserta Putra-Putranya, dengan membangun basis-basis pertahanan di Kediri, Malang dan Pasuruan .

Karena kedudukan semakin terjepit, Amangkurat Mas mau berunding dengan Pangeran puger yang akhirnya beliau diasingkan di Sailan.

VIII. MATARAM    DIBAWAH    PAKU    BUWONO    І

(1704-1727)

setelah Amangkurat Mas dibuang di Sailan maka kedudukan Sunan Paku Buwono (P B) І menjadi aman, namun  menambah pada kerugian Mataram akibat kerjasamanya dengan belanda dalam peperangan perebutan Mahkota Mataram.

VOC kembali membangun bentengnya di lingkungan Kraton dengan alasan untuk melindungi Sunan, apalagi Sunan juga menandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya ;

  1. Prianga, Sumedang, Cirebon dan Pamekasan diserahkan pada VOC.
  2. Wilayah VOC di Semarang di perluas
  3. VOC diberi hak memonopoli perdagangan dan hak istimewa di pelabuhan Mataram
  4. Mataram wajib membayar 800 kayon beras kepada VOC

Dengan adanya perjajian tersebut mengakibatkan rakyat semakin sengsara, dimana hasil panen banyak yang harus diserahkan kepada Sunan demi memenuhi perjajian dengan VOC, hal tersebut berlangsung hingga Wafatnya Sunan P B І tahun 1719.

VIIII.  MATARAM    DIBAWAH    AMANGKURAT    IV

(1719-1727)

 

Amangkurat IV ( Amangkurat Jawa ) naik tahta setelah P B І Wafat, namun banyak yang menentang dari kerabatnya sendiri sehingga perang perebutan mahkota Mataram berkobar lagi, seperti yang di lancarkan oleh Pangeran diponegoro dan Pangeran Dipo Sentono keduanya Putra P B І dari Istri selir. Selain itu Pangeran purbaya, Pangeran Blitar dan Aria Mataram mengadakan pemberontakan dengan menyerbu Kartasura, dalam suatu pertempuran Pangeran Dipa Sentana terbunuh.

Kertasura dapat di duduki Oleh Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar. Namun, walaupun dengan bantuan Belanda, Amangkurat IV masih belum dapat di tangkap, bahkan Amangkurat IV dapat merebut kembali Kertasura, sedangkan pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar meneruskan perlawanannya di Jawa Timur bergabung dengan para Putra Suropati. Perlawanan ini dapat di patahkan tahun 1723 dan Pangeran Diponegoro di tangkap dan di buang ke Tanjung Harapan, sedang Putra Untung Suropati di buang ke Sailan. Dan Amangkurat Wafat pada tahun 1727.

X. MATARAM DIBAWAH PAKU BUWONO II

 ( 1727-1749 )

 

Pada masa P B II memerintah Mataram manggantikan Amangkurat IV, Beliau masih dalam keadaan usia remaja, sehingga roda pemerintahan Mataram seolah-olah diatur oleh Belanda. Dan Sunan tak ubahnya sebagai pelambang saja, apalagi Belanda menekan kepada Sunan untuk menandatangani perjanjian yang isinya sangat merugikan kepada Mataram, antara lain;

  1. Pesisir Utara dan Selatan Pulau Jawa, Madura dan Surabaya  diserahkan kapada Belanda.
  2. Patih dan Adipati yang di angkat Sunan harus mendapatkan persetujuan dari Belanda.
  3. Belanda berhak menarik Bea masuk di setiap pelabuhan.
  4. Belanda akan membangun kembali bentengnya didekat Keraton Untuk mengawasi Sunan  dan biaya di tanggung Sunan
  5. Belanda berhak mencetak Uang.

Dengan perjanjian ini, membuat ketidak senangan dan tidak di senangi para Bangsawan Mataram sehingga menimbulkan pemberontakan, di antaranya yang di lancarkan oleh Pangeran Mangkunegara yang masih saudara Sunan sendiri, namun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan bahkan Pangeran Mangkumegara dapat di tangkap dan diasingkan di Saelan.

Ketika orang-orang Cina mengadakan perlawanan kepada belanda sudah meluas sampai di daerah Mataram, Sunan memenfaatkan pemberontakan tersebut untuk menghilangkan pengaruh Belanda, dan memerangi Belanda secara diam-diam bekerjasama dengan Pemberontak, sehingga pusat-pusat penjagaan Belanda di sebagian Kota seperti Tegal, Jepara, Semarang, Pati dan  Rembang yang diserang  dapat di lumpuhkan oleh pamberontak.

1. PEMBERONTAKAN PACINAN/PEMBERONTAKAN R. MAS GARENDI

Pemberontakan ini dilatar belakangi saat Belanda menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatannya, dan Belanda menggunakan Politik menarik sebanyak mungkin Warga Cina yang ada di berbagai pelabuhan seperti Malaka, Banten, Jambi, dan Palembang di tarik ke Batavia dengan tujuan untuk menghasilkan untung sebesar-besarnya bagi Belanda (VOC), dan ternyata yang datang ke Batavia tidak hanya berasal dari pelabuhan saja, bahkan banyak yang datang langsung dari Negeri Tiongkok / Cina.

Di antara Warga Cina banyak yang sukses di dalam perekonomian terutama di bidang perdagangan, namun juga banyak yang bernasib tidak beruntung, sehingga banyak yang terjun ke dunia kejahatan semisal perdagangan Candu, pelacuran, penyamun dan lain sebagainya, sehingga Batavia menjadi tidak aman, banyak orang Pribumi ataupun orang lain yang merasa tidak senang kepada Warga Cina, maka timbullah rasa perpermusuhan dan sikap Rasialis terhadap Warga Cina.

Melihat kenyataan tersebut, Belanda mengeluarkan perturan bagi Warga Cina, yang isinya di antara lain;

  1. Setiap warga Cina yang sudah tinggal selama 10 – 12 tahun, namun belum memiliki izin tinggal, akan di kembalikan ke Negeri asalnya.
  2. Warga Cina di larang membuka tempat pelacuran, perjudian, dan tempat pemadatan di dalam maupun di luar kota.

Pada tahun 1740 banyak Warga Cina yang melanggar peraturan di atas, sebab itu juga banyak Warga Cina di tangkap dan menimbulkan keresahan bagi Warga Cina yang lain yang menjadi pemicu bentroknya Warga Cina dan Belanda. Akhirnya perlawanan terhadap Belanda semakin meluas sampai keluar dari daerah Batavia. Juga karna dukunganwarga pribumi dan Bangsawan. Pertahanan Belanda di Tangerang di serbu termasuk Benteng Mr De Cornis. Dengan bantuan pasukan yang di datangkan Belanda dari Bugis dan Bali, perlawanan pemberontak terhadap Belanda di Batavia dan sekitarnya dapat di pukul mundur. Namun sangat di sayangkan waktu perlawanan terhadap Belanda, Warga Cina beserta pendukungnya banyak melakukan pembakaran rumah penduduk dan mengadakan penjarahan dari pada perlawanan terhadap Belanda, terutama pasukan yang di pimpin oleh  Sing She, pemberontak mengadakan perlawanan di Bekasi, Pulau Gadung dan Kali Barang. Sedangkan pasukan yang di pimpin oleh Khe Panjang terus bergerak ke timur memasuki Jawa Tengah, kelompok ini semakin besar karna banyak Warga Pribumi dan Warga Cina yang bergabung.

Di sekitar Semarang pasukan Khe Panjang mendapat bantuan dari Mataram, mereka mengadakan persekutuan Anti Belanda. Pasukan Mangkuyodo, Wirasastra dan Mangku Braja di terjunkan, Benteng di Semarang dapat di hancurkan. Dalam keadan terjepit, Kompeni menjalin kerjasama dengan Adipati Cakraningrat untuk menghadapi penyerbuan Warga Cina yang di perkuat oleh Pasukan Mataram. Cakraningrat di beri janji oleh Belanda akan di angkat sebagai panembahan Madura yang terbebas dari pengaruh kekuasaan Mataram.

Dengan adanya bantuan dari pasukan Cakraningrat. Maka secara terang-terangan P B II mengadakan perlawanan terhadap Belanda, benteng Kertasura di di serbu dan di hancurkan. Van Velsen besrta prajuritnya terbunuh, Sunan P B II menyerukan kepada rakyat dan raja-raja bawahannya agar ikut berperang melawan Belanda, perlawanan terhadap Belanda meledak di mana-mana, seperti Rembang, Pati, Demak Jepara, Priangan dan Cirebon bergarak bersama rakyat mengadakan perang Sabil, tak katinggalan rakyat Jawa Timur juga mengadakan penyerangan terhadap pusat pertahanan Belanda di Pasuruan dan Surabaya.

Di Semarang peperangan terjadi dengan hebat, di karnakan  kalah persenjataan dan system adu domba yang di lakukan oleh Belanda menjadi menyebabkan perpecahan dua sekutu antara prajurit Mataram dan warga Cina sehingga dalam peperangan itu belanda berhasil memukul mundur pasukan Mataram, hal ini menyebabkan Sunan menjadi bimbang dan berubah fikiran, setelah mengetahui bahwa dalam suasana perang seperti itulah yang akan di gunakan oleh keluarga istana untuk saling berebut tahta Mataram, yang akhirnya Sunan menghentikan perlawanan terhadap Belanda  dan kembali memihak pada Belanda. Sikap Sunan yang demikian itulah yang mengecewakanpara pemberontak dan kerabat Sunan yang anti Belanda. Yang akhirnya para pemberoatak mengangkat R. Mas Garendi (Sunan Kuning) sebagai Sunan yang mana beliau masih putra Amangkurat Mas.

R. Mas Garendi di Bantu Pangeran Martapura, Adipati Grobokan bersama R. Mas Sa’id mengadakan serangan terhadap Mataram dan Belanda,  tanggal 30 Juli 1742 serangan besar-besaran pun di lancarkan ke Kartasura sebagai pusat pemerintahan  Mataram sehingga Mataram jatuh dan dan Sunan P B II meloloskan diri dan akhirnya Mataram dapat di duduki.


2. SUNAN PAKU BUWONO II DI GERBANG TINATAR (TEGAL SARI PONOROGO)

Setelah Kartosuro jatuh ke tangan R. Mas Grendi, Sunan P B II meloloskan diri ke Timur yang di ikuti oleh beberapa pengikutnya sampai di Gunung Lawu. Si sini Sunan bersemedi untuk bermunajat kepada Allah S.W.T dengan harapan semoga diberi petunjuk tentang “siapakah yang dapat mengembalikan tahta Mataram ketangan Sunan ”,yang saat ini di kuasai oleh R. Mas Garendi.Saat bersemedi Sunan mendapat petunjuk supaya meneruskan perjalanan ke Ponorogo, di sana akan menemukan seseorang yang dapat mengembalikan tahta Mataram kepadanya.

Maka perjalanan dilanjutkan sampai di Ponorogo waktu malam hari dan di teruskan sampai di Gerbang Tinatar Tegal Sari. Di daerah tersebut, Sunan mendengar suara gemuruh seperti Lebah yang keluar dari sarangnya,bergemuruh karna banyaknya lebah,  Sunan bertanya suara apa dan dari mana sumbernya. Patih Pringgoloyo segera mengutus prajurit untuk mencari sisik melik kepada warga daerah tersebut, setelah mendapat keterangan maka di sampaikan kepada sunan bahwa itu suara Kyai Muh Besari dan santrinya Bagus Harun (R. Mas Bagus Harun) yan sedang ber Dzikir dan ber Munajat kepada Allah S.W.T dengan Dzikir HU…..HU…..HU….Allah, akhirnya Sunan tertarik dan ingin Sowan kepada beliau.

Saat Kyai Muh Besari beserta Bagus Harun selesai berDzikir, beliau pergi ke sungai untuk menjala ikan sebagai kesenangannya dan beliau berpesan kepada Bagus Harun agar tetap berada di rumah, sebenarnya Sang Kyai sudah tau kalau pesantrennya akan kedatangan tamu terhormat, dan beliau sengaja mencari ikan untuk menyuguh serta sabagai perwujudan rasa Ta’dzim dan Tawadhu’ beliau kepada tamu terhormat nantinya. Ketika Sunan P B II beserta pengiringnya tiba di kediaman Kyai Muh Besari, beliau di terima oleh Nyai Ageng Muh Besari beserta Bagus Harun, setelah mengetahui kalau yang datang adalah Sunan Mataram, Nyai Ageng mengutus Bagus Harun untuk memberitahukan kepada Kyai Ageng bahwa Sunan Mataram ingin bertemu  Kyai Ageng.

Bagus Harun segera berangkat menemui gurunya di sungai yang sedang menjala ikan untuk mnyampaikan pesan dari Nyai Ageng dan Kyai Ageng setelah membersihkan diri segera menemui Sunan P B II, dan Bagus Harun di Utus (di perintah)   Nyai   Ageng   untuk  memasak  nasi  dan  ikan   hasil   dari Tangkapan Kyai Ageng untuk menjamu Sunan. Seteleh Sunan P B II dapat bertemu langsung dengan Kyai Ageng Muh Besari, beliau langsung menyampaikan maksud kedatangannya serta menjelaskan mengapa Sunan dan para pengiringnya sampai di Ponorogo,

“ Kyai, perlu Kyai ketahui mengapa saya dan Patih Pringgoloyo pada saat ini berada di hadapan Kyai, ini karena di kotaraja Kartosuro sedang terjadi huru-hara yang sedang di lakiukan oleh warga Cina dan kerabat keraton yang tidak setia kepada Mataram dan berhasil menduduki Kartosuro, mereka mengangkat R. Mas Garendi sebagai Sunan sehingga  saya menyingkir dari keraton untuk memohon kepada Kyai Ageng untuk membantu menumpas pemberontakan Pacinan yang di pimpin oleh R. Mas Garendi, serta mengembalikan tahta Mataram kepada saya, dan apabila berhasil, saya (Sunan Paku Buwono II) akan memberi imbalan yang besar  ”

Setelah memahami keadaan ibukota  Mataram yang sudah di duduki oleh pemberontak serta maksud dari permohonan Sunan, maka Kyai Ageng dawuh,

“Kanjeng Sunan, Insya Allah Mataram akan tentram kembali begitupun dengan tahta Mataram juga akan di kembalikan pada Sunan , namun saya mohon jangka waktu 40 hari untuk Munajat dan memohon kepada Allah S.W.T ”.

3. R.  MAS BAGUS HARUN MENDAPAT PERINTAH DARI KYAI AGENG MUH BESARI UNTUK MENGHANTARKAN SUNAN PAKU BUWONO II KE MATARAM

 

          Beberapa saat setelah mengetahui maksud dari kedatangan Sunan, Kyai Ageng Muh Besari memanggil Bagus Harun untuk menghidangkan jamuan makan kepada Sunan beserta pengiringnya, Sunan kaget ketika melihat nasi liwet yang di hidangkan Bagus Harun terlihat kotor, dan di tanyakan kepada Kyai Ageng

siapakah yang menanak nasi ini ?” ,

 dan Kyai pun menjelaskan,

Sunan !!,  yang menanak nasi ini adalah santrinya yang bernama Bagus Harun !!”,

kemudian Bagus Harun ditanya oleh kyai Ageng,

mengapa nasi yang di hidangkan kotor ?” ,   

Bagus Harun pun menjelaskan,

“ nasinya tumpah saat akan di bawa untuk di hidangkan,

Kyai Ageng dan Sunan pun memakluminya dan sunan berkata,

Bagus Harun !, karena nasi yang  engkau hidangkan   tumpah dan nasi ini tidak bersih semua, sehingga ada nasi yang bersih dan ada yang sebagian kotor terkena tanah, maka keturunan mu sifatnya seperti nasi yang kau hidangkan  ini, yaitu ada yang putih bersih (menjadi Ulama’) dan ada yang setengah bersih (kaum Bangsawan / Priyayi dan rakyat biasa)” .

Pada pertemuan tersebut Kyai Ageng berusaha untuk membantu Sunan Mataram sebisa mungkin dalam memadamkan pemberontakan yang di lancarkan R. Mas Garendi, serta mengembalikan tahta di Mataram ke tangan Sunan, dan Kyai Ageng selama 40 hari bermunajat kepada Allah, dan beliau pun mendapatkan petunjuk bahwa yang bisa membantu Sunan adalah santri beliau yang bernama Bagus Harun, lalu Kyai Ageng menugaskan Bagus Harun untuk menghantarkan Sunan P B II kembali ke Mataram serta memadamkan pemberontakan R. Mas  Garendi (pemberontakan Pacinan).

  1. 4.     R. MAS BAGUS HARUN MEMBASMI PEMBERONTAK

 

Setelah mendapat tugas serta restu dari sang Guru (Kyai Ageng Muh Besari), Bagus harun berangkat ke kartosuro bersama Sunan P B II ke Kartosuro .Sesampainya di Kartosuro, Sunan Agung segera menemui para kerabat keraton serta para senopati yang masih setia pada sunan P B II, sebagian di antaranya adala Pangeran   Mangkubumi,

(pendiri Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Hamengku Buwono I). Karena pembawaan sampai-sampai busana yang di pakai Bagus Harun sangat sederhana, apalagi hari-harinya di habiskan dalam pesantren walaupun beliau adalah seorang putra Adipati, penampilannya sangat berbeda jauh dengan para Senopati maupun para prajurit Mataram, hal itu menimbulkan keraguan dan ketidak percayaan para Senopati dan kerabat Mataram akan kemampuan Bagus Harun, apalagi Bagus Harun lah yang mendapat tugas dari Sunan untuk merebut kembali Mataram dari tangan R. Mas Garendi.

Ki sanak, kami belum dapat mempercayai ki sanak, apalagi kami belum mengetahui sampai sejauh mana kemampuan ilmu ki sanak, sebab, R. Mas Garendi  sangat kuat dan para pengikutnya sangat tinggi pula ilmunya, seandainya ki sanak dapat mengimbangi ilmun R. Mas garendi dan para pengikutnya bahkan mampu melampaui mereka atau kami,  baru kami akan percaya pada ki sanak.

        Kata salah seorang Senopati pada Bagus Harun, dan Senopati itu menjajal kemampuan serta olah ilmu kanuragan yang di miliki oleh Bagus Harun. Saat terjadi adu ketangkasan antara Senopati dan Bagus Harun, Senopati tersebut melompati dinding benteng yang tinggi dan Bagus Harun mengimbangi dengan cara menembus benteng tersebut layaknya orang masuk lewat pintu rumah, tanpa menimbulkan kerusakan pada benteng tersebut. Dengan sedikit kemampuan yang di tunjukkan oleh Bagus Harun tersebut, maka para senopati dan kerabat Mataram mempercayai kemampuan Bagus Harun dan berhak untuk mendapatkan tugas dari Sunan. Dan saat itu beliau baru menunjukkan pada para Senopati dan kerabat Mataram sebuah pusaka pemberian Sunan yang bernama keris Tundung Madiun, pusaka Ageman Sunan sebagai tanda bahwa Bagus Harun diangkat Sunan untuk memimpin peperangan untuk menghancurkan kekuatan R. Mas Garendi.

Maka di mulailah pertempuran antara prajurit Mataram yang di pimpin oleh Bagus Harun melawan prajurit R. Mas Garendi. Penyerbuan ke Kartosuro dengan mengerahkan pasukan Mataram yang masih setia kepada Sunan di bawah pimpinan Bagus Harun dengan strategi penyerangan “GARUDA NGLEYANG “ dan “ DIRADA META “,  Tepat pada tanggal 20 Desember 1742. dan Kartosuro akhirnya dapat di rebut kembali oleh pasukan Mataram, banyak pasukan R. Mas Garendi yang menyatakan tunduk dan setia kepada Sunan sedang R. Mas Garendi yang sudah banyak kehilangan pasukan melarikan diri ke Surabaya, Pangeran Martapura, Adipati Grobokan beserta R. Mas Sa”id melarikan diri ke Sukawati, pengejaran terus di lakukan oleh prajurit Mataram sampai ke Surabaya, akhirnya pada tanggal 30 Oktober 1743, R. Mas Garendi dapat ditangkap dan di asingkan di sailan. Sedang kelompok pemberontak dari warga Cina yang di bawah pimpinan Taiwan Sai melarikan diri ke daerah Pasuruan.

R. MAS BAGUS HARUN MENDAPAT ANUGRAH DARI SUNAN P. B. II

Setelah R. Mas Garendi dapat di tangkap dan keraton Kartosuro kembali tenang, Sunan P B II mengadakan paseban agung di istana Mataram dengan mengundang para Senopati dan kerabat istana termasuk Bagus Harun yang telah berjasa mengembalikan tahta Mataram untuk mendapatkan anugerah sesuai dangan jasanya masing-masing, dalam paseban tersebut Sunan bertanya pada Bagus Harun,

“ Siapakah sebenarnya ki sanak, karna setelah saya amati, ki sanak tidak seperti orang biasa” ,

Bagus Harun pun menjelaskan pada Sunan ,

“ hamba sebenarnya putra dari Kanjeng Adipati Dugel Kesambi, (Pangeran Nolo Joyo) yang masih mempunyai garis keturunan dari Panembahan Senopati Sutowijoyo (Raja Mataram I)

Setelah Sunan mengetahui siapa sebenarnya Bagus Harun, maka Sunan Dawuh !,

kalau demikian, engkau masih berdarah Arya, dan masih kerabat dekatku sendiri, maka mulai sekarang engkau adalah Adi Mas Bagus Harun dan aku beri gelar BANGSA ARYA “ .

Dalam pertemuan tersebut, Sunan berkeinginan memberi membalas jasa kepada Bagus Harun untuk di angkat sebagai Adipati Banten, namun Bagus Harun tidak berkenan  menerimanya, karena yang telah di lakukan itu semata-mata untuk berbakti pada sang guru (Kyai Ageng Muh Besari) serta berbakti pada Mataram, karena jiwanya terpanggil untuk ikut menjaga kelangsungan Mataram, apalagi Bagus Harun masih termasuk trah Mataram, kemudian Bagus Harun juga mohon izin pada Sunan agar di perkenankan tinggal di kartosuro beberapa saat untuk berdiam diri (I”tikaf) di dalam masjid keraton untuk maneges dan memohon kepada Allah supaya Mataram di beri keselamatan dan di lindungi selama-lamanya.

  1. 5.                             5. ANUGERAH SONGSONG/PAYUNG DAN LAMPIT DARI SUNAN PAKU BUWONO II

 

Setelah selama 40 hari Bagus Harun berada salam masjid kasunanan untuk bermunajat kepada Allah agar semoga Mataram di beri keselamatan, kesejahtaraan dan ketentaman, beliau mohon izin kepada Sunan untuk kembali ke Ponorogo karena tugasnya di Mataram di rasa sudah selesai. Sunanpun mengizinkan dan memberikan sekedar hadiah yang berupa songsong dan lampit (tanah lungguh yang merdeka / bebas dari pajak) Sebagai penghargaan atas darma baktinya pada Mataram. Dan sesampainya di Gerbang Tinatar Tegal Sari Ponorogo Bagus Harun langsung sowan pada Sang guru (Kyai Ageng Muh Besari) dan menceritakan semua yang di lakukan di Kartosuro mulai dari awal sampai akhir, tidak lupa Bagus Harun juga menghaturkan Songsong dan Lampit hadiah dari Sunan pada Sang guru tetapi Sang guru tidak berkenan menerimanya, dan beliau dawuh pada Bagus Harun

Gus !, yang di beri hadiah dari Sunan itu adalah dirimu  karena pengabdian mu kepada Sunan, bukan aku, untuk itu terimalah dengan ikhlas, siapa tahu kelak di kemudian hari akan berguna dan ada manfaatnya  “.

        Karena Kyai ageng sudah dawuh demikian, Bagus harun tidak dapat berkata apa-apa lagi, di malam harinya Bagus Harun tidak bisa tidur memikirkan semua yang telah di laluinya tadi, dalam batinnya Bagus Harun berkata,

“ saya pergi ke Kartosuro atas perintah Kyai Ageng sehingga kedudukan saya hanya mewakili Kyai Ageng, maka sudah sewajarnya kalau yang mendapat kan anugrah dari Sunan saya haturkan pada Kyai Ageng, tapi  mengapa  Kyai  Ageng  tidak  berkenan  menerima nya ?,

Hal inilah yang menjadi beban fikiran Bagus Harun sehingga bagus Harun bertakad untuk menghadap Sunan di kartosuro untuk mohon penjelasan, kepada siapakah sebenarnya hadiah ini di berikan ?, kepada Kyai Ageng ataukah pada dirinya !.

Keesokan harinya Bagus Harun berangkat ke Katosuro untuk mohon penjelasan pada Sunan, sesampainya di daerah kartosuro ,karena terik matahari dan udara yang panas maka songsong yang di bawa Bagus Harun di pergunakan sebagai payung, ketika sampai di tengah Alun-Alun Bagus Harun oleh prajurit Mataram di kira prajurit Cina yang akan masuk keraton sehingga Bagus Harun di hujani anak panah dari berbagai penjuru, walau tidak satupun anak panah yang mengenainya dan Bagus Harun yang tidak merasa bersalah dan tanpa di Tanya langsung di serang dengan anak panah, maka Bagus Harun melemparkan Bakiyak (terumpah kayu) kearah prajurit Mataram yang mengepungnya, dengan kekuasaan Allah, Bakiyak yang di lemparkan tersebut menyerang para prajurit Mataram dan tidak sedikit dari para prajurit Mataram yang menjadi korban. Sunan paku Buwono II setalah mengetahui ada keributan di Alun-Alun dan menurut laporan  yang Sunan terima, ada pasukan Cina yang mengamuk serta menimbulkan jatuh korban yang tidak sedikit, beliau segera keluar dari keraton serta memasang meriam Kyai Setomo dan Nyai Setomi untuk menanggulangi musuh, tetapi yang tadinya di kira prajurit Cina yang berhasil masuk dalam lingkungan keraton  ternyata adalah Bagus Harun, maka Sunan langsung menyongsong kedatangan  dan merangkulnya sembari berkata,

Adi Mas Haria, ternyata Adi Mas yang datang, aku kira prajurit Cina yang datang mau menyarang ! ”,

selanjutnya Sunan minta penjelasan pada Bagus Harun sebab musabab terjadinya keributan yang terjadi antara para prajurit dan Bagus Harun, dan Bagus Harun pun menjelaskan,

“ saat sesampainya saya tiba di Kartosuro sudah siang hari, karena terik dan udara yang panas, Songsong yang saya bawa saya gunakan untuk melindungi diri dari teriknya matahari, ketika berada di tengah alun-alun saya dihujani anak panah oleh prajurit dan terjadilah keributan tersebut.Sowan saya kepada Sunan ini mau menanyakan tentang songsong dan lampit yang dianugerahkan beberapa waktu lalu, apakah memang dianugerahkan untuk saya atau pada guru saya (Kyai Ageng Muhammad  Besari)” ,

kemudian Sunan pun menjelaskan pada Bagus Harun,  

“ Adi Mas lah yang berhak atas anugerah Songsong dan lampit sebagai hadiah untuk selama-lamanya, juga sebagai wewenang memiliki tanah perdikan yang dapat di wariskan kepada anak cucunya kelak “ ,

dan oleh Sunan, Bagus Harun di perintah untuk membuka tanah perdikan  di sebelah timur Gunung Lawu.

Setelah mendapat penjelasan dari Sunan, Bagus Harun langsung mohon pamit untuk kembali ke Ponorogo. Dan ketika  dalam perjalanan melewati Grojokan Bang Pluwang (Nglengkong Sukorejo Ponorogo), beliau berhenti dan memikirkan songsong dan lampit yang di bawanya, dalam hati Bagus Harun  berkata ,

“ seandainya songsong dan lampit ini terus aku bawa, mungkin  anak cucuku akan mempunyai perasaan sombong dan membanggakan hasil dari perjuangan para leluhurnya pada Negara, maka sebaiknya songsong dan lampit ini aku titipkan di Grojokan ini !,  

dan di Grojokan ini beliau bermunajat pada Allah,

“ semoga anak dan cucuku nanti menjadi orang yang mulia serta berbakti pada Allah, Bangsa dan Negara. dan apabila kelak di kemudian hari ada anak cucuku yang mempunyai satu hajat / tujuan, bermunajat ataupun ber’Uzlah pada Allah di tempat ini, semoga di kabulkan dan mendapatkan Ridho Nya “.

 

7. R. MAS BAGUS HARUN MEMBUKA TANAH PERDIKAN SEWULAN

 

Sepulang Bagus Harun dari Kartosuro beliau langsung kembali ke Tegal Sari untuk memperdalami ajaran-ajaran yang di terima dari Kyai Ageng, dan bukan sekedar ilmu syari`at saja tetapi juga ilmu thoriqoh khususnya thoriqoh Naqsabandiyyah Syathoriyyah A`maliyyah, serta kitab-kitab yang berhubungan dengan dunia tasawuf (rohani) , di antaranya tentang kitab-kitab yang membahas Achadiyah, Rububiyah, Tholchaqiyah, Ulihiyah, Insan Kamil, Bahrullahuut, Bayan Alif, Bayang Ghoib, Risalah Nuraniyah, dan lain sebagainya jiga kitab-kitab yang di ajarkan oleh `Ulama` dan Waliyulloh di tanah Jawa maupun Aceh sehingga beliau dapat di katakan sebagai sosok santri yang mumpuni dalam ilmu agama. Pada suatu hari Bagus Harun ingin mempunyai tanahn pemukian dan pesantren dan pemukiman sendiri seperti Tegal Saritetapi belum mengetahui dimana daerahyang yang akan di babad dan di gunakan untuk penyebaran agama dan tempat untuk anak cucunya, dan Bagus Harunpun menyampaikan maksud hatinya tersebut pada Kyai Ageng, dan Kyai Ageng pun dawuh pada Bagus Harun ;

“Gus, kalau kamu ingin membuka daerah untuk menyiarkan agama rosul sealigus tempat yang bisa kamu wariskan pada anak cucu kamu, maka carilah songsong yang  engkau letakkan di grojokan Bang Pluwang, berjalanlah di hutan untuk mencarinya dan jangan berhenti bila belum ketemu !“.

         Bagus Harun pun diam seribu bahasa, tapi dalam hatinya berkata ;

 bagaimana mungkin mencari songsong di dalam hutan, pada    hal songsong tersebut aku buang didalam Grojokan Bang Pluwang, apa mungkin ketemu !!.

         Tapi karena Kyai Ageng tanggap sasmita teradap apa yang di pikirkan santrinya, Kyai Ageng pun dawuh ;

“Gus !, dirimu tidak perlu  merasa ragu,sebab Alloh itu Maha kuasa, bila engkau ngin memiliki daerah sendiri, cepatlah cari Songsong itu, do’a dan pangestuku menyertaimu  “.

Setelah mendapat periontah dan do’a restu dari Kyai Ageng Muh Besari, Bagus Harun segera mohon diri dan berangkat melaksanaka perintah Sang guru. Selama dalam perjalanan untuk mencari Songsng di hutan Bagus Harun membawa bekal biji nangka dan di sebar selama dalam perjalanannya, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan biulan berganti bulan dalam perjalanan Bagus Harun untuk mencari Songsong tersebut, tapi semua itu di anggap ujian, bahkan dalam pencarian itu Bagus Harun di sertai dengan puasa yang barbuka dan sahur hanya dengan memakan pupus dedaunan dan air tawar, hingga pencarian Songsong sudah memasuki bulan Romadlon, saat itu ketika beliau ber Tafakkur dan Munajat kepada Alloh, beliau mencium bau harum yang di sertai sinar yang terang benderang, setelah diamati yang terlihat adalah sebuah Songsong tegak berdiri yang tinggal rangkanya saja, Songsong tersebut di perhatikan dengan seksama, apakah betul Songsong yang dilihatnya itu adalah Songsongnya yang di taruh di Grojokan Bang Pluwang yang telah  di beri tanda H, dan setelah di amati kembali, ternyata benar bahwa Songsong tersebut adalah miliknya, maka puji Syukur pada Alloh beliau ucapkan atas anugrah yang telah diberikan kepadanya, apalagi saat Bagus Harun menemukan Songsong tersebut bertepatan dengan turunnya Lailatul Qodar, yang merupakan malam yang sangat utama dari seribu bulan (SEWU WULAN).

Songsong yang telah Bagus Harun temukan segera di bawa kehadapan Kyai Ageng Muh Besari sebagai bukti bahwa tugas yang di berikan oleh beliau telah dapat di laksanakan, dan Bagus Harun matur pada Kyai Ageng ;

“Berkat pertolongan Alloh serta do’a restu Romo Kyai, Songso ini dapat hamba temukan di sebuah hutan yang termasuk wilayah Kadipaten Madiun “.

Kyai Ageng pun menjawab .

“Ya !, di sekitar engkau menemukan Songsong itulah tempat untuk kamu menyebarkan agama Islam  dan dirikanlah sebuah Masjid, berilah nama SEWULAN “, sebab saat Songsong itu kamu temukan bertepatan dengan turunnya ” LAILATUL QODAR”.

Dan sebelum R. Mas Bagus Harun membuka daerah yang akan di jadikan pemukiman, terlebih dahulu Bagus Harun pergi ke Mataram untuk sowan pada Sunan Paku Buwono IIuntuk mohon izin dan do’a restu untuk ,membuka daerah yang akan di gunakan untuk menyebarkan agama islam serta untuk keturunannya kelak. Saat itu, Ibu Kota Mataram belum di pindah dari Kartosuro, dan pada tahun 1749 Kartosuro baru di pindah ke Surakarta yang sampai saat ini lebih dikenal dengan sebutan Kota Solo, di pindahnya pusat pemerintahan dari kartosuro ke Surokarto di karenakan Sunan beranggapan bahwa keraton yang sudah di duduki oleh musuh (akibat perang Pacinan)di bawah kepemimpinan R. Mas Garendi sudah hilang pamor dan kewibawaannya, selain itu keraton juga mengalami kerusakan berat.

Akhirnya permohonan Bagus Harun di setujui oleh Sunan P B II, apalagi sebelumnya Sunan juga sudah memberi keleluasaan dan hadiah pada Bagus Harun untuk membuka tanah perdikan. Adapun luas tanah wilayah Sewulan pada awalnya hamper mencakup seluruh wilayah kawedanan Uteran sekarang ini, di tambah perdikan Tegal Sari, Menang, Pulo Sari, Tawang Sari (Tulungagung), Patihan Rowo (Kertosono).

Dan setelah Bagus Harun membuka daerah yang akan di jadikan sebagai pemukiman di daerah dimana Bagus Harun menemukan Songsong dengan nama Sewulan. Setelah itu, banyak para warga masyarakat yang mohon izin untuk dapat berdiam di daerah itu atau yang di sebut dengan Magersari, mereka di pinjami tanah garapan dan pemukiman oleh Bagus Harun, dan setelah Bagus Harun berkedudukan sebagai kepala perdikan, Bagus Harun / R. Mas Bagus Harun bergelar Kyai Ageng Basyariyah / Kyai Ageng Sewulan . Dan bagi para warga masyarakat yang menggunakan tanah yang di gunakan sebagai garapan atau pun pemukiman setiap tahunnya harus di kembalikan dan oleh Kyai Ageng akan di pinjamkan kembalikan ke warga  pada saat UDAR GELUNG. Dan semakin lama daerah perdikan Sewulan menjadi daerah yang ramai sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang ramai sekaligus para Santri yang cukup banyak seperti Kyai Kasan Besari dari Tegal Sari Ponorogo, dan sebagai penunjang sarana beribadah Kyai Ageng akhirnya membangun sebuah masjid yang lumayan megah pada waktu itu.

Sedang di lingkungan Masjid Agung Sewulan terdiri dari pintu gapuro, halaman Masjid yang di tanami dengan Sawo Kecik, Mahardika, Bunga Tanjung, dan di lengkapi dengan kolam pesucian yang berada tepat di depan serambi Masjid sehinnga para jama’ah dengan Otomatis tidak akan membawa najis dari luar sekaligus sebagai tempat untuk berwudhu. Adapun sebagian makna Filosofis / Kinayah / simbol-simbol tadi adalah sebagai berikut;

1. Pintu Gapuro, yang berasal dari kata Ghofuro diharap orang dalam hidupnya selalu memohon ampun kepada Gusti Alloh yang bersifat Al-Ghofur, Dzat Yang Maha Pengampun.

2. Sawo Kecik, diharap manusia dalam kehidupannya selalu melakukan kebaikan (tansah junjung lelaku ingkang sarwo becik).

3. Mahardikan, dengan harapan  setelah mengerjakan semua yang terpuji maka manusia akan memeroleh kemerdekaan / kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.

4. Bunga Tanjung, adalah sebagai pengingat pada orang tua agar terkadang juga menyanjung pada anak-anak atau seseorang yang di bawah umurnya yang intinya juga menghormati pada yang lebih muda.

5. Kolam pesucian yang mengandung makna setiap manusia yang menginginkan untuk masuk dalam kerajaan Alloh harus dalam keadaan bersih dan suci dari semua kotoran dan najis, sebab Dzat Alloh adalah bersih (Al-Qudus).

6. Serambi Masjid, yang biasa dipergunakan untuk ber Tholabul ‘Ilmi khusus nya ilmu agama, karena seorang hamba yang mengharapkan bisa Wushul ilallooh (sowan lan tumeko marang Gusti  Allah ) maka orang tersebut haruslah menguasai, memahami dan menjalani semua aturan dan syarat untuk menjadi seorang hamba yang siap mengabdi pada Tuannya  (Lungguhe kawulo marang Gusti).

7. Induk Masjid yang terdiri dari 4 pintu dan 5 jendela yang bermakna ;seorang hamba Alloh yang sedang beribadah kepada Alloh sebelumnya harus dapat menguasai, menundukkan dan menjaga semua panca inderanya (lubang 9 / Howo Songo), karena masuknya hawa nafsu itu  melalui panca indera tersebut

8. 4 Tiang penyangga induk Masjid adalah simbol dari 4 Madzhab, supaya orang Islam mengikuti Ulama’ yang menjadi pewaris Nabi khususnya Imam 4 yaitu; Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Chanafi dan Imam Chambali apbila seseorang tidak mampu untuk ber Ijtihad dalam memahami hukum-hukum Islam.

9. Atap Masjid yang bertingkat 3, bermakna setelah seseorang  mengaku Islam maka tidaklah cukup hanya dengan bersyariat saja maka sebaiknya di teruskan dengan 3 tingkat yang selanjutnya, yaitu; Thoriqoh, Ma’rifat dan Chaqiqot yang sudah tidak bisa untuk di pisah-pisah lagi atau harus berjalan bersama-sama (Walloohu A’alam bishshowaab).

Pembangunan Masjid Agung Sewulan di kerjakan langsung oleh beliau Kyai Ageng Basyariyah dan menantu beliau, (R. Mas Muh Santri / Tumenggung Alap-Alap Kuncen, Caruban, Madiun) sebelum membangun Masjid tersebut Kyai Ageng Basyariyah menghendaki posisi bangunan Masjid agak ke selatan dari posisi pengimaman dengan harapan semua anak cucunya kelak menjadi orang ‘Alim dan Sholeh, sedang menantunya (R. Mas Muh Santri) menghendaki letak pengimaman di sebelah utara dengan harapan agar semua anak cucunya kelak menjadi orang yang terhormat atau seorang Umaro’, akhir kesepakatan adalah pengimaman Masjid di letakkan tepat berada di tengah seperti yang ada seperti sekarang ini dengan harapan anak cucunya kelak selain menjadi orang yang terhormat atau seorang priyayi juga menjadi seorang Ulama’.

Bangunan Masjid dengan pondasi dan tembok dari bata merah yang berukuran ± 20 cm X 40 cm yang di pasang dengan adonan tanah liat dan badeg tebu agar bangunan tersebut kuat dan tidak mudah retak. Sedang atap masjid terbuat dari kayu yang di bentuk Sirap, pada tahun 1922 atap masjid yang berupa sirap diganti dengan genting yang terbuat dari tanah liat di karenakan sudah banyak sirap yang lapuk karena di makan usia, tahun 1924 lantai masjid di renofasi dengan tegel, di tahun 1986 genting masjid di ganti lagi dengan genting baru yang lebih berkualitas.

Di saat membina Pondok Pesantren Sewulan yang beliau dirikan, Kyai Ageng Basyariyah sangat mengutamakan Al-Qur’an, Bahasa Arab / Nahwu Shorof, Syari’at, Thoriqoh, Hakikat dan Ma’rifat, semua ilmu yang beliau punyai beliau ajarkan pada semua Santri beliau menurut tingkatan masing-masing, baik itu kitab-kitab yang membahas soal Achadiyah, Rububiyah, Thlchaqiyah, Uluhiyah, ‘Alamul Arwach, ‘Alamul Ajsam, Insanul Kamil, Bachrullahuut, Bayan Alif, Bayan Ghoib, Risalah Nuroniyyah, Chaqiqotul Basmalah dsb, sehingga pesantren yang beliau bina lebih terkenal dengan sebutan Pesantren Alchikam / pesantren tasawuf .

Adapun rincian  Imam Rowatib Masjid Al-Basyariyyah mulai tahun 1743 sampai sekarang adalah

  1.     Kyai Ageng Basyariyah (Kyai Ageng Sewulan I)
  2.     Kyai Ageng Maklum Ulama(Kyai Ageng Sewulan II)
  3.     Kyai Ageng Mustaram I (Kyai Ageng Sewulan III)
  4.     Kyai Muh Abror
  5.     Kyai ‘Abdul Karim I
  6.     Kyai Muh Na’im Sudomo
  7.     Kyai ‘Abdul Malik (1942-1948)
  8.     Kyai Muh Qomaruddin (1948-1994)
  9.     Kyai’Abdul Karim II (1994-2002)
  10. Kyai Ma’sum Chasbulloh (2002- sampai sekarang).

Sedang untuk urutan keturunan yang pernah menyandang gelar Kanjeng Kyai Ageng Sewulan yang pernah memerintah perdikan Sewulan Dagangan Madiun adalah

  1. R. Mas Bagus Harun (Kyai Ageng Sewulan I)
  2. R. Mas Maklum Ulama (Kyai Ageng Sewulan II)
  3. R. Mas Mustaram I (Kyai Ageng Sewulan III)
  4. R. Mas Mustaram II (Kyai Ageng Sewulan IV)
  5. R. Mas Rawan  (Kyai Ageng Sewulan V)
  6. R. Mas Wiryo Ulomo (Kyai Ageng Sewulan VI)
  7. R. Mas Ichwan ‘Ali (Kyai Ageng Sewulan VII)

Dan setelah Yogyakarta berdiri, (pada tahun 1755) perdikan Sewulan membawahi: Perdikan Tawangsari Tulungagung, Perdikan Uteran Madiun, Perdikan Banjarsari Madiun dan Perdikan Patihan Rowo Kertosono Nganjuk sehingga Kyai Ageng Sewulan berkedudukan sebagai Wedana Bupati yang bertanggung jawab langsung kepada Sultan atas kelancaran pemerintahan pada semua wilayah di bawahnya

 

8. MASA MUDA R. MAS BAGUS HARUN

 

Kyai Ageng Prongkot sebagai penguasa di daerah Ponorogo waktu itu  dengan gelar Pangeran Nolojoyo atau Dugel Kesambi yang juga masih punya jalur keturunan  Mataram. Beliau mempunyai 9 putra yaitu :

  1. R. Mas Bagus Harun
  2. Ny. Mas Rr Mardliyah
  3. R. Mas Dzul Qohar
  4. R. Mas Anom Murjaya
  5. Ny. Mas Rr Shibah
  6. Ny. Mas Rr Jatmika
  7. R. Mas Marta Jaya
  8. Ny. Mas Rr Ronggo
  9. Ny. Mas Rr Kuru

Walaupun beliau adalah seorang putra pembesar daerah ponorogo, namun beliau tidak dididik dengan aturan atau tatacara kebangsawanan tapi beliau di didik ala pesantren, ini di karenakan Kyai Ageng Nala Jaya berharap agar putra-putrinya kelak dapat meneruskan perjuangan penyiaran agama islam. Untuk itulah R. Mas Bagus Harun di pondokkan di pesantren Gerbang Tinatar Tegal Sari Ponorogo sekaligus nyuwita pada Kyai Ageng Muh Besari.

Sewaktu R. Mas Bagus Harun nyuwita, beliau sangat taat (sam’an watho’atan) kepada Kyainya sehingga menyebabkan hubungan beliau dan Sang Kyai sangat dekat sekali, bahkan di waktu Sang Kyai berkenan untuk dahar atau membersihkan diri maka beliaulah yang yang di percaya untuk menyiapkan dan menunggu hingga selesai, dan hampir semua ilmu yang dimiliki Kyai Ageng Muh Besari telah di ajar kan pada beliau, dan beliaulah yang kelak akan menjadi Mursyid akbar Thoriqoh Naqsyabandiyah, Thoriqoh Syathoriyah dan  Thoriqoh A’maliyah sebagai generasi penerus Kyai Ageng Muh Besari. dan Selama nyantri di Tegal Sari, beliau sering melakukan perjalanan spiritual/ber ’uzlah ditempat pertapaan/petilasan para Auliya’ seperti Gunung Tidar Magelang, Pantai Cilacap, Nusa Kambangan, Gunung Lawu, Gunung Wilis, pantai Puger dan sebagainya

9. JANGKA UNTUK KETURUNAN KYAI AGENG NALAJAYA

 

Pendisil-pendisil

Pendita leng-ulengan

Gedebuk jaran tibo lurung

Lengkong sekati lengkong

Anakmu di gondola uwong

Kari ndomblong

Sak solahe sak salahe

Nalajaya kembang buntute

Katek loro ngombe

Wanine cedak omahe

Dong dong dong brus

Sopo keli kempas kempis

 

10. PANGERAN MANGKU BUMI (Sultan Yogyakarta I 1755-1792) DAN R. MAS SA’ID                               (Adipati Mangku Negara I)

Setelah tertumpasnya pemberontakan R. Mas Garendi /Sunan Kuning/Sunan Amangkurat (pemberontakan pacinan 1742)    , keadaan Mataram kembali tentram, tetapi di pihak lain pengaruh kompeni belanda di Mataram juga semakin kuat, setelah di tanda tanganinya perjanjian antara Sunan P B II dan Belanda yang isinya sangat merugikan dan semakin mempersempit wilayah kekuasaan mataram dan banyak kerabat keraton yang semakin tidak senang pada Sunan. selain itu, sisa-sisa pengikut R. Mas Garendi yang belum tertangkap juga masih ada seperti pangeran Martapura (Adipati Grobokan) dan Pangeran Surya Kusuma (R Mas Sa’id) yang juga merupakan salah satu dari putra Pangeran Mangku Negara yang mengadakan perlawanan pada Mataram dengan alasan tidak senang pada Sunan karna tidak punya pendirian yang tetap, selain itu ayahandanya juga di tuduh oleh Sunan  P B II telah serong dengan dengan salah satu selir Sunan, sehingga menyebabkan P Mangku Negara mengadakan perlawanan  pada Sunan walaupun akhirnya dapat di kalahkan dan di buang di Sailan

Pengikut R. Mas Sa’id terus mengadakan perlawanan dengan memusatkan perlawanan di Sukowati hingga pada tahun 1745 perlawanan R. Mas Sa’id masih terus berlangsung sehingga Sunan P B II mengadakan sayembara yang isinya yaitu; barang siapa yang bisa menundukkan perlawanan R. Mas Sa’id, akan diberi hadiah tanah Sukowati, Ternyata P. Mangku Bumi yang menyanggupi untuk mengembalikan  ketentraman Mataram dari perlawanan R. Mas Sa’id, Maka terjadilah pertempuran antara pengikut P. Mangku Bumi dan pengikut R. Mas Sa’id di Sukowati, sebenarnya R. Mas Sa’id adalah menantunya sendiri dan Sukowati akhirnya dapat di rebut dan di amankan walaupun R. Mas Sa’id dan P. Martapura belum  dapat di tangkap. Tapi setelah Sukowati dapat di rebut dan di amankan oleh P. Mangku bumi, ternyata  Sunan belum bisa menepati janjinya karena masih di pengaruhi oleh Patih Pringgalaya serta Belanda, menurut mereka P. Mangku Bumi belumlah berhasil memenangkan sayembara ini karena R. Mas Garendi dan para pengikutnya masih saja mengadakan perlawanan dari luar Sukowati. Atas saran serta masukan-masukan dari Patih Pringgoloyo dan para pendukungnya, akhirnya Sunan mencabut penganugerahan Sukowati kepada P. Mangku Bumi, akibatnya P. Mangku Bumi sangat kecewa, Dan kekecewaan itu bukan di karenakan tidak jadi menerima  anugerah tanah Sukowati, tapi di karenakan tidak tetapnya pendirian Sunan yang seharusnya memberi contoh dalam menepati janji sesuai dengan kedudukan yang dimilikinya, yaitu SABDA PANDITA RATU TAN KENO ORA WOLA-WALI. namun demikian, P. Mangku Bumi masih dapat bersabar diri.

ketika Gubernur Jenderal Belanda Van Inholf berkunjung ke Surakarta (tahun 1746) maka oleh Sunan di adakan paseban agung yang juga di hadiri oleh para bangsawan Mataram, saat itu Van Inholv juga mendukung untuk tidak menganugerahkan Sukowati kepada P. Mangku Bumi ….

( bersambung…/ dalam proses pemindahan/penulisan ulang dari buku ke blog, gak bisa di copy-paste, karena filenya hilang)

 dan mohon jangan di copy-paste dulu, karena belum di edit dan diteliti ulang..

 

Dipublikasi di Utama | 2 Komentar

Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullohi wa barokaatuh..


Selamat datang di Padepokan Kraton Sewu. Blog ini merupakan Forum Silaturrahim seluruh Bani Kyai Ageng Basyariyah ( R.M. Bagus Harun ) Sewulan – Madiun. Padepokan Maya ini diharap menjadi tempat berteduh, sharing, komunikasi dan musyawarah tentang hal-hal yang semoga bermanfaat bagi diri, keluarga, bangsa, negara dan agama.

Dipublikasi di Utama | 3 Komentar

DOA AWAL & AKHIR TAHUN + DOA ASYURO


A.

B.

Dipublikasi di Utama | Meninggalkan komentar

Apakah ada kaitannya Sumpah Pemuda dengan Sumpah Palapa ?


Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M).

Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi :

Sira Gajah Mada pepatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahannya:

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Palapa

Inti dari Sumpah Palapa menurut Saya, Gajah Mada bertekat untuk mempersatukan Nusantara / Indonesia.

Lah, trus apa kaitannya dengan Sumpah Pemuda???

Isi Sumpah Pemuda:

Pertama

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kalau dilihat dari Isi Sumpah Pemuda, ada kaitannya tidak dengan Sumpah Palapa???

Kalau menurut Saya, Isi Sumpah Pemuda, Menyatakan bahwa Nusantara / Indonesia telah bersatu.

Apakah benar???
Ada satu lagi yang memperkuat kaitan kedua sumpah tersebut, yaitu Peserta dari Sumpah Pemuda berasal dari Semua Pulau yang ada di Nusantara.

Apakah benar??? munking tidak dari semua daerah di Indonesia. Tapi inilah Organisasi Pemuda yang berasal dari banyak Daerah di Indonesia.

Jong JavaJong AmbonJong CelebesJong BatakJong Sumatranen BondJong Islamieten BondSekar RukunPPPIPemuda Kaum Betawi, dll.

Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda

Inti Dari kedua Sumpah tersebut adalah Ingin Mempersatukan Indonesia.

http://bloggerinspiratif.blogspot.com/2011/11/apakah-ada-kaitannya-sumpah-pemuda.html

Dipublikasi di Utama | Meninggalkan komentar

Memperingati “Resolusi Jihad NU ” ( 21OKTOBER-10 NOVEMBER )



Sangat historis dan heroik. Itulah  kesan kami  setelah melihat video kronologi Resolusi Jihad NU hasil unduhan di youtube. Silahkan jika anda ingin unduh juga. Bagi yg menginginkan format 3gp, silahkan unduh  file kami di : sini
Atau jika lebih suka membaca artikel, inilah artikel  yang sempat kami “ramu” dari beberapa sumber, di antaranya dari :
-http://myquran.org/forum/index.php?topic=82740.0
-http://sejarah.kompasiana.com/2012/10/22/bung-tomo-dan-resolusi-jihad-refleksi-22-oktober-dan-10-november/497459/
-http://www.tebuireng.org/
– dsb.

Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 21-22 Oktober 1945

14 Agustus 1945 : Jepang menyerah kepada Sekutu.
17 Agustus 1945 : Proklamasi kemerdekaan RI
September 1945 : Sekutu dalam hal ini Inggris mulai mendarat di Indonesia dengan misi melucuti tentara Jepang di Indonesia, namun diboncengi oleh Belanda yaitu NICA : Nedherland Indie Civil Administrasion. Kota2 besar seperti : Jakarta, Medan, Padang, Palembang, Bandung, Semarang telah diduduki oleh Inggris dengan perlawanan yang hebat dari pejuang2 Kemerdekaan Indonesia.
21-22 Oktober 1945 : KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan ulama NU se-Jawa-Madura di Surabaya menghasilkan RESOLUSI JIHAD NU  yang intinya :
1. Setiap Muslim tua muda dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia
2. Pejuang yang mati dalam membela kemerdekaan Indonesia layak dianggap syuhada
3. Warga yang memihak kepada Belanda dianggap memecah belah persatuan dan oleh karena itu harus dihukum mati
Naskah RESOLUSI JIHAD ini disebarkan ke seluruh Jawa Madura.
25 Oktober 1945 : Tentara Inggris mendarat di Surabaya dibawah pimpinan Brigjen AWS Mallaby.
30 Oktober 1945 : Terjadi insiden jembatan merah yang menewaskan Brigjen Mallaby.
2 November 1945 : Divisi V Inggris dari Malaka tiba di Surabaya dengan membawa Mayjen Mansergh sebagai pengganti Brigjen Mallaby. Inggris mengultimatum pejuang2 Surabaya agar menyerah, angkat tangan sambil menyerahkan senjata kepada Inggris.
Seluruh elemen pejuang2 Surabaya menolak menyerah, termasuk Laskah Hizbullah (santri pejuang) dan Sabilillah (Kyai pejuang) yang berafiliasi ke NU.
Bung Tomo dan Resolusi Jihad: Refleksi 22 Oktober & 10 November
Bung Tomo pernah merasa sangat bersalah dan menyesal karena menikah di saat panas-panasnya masa revolusi. Karena merasa bersalah dia memasang iklan di surat kabar seperti ini:
MENIKAH
Mengingat gentingnya masa, maka perkawinan kawan kami Soetomo (Bung Tomo) dengan PI Soelistina, yang akan berlangsung bertemunya nanti pada tanggal 19 Juni 1947 jam 19.00 tidak kami kehendaki akan dirayakan dengan cara bagaimanapun juga. Pucuk pimpinan Pemberontakan menyetujui perkawinan kedua kawan seperjuangan itu, berdasarkan perjanjian mereka,
1. Setelah ikatan persahabatan mereka diresmikan itu, mereka akan lebih memperhebat perjuangan untuk rakyat dan revolusi.
2.Meskipun perkawinan telah dilangsungkan mereka tidak menjalankan kewajiban dan hak sebagai suami istri sebelum ancaman terhadap kedaulatan negara dan rakyat dapat dihalaukan.
Kami akan berterima kasih bila kawan-kawan seperjuangan dari jauh berkenan memberikan berkah pangestu kepada kedua mempelai itu.
TETAP MERDEKA
Dewan Pimpinan Harian Pucuk Pimpinan
Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia
Jl. Rampai 75 Malang
Seolah-olah Bung Tomo merasa sangat berdosa karena pernikahannya diadakan di tengah-tengah suasana revolusi. Seolah-olah dia cuma mencari kenikmatan diri-sendiri dan egois. Bung Tomo lalu mengucapkan janji bahwa ia bersama istrinya tidak akan menjalankan hak dan kewajiban mereka sebagai suami istri sampai ancaman terhadap kedaulatan Negara RI menghilang. Izin menikah mereka dapatkan dari pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). BPRI adalah sebuah ormas/lasykar pada masa revolusi.
Bung Tomo sangat mencintai revolusi dan jihad sehingga mau mengorbankan diri supaya revolusi dan jihad (cita-citanya) bisa sukses. Kejadian seperti ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah Palapa (makan yang lezat-lezat) sampai Nusantara bersatu seluruhnya tanpa kecuali atau sampai cita-citanya tercapai. Juga hampir sama dengan yang dilakukan Mahatma Gandhi yaitu bersumpah tidak akan makan garam sampai India merdeka atau sampai cita-citanya tercapai. Kita boro-boro bisa seperti Mahatma Gandhi. Kita kalau ada masakan kurang garam sedikit saja, lansgung merasa makanannya tidak enak.
Sebenarnya siapa tokoh ini?
Bung Tomo berasal dari keluarga santri (muslim taat). Bung Tomo menjadi sangat populer karena adanya peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Bung Tomo ketika dilahirkan bernama Soetomo. Tanggal lahirnya 3 Oktober 1920 di Surabaya. Pendidikannya biasa saja, Sekolah Rakyat. Ketika remaja Bung Tomo masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) tentara yang dibentuk penjajah Jepang.
Peristiwa 10 November 1945
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tiga hari sebelumnya Jepang menyerah kepada Sekutu.
Pada bulan September 1945 pasukan Sekutu datang ke Indonesia. Mereka hendak melucuti tentara Jepang. Tapi ada yang membonceng pada Sekutu. Merekalah tentara Belanda. Belanda merasa Indonesia masih milik mereka. Padahal Indonesia sudah merdeka dan rakyatnya tak mau dijajah lagi.
Sejak mendengar pengumuman kemerdekaan Republik Indonesia, para pemuda Surabaya termasuk Bung Tomo bersemangat mempertahankan kemerdekaannya. Mereka tak sudi tanah air tercinta ini dijajah kembali oleh bangsa lain.
Para pejuang Surabaya termasuk Bung Tomo (sejak tahun 1937 profesinya adalah wartawan) melakukan aksi perlucutan senjata tentara Jepang. Ada yang mudah dilucuti ada yang susah.
Pada tanggal 19 September 1945 terjadi insiden Bendera di hotel Yamato (Oranje kalau menurut sebutan Belanda) di Surabaya. Penyebabnya adalah orang-orang Belanda yang baru lepas dari tahanan Jepang. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan mereka di atap hotel Yamato.
Keruan saja pemuda Surabaya marah. Mereka merobek bagian biru bendera Belanda sehingga yang tersisa tinggal merah dan putih.
Berbekal senjata api dan bambu runcing pemuda-pemuda Surabaya menyerang Berlanda. Seorang perwira Belanda tewas. Melihat kejadian itu, orang-orang Belanda yang ada di situ l
ari tunggang langgang.
“Indonesia Raya Merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta…” rakyat yang masih berkumpul di dekat hotel Yamato menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin Bung Tomo.
Pada awal Oktober 1945 Bung Tomo pergi ke Jakarta. Alangkah kecewanya Bung Tomo melihat sikap orang-orang Belanda yang tidak menghormati kemerdekaan negara Republik Indonesia. Orang-orang Belanda berpawai di jalan dengan mobil bersorak-sorai berteriak sambil mengibarkan bendera kebangsaan mereka bagaikan orang yang baru menang perang.
“Kenapa Belanda bersikap seperti itu? Lalu mengapa kita diam saja?” tanya Bung Tomo kepada Soekarno-Hatta.
“Kami terpaksa membiarkan itu terjadi”, jawab Soekarno mengatasnamakan Soekarno Hatta.
“Kalau kami melakukan tindak kekerasan kepada Belanda kami akan diserang oleh Sekutu. Sementara kami sedang berusaha menerangkan secara baik-baik kepada Sekutu bahwa Indonesia sudah merdeka”, lanjut Soekarno.
Ketika kembali ke Surabaya, Bung Tomo membentuk Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). BPRI bertujuan memperkokoh semangat rakyat mempertahankan kemerdekaan. Sejak saat itu Bung Tomo yang mantan PETA melatih anggota BPRI berpera
ng dan menggunakan senjata.
Bung Tomo juga mendirikan Radio Pemancar Pemberontak Rakyat Indonesia. Setiap malam, lewat radio ini, dengan berapi-api, ia membakar semangat rakyat Surabaya dan sekitarnya untuk bersatu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada akhir Oktober 1945, para pemuda Surabaya melihat semakin banyak pasukan Sekutu mendarat di Surabaya. Para pemuda menjadi marah. Kemarahan mereka memuncak ketika Kapten PJG Huijer dari AL Belanda dengan petantang-petenteng memprotes pengibaran bendera merah putih kepada tentara Jepang. Tapi protes ini tidak ditanggapi Jepang yang terjepit di antara RI dan Belanda.
Rombongan Huijerpun bermaksud kermbali ke Jakarta. Ternyata ketika melalui stasiun kereta Kertosono rombongan itu dicegat pemuda dan dipenjara di Kalisosok.
Tapi tak lama kemudian Brigadir Jenderal Mallaby dari Inggris membebaskan Kapten Huijer. Peristiwa ini membuat darah rakyat Surabaya bergolak. Ditambah lagi sebuah pesawat Sekutu menjatuhkan selebaran yang isinya menuntut rakyat Surabaya menyerahkan seluruh senjata yang mereka rebut dari Jepang.
“Barang siapa membangkan
g akan dihukum mati!” demikian bunyi selebaran itu.
Segera Bung Tomo lewat “Radio Pemberontakan” mengobarkan semangat pemuda Surabaya dan mengajak mereka bersatu melawan Sekutu. Akhirnya pertempuran sengitpun tak terelakkan. Berkat pidato Bung Tomo, rakyat Surabaya mendapat bantuan dari rakyat sekitarnya untuk mempertahankan kedaulatan kota Surabaya. Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran tanggal 29 Oktober 1945 itu.
Pada tanggal 9 November 1945, sekali lagi tentara sekutu mengeluarkan perintah agar pemuda-pemuda Surabaya menyerahkan senjata besok pagi-pagi sekali. Pemuda Surabaya diperintahkan pula meletakkan tangan di atas kepala sebagai tanda menyerah.
Pemuda dan Rakyat Surabaya yang penuh izzah (harga diri) tidak menerima penghinaan ini. Mereka berpedoman “hidup mulia (merdeka) atau mati syahid”. Apalagi pidato Bung Tomo menceritakan untuk berjuang karena Allah dan meminta pertolongan Allah. Barang siapa mati, maka ia akan mati syahid.
Presiden Soekarno pada awalnya tidak menghendaki perang dengan Sekutu. Tapi kemudian ia menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pemerintah daerah Jawa Timur.
Pada tanggal  9 November jam 11 malam, setelah rapat dengan jajaran pemerintahan daerah Jawa Timur Gubernur Soerjo mengucapkan pidatonya yang terkenal, lewat Radio
Republik Indonesia Surabaya,
“Saudara-saudara sekalian, Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini. Tetapi sayang sekali sia-sia belaka, sehingga semuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri.
Semua usaha kita untuk berunding selalu gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yaitu berani menghadapi segala kemungkinan.
Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita adalah: lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu.
Dalam menghadapi segala kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, dan TKR, Polisi dan semua badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita.
Mari kita semua memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga kita sekalian mendapatkan kekuatan lahir dan batin serta rahmat dan taufik dalam perjuangan.
Selamat berjuang!”
Keesokan harinya yaitu tanggal 10 November 1945 sekutu marah dengan penolakan penyerahan senjata oleh seluruh rakyat Surabaya. Pertempuran hebatpun tak terhindarkan. Surabaya diserang sekutu lewat darat, laut dan udara. Bung Tomo lewat siaran radionya memberi aba-aba untuk mulai memberikan perlawanan t
erhadap sekutu.
Bung Tomo memberi semangat sambil berteriak, “Allahu Akbar!” berkali-kali.
Teriakan ini diikuti oleh para pejuang, “Allahu Akbar!”
Tentara Inggris kecut hatinya. Sekitar 3000 tentara Gurkha yang muslim dipimpin Zia ul Haq (nantinya menjadi presiden Pakistan) melakukan desersi. Mereka menolak memerangi sesama muslim karena ukhuwah islamiyah. Mereka baru tahu Indonesia muslim setelah mendengar teriakan “Allahu Akbar”.
Pertempuran berlangsung selama 5 hari 5 malam. Sekutu menderita kerugian amat banyak. “Pertempuran terdahsyat Sekutu sejak Perang Dunia II,” kata C.C. Mansergh, komandan Sekutu.
Bung Tomo dan Resolusi Jihad
Apakah hanya Bung Tomo tokoh sentral dalam peristiwa Surabaya? Tidak! Di atas tadi sudah disebutkan peranan Gubernur Jawa Timur, Soerjo yang menginstruksikan  kepada Rakyat Surabaya untuk berperang. Ada juga peran Hadratus Syaikh K. H. Hasyim Asy’ari pendiri dan Rais Aam pertama Nahdhatul Ulama. Berdasarkan penuturan orang-orang yang dekat dengan Hadratus Syaikh dikatakan bahwa jauh sebelum peristiwa Surabaya terjadi Bung Tomo sering sowan ke Hadratus Syaikh untuk meminta restu dan dukungan dalam memerangi Belanda, Inggris dan Jepang. (majalah Hikayah, Edisi 10 Th. IV, Desember 2005 hal. 55) Hal ini juga disebutkan oleh Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah jilid 2.
Akhirnya Hadratus Syaikh menjawab tantangan itu setelah menggelar Syuro (Musyawarah) dengan kiai-kiai sepuh NU yang lain juga dengan pemuda-pemuda NU yang bergabung dalam Anshor Nahdhatul Ulama dengan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad Nahdhatul Ulama tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad memutuskan bahwa perang melawan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia dan Inggris yang membantunya sebagai jihad fi sabilillah dan wajib bagi segenap umat Islam. Mati dalam melakukan perang ini adalah mati syahid.
Kemudian dalam Kongres Umat Islam (Muktamar Umat Islam) tgl 7 November di Yogyakarta menghasilkan resolusi 60 miljoen umat Islam siap berjihad fi sabilillah dan mendukung rsolusi Jihad Nahdhatul Ulama.
Bung Tomo pun menjadi bertambah semangatnya untuk berperang melawan sekutu dan NICA Belanda yang meboncengnya. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari memerintahkan kepada Bung Tomo agar jangan melakukan perang besar-besaran kepada sekutu sebelum datangnya pemimpin Pondok Pesantren BUntet, Cirebon yaitu KH Abbas dan anaknya KH ANas yang dianggap paling ahli dalam kitab Perang Jihad Fi Sabilillah dan diyakini sebagai salah seorang wali. Ternyata KH Abbas, KH Anas dan santri pesantren Buntet tiba di Surabaya sebelum 10 November 1945 sehingga pada peristiwa 10 November 1945 Bung Tomo menjadi yakin untuk melancarkan perang jihad fi sabilillah. Ternyata berkat resolusi jihadiini berbondong-bondong kiai dan santri dan Jawa Tengah, Jaw
a Barat, Banten, Jakarta, apalagi Jawa Timur bergerak menuju Surabaya untuk berpartisipasi dalam Perang Sabil di Surabaya. Ya! Beberapa media massa nasional pada masa itu menyebut perang di Surabaya yang sudah dimulai sejak Oktober 1945 sebagai Perang Sabil atau Perang fi Sabilillah.
Sejak saat itu tanggal 10 November ditetapkan pemerintah RI sebagai hari Pahlawan. Bung Tomo sendiri meninggal (syahid) setelah mengalami kemerdekaan selama 36 tahun. Tepatnya tanggal 7 Oktober 1981, di padang Arafah ketika naik haji.
Dipublikasi di Utama | Meninggalkan komentar